BANYAKNYA BUKTI KEBENARAN TIDAK BERMANFAAT BAGI ORANG YANG TIDAK DIBERI HIDAYAH

 Surah Furqan Ayat 26 (25:26 Quran) With Tafsir - My Islam

Mereka juga menyesali perbuatan mereka dengan cara menyalahkan diri mereka sendiri, seraya mengatakan ;

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul".
« Al-Furqan 26

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

 Andaikata kami dahulu mau mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu),  niscaya kami tidaklah termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala [al-Mulk/67:10]

✍🏻 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

"Jangan heran terhadap banyaknya dalil kebenaran dalam keadaan mayoritas orang tidak mengetahuinya. Memang, dalil-dalil kebenaran itu sesungguhnya banyak. Namun, Allah memberi hidayah menuju jalan yang lurus hanya untuk orang-orang yang Dia kehendaki."

📚 Dar-ut Ta’arudh al-’Aqli wan Naql, jilid 7 hlm. 85

https://almanhaj.or.id/25739-hanya-satu-jalan-menuju-allah-azza-wa-jalla-2.html

Share:

TAFSIR SURAT LUQMAN AYAT 21

 Al-Qur'an Surat Luqman Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahan Indonesia -  SINDOnews Kalam

: وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُوا۟ بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۚ أَوَلَوْ كَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ

Arab-Latin: Wa iżā qīla lahumuttabi'ụ ma anzalallāhu qālụ bal nattabi'u mā wajadnā 'alaihi ābā`anā, a walau kānasy-syaiṭānu yad'ụhum ilā 'ażābis-sa'īr

Artinya: Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". Mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?

Luqman 21

📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

20-21. Allah menyebut-nyebut kebaikanNya kepada hamba-hambaNya berupa nikmat-nikmatNya dan mengajak mereka mensyukurinya, melihatnya dan tidak melupakannya, seraya berfirman, “TIdakkah kamu perhatikan.” Maksudnya, tidakkah kalian saksikan dan melihat dengan mata kepala dan hati nurani kalian “bahwa Allah telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit,” berupa matahari, bulan, dan bintang-bintang, semuanya ditundukkan untuk kepentingan manusia”dan apa yang ada di bumi,” berupa bermacam-macam hewan, pepohonan, tanaman, sungai, barang tambang dan lain-lain, sebagaimana yang dikatakan oleh Allah, "Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu" (Al-Baqarah:29).
“Dan menyempurnakan untukmu,” maksudnya, meratakan dan melimpahkanruahkan kepada kalian “nikmatNya lahir dan batin,” yaitu yang kita ketahui dan yang tidak dapat kita ketahui, nikmat dunia dan nikmat agama, tercapainya berbagai kemaslahatan (manfaat) dan tercegahnya berbagai mudarat. Maka kewajian kalian adalah mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dengan cara mencintai Sang Maha Pemberi nikmat, tunduk patuh kepadaNya dan menggunakannya dalam rangka menaatiNya, dan tidak menggunakan sedikit pun untuk kemaksiatan terhadapNya. “Dan” akan tetapi, sekalipun berlimpah ruahnya nikmat tersebut “ada di antara manusia orang,” yang tidak mensyukurinya, bahkan malah mengingkarinya dan mengingkari DZat yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat tersebut, dan mengingkari kebenaran yang karenanya Dia menurunkan kitab-kitab suciNya, dan yang karenanya Dia mengutus para RasulNya.

Maka dia pun mulai “membantah tentang Allah,” maksudnya, ia mendebat tentang kebatilan agar dengannya dia bisa mencampakkan kebenaran, dan agar dapat menolak apa-apa yang dibawa (diajarkan) oleh Rasulullah, yaitu perintah hanya beribadah kepada Allah saja. Dan si pembantah ini tidak mempunyai dasar pengetahuan yang mendalam. Jadi, debat yang dilakukannya tidak berdasarkan ilmu, maka biarkan saja dia begitu dan biarkan dia berbicara, “tanpa petunjuk,” yang dapat dijadikan pedoman oleh orang-orang yang medapat petunjuk, ”dan tanpa Kitab yang memberi penerangan,” maksudnya, yang sangat terang lagi menjelaskan yang benar. Maka tidak ada yang logis, atau nash yang dinukil dan tidak ada keteladanan dengan orang-orang yang mendapat petunjuk. Sesungguhnya debatnya tentang orang yang mendapat petunjuk. Sesungguhnya debatnya tentang Allah hanya berdasarkan taklid buta kepada nenek moyang yang tidak pernah mendapat petunjuk, bahkan orang-orang sesat yang menyesatkan.

Maka dari itu Allah berfirman, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah’,” melalui para RasulNya, karena sesungguhnya itu yang benar, dan (ketika) dijelaskan kepada mereka dalil-dalilnya yang Nampak, “mereka menjawab,” dengan nada menentangnya, “Tidak, tapi kami hanya mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya,” maka kami tidak akan meninggalkan apa yang telah menjadi panutan bapak-bapak kami hanya karena perkataan seseorang, siapa pun dia.
Lalu Allah berfirman seraya membantah mereka dan bapak-bapak mereka, “Dan apakah walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala?” yakni, lalu bapak-bapak mereka memenuhi seruannya dan berjalan mengekor kepadanya, dan mereka menjadi murid-murid setan, dan mereka pun diselimuti oleh kebimbangan. Apakah yang demikian ini berhak untuk diikuti dan ditelusuri jejak nmereka? Ataukah yang demikian itu membuat merek atakut untuk menelusuri jalan mereka dan diserukan akan kesesatan mereka dan kesesatan orang-orang yang mengikutinya? Padahal seruan setan kepada bapak-bapak mereka dan kepada mereka bukan karena kecintaan dan kasih saying setan kepada mereka, akan tetapi sesungguhnya hal itu adalah karena kebencian setan dan tipu muslihatnya terhadap mereka. Sebenarnya para pengikutnya adalah berasal dari musuh-musuhnya yang telah mampu ia taklukkan dan dia kalahkan, dan dia (setan) sangat senang karena mereka berhak mendapat azab api yang menyala-nyala disebabkan seruannya di terima.

📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

Ayat 20-21
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman seraya mengingatkan kepada makhlukNya atas semua nikmatNya kepada mereka di dunia dan akhirat bahwa Dia telah menundukkan bagi mereka apa yang ada di di langit berupa bintang-bintang yang mereka gunakan sebagai penerangan di malam dan siang hari, serta apa yang telah Dia ciptakan di langit berupa awan, hujan, salju dan embun, dan Dia menjadikan langit bagi mereka sebagai atap yang terpelihara. Dan apa yang telah Dia ciptakan bagi mereka bumi berupa tempat tinggal, sungai-sungai, pepohonan, tanam-tanaman, dan buah-buahan. Dia melimpahkan kepada mereka nikmat-nikmatNya secara lahir maupun batin, berupa mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitabNya kepada mereka untuk menyingkirkan keraguan dan penyakit.

 Sekalipun demikian maka tidaklah mereka semua beriman, bahkan di antara mereka ada orang-orang yang membantah tentang keesaan Allah dan pengutusan para rasul. Bantahan mereka tentang hal itu tidak berdasarkan pengetahuan, tidak bersandarkan kepada hujjah yang benar, dan tidak berdasarkan kitab yang ada dan benar. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa ta'ala: (Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan) yaitu yang jelas dan terang (Dan apabila dikatakan kepada mereka) yaitu, kepada mereka yang membantah tentang keesaan Allah (Ikutilah apa yang diturunkan Allah) yaitu kepada RasulNya berupa syariat yang disucikan (Mereka menjawab, "(Tidak), tetapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”) yaitu tidak ada hujjah bagi mereka melainkan hanya mengikuti jejak bapak-bapak mereka yang terdahulu. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman: ((Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?) (Surah Al-Baqarah: 170) yaitu, Wahai orang-orang yang berhujjah, apakah kalian tetap mengikuti perbuatan nenek moyang kalian meskipun mereka berada dalam kesesatan, lalu kalian menjadi generasi penerus bagi mereka dalam kesesatan itu? Oleh karena itu Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman: (Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?)

Referensi : https://tafsirweb.com/7505-surat-luqman-ayat-21.htm

Share:

SHALAWAT SESUAI SUNNAH

 10 Sholawat Nabi Lengkap: Arab, Latin ...

Dari Ka’ab bin ‘Ujroh, beliau mengatakan,
“Wahai Rasulullah, kami sudah mengetahu bagaimana kami mengucapkan

salam padamu. Lalu bagaimana kami bershalawat padamu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapkanlah,

اللَّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shollaita ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid” [Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan

kerabatnya karena engkau memberi shalawat kepada kerabat Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia]

(Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam no. 56. Syaikh Al Albani mengomentari bahwa sanad hadits ini shohih)

[3] Dalam riwayat Bukhari no. 3370 terdapat lafazh shalawat sebagai berikut,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shollaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama barokta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid.”

[Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kerabatnya karena engkau memberi shalawat kepada Ibrahim dan kerabatnya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Ya Allah, berilah keberkahan kepada Muhammad dan kerabatnya karena engkau memberi keberkahan kepada Ibrahim dan kerabatnya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia]

Itulah bacaan shalawat yang dapat kita amalkan dan hendaknya kita mencukupkan diri dengan shalawat yang telah diajarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.

@sunnahfiqih

https://rumaysho.com/203-perbanyaklah-shalawat-di-hari-jumat.html

Share:

MENJADIKAN "AHLI AGAMA" SEBAGAI SESEMBAHAN SELAIN ALLAH

Mengenal Syirik Khafi dan Jali, Simak ...

Ketika mendengar ayat ini dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, sahabat Adi bin Hatim rodhiyallohu ‘anhu yang dulu beragama nasrani berkata, “Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka”. Kemudian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bukankah mereka mengharamkan yang Alloh halalkan kemudian kalian ikut mengharamkannya, dan mereka menghalalkan yang Alloh haramkan kemudian kalian ikut menghalalkannya?” Kemudian sahabat Adi bin Hatim rodhiyallohu ‘anhu menjawab, “Ya!” Rosululloh berkata, “Itulah bentuk peribadatan kalian kepada mereka.”
(HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Inilah yang disebut syirik dalam ketaatan.

Oleh karena itu, Syaikh Muhammad At-Tamimy rohimahulloh Ta’ala memasukan hadits di atas dalam Kitab Tauhid karya beliau pada bab: Barang siapa yang menaati ulama dan pemimpin dalam mengharamkan yang dihalalkan oleh Alloh dan menghalalkan yang diharamkan oleh Alloh, maka dia telah menjadikannya sebagai tuhan-tuhan selain Alloh.

Sumber: https://muslim.or.id/229-menjadikan-kyai-sebagai-sesembahan-selain-allah.html
__

Share:

BENARKAH SAAT TASYAHUD DALAM SHOLAT MAKA ARAH MATA SELALU DIARAHKAN KE JARI TELUNJUK DAN BUKAN KE TEMPAT SUJUD ?

 
ﺑِﺴْـــــــــــــــﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ  
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ


By: Berik Said

Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka simaklah dua hadits berikut :

Hadits Pertama
Saat menceritakan cara duduk tasyahud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka  IBNU 'UMAR rodhiallohu ‘anhuma berkata :

وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ الَّتِى تَلِى الإِبْهَامَ فِى الْقِبْلَةِ وَرَمَى بِبَصَرِهِ إِلَيْهَا

"Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanannya, dan beliau berisyarat dengan jari telunjuk ke arah kiblat, serta MENGARAHKAN PANDANGAN MATANYA KEPADANYA (TELUNJUK TERSEBUT).
HR. Nasa'i no.1160, dll. Kata al Albani rohimahulloh dalam Shohih Nasa'i (1159) : 'hasan shohih'.

Hadits Kedua
Sementara itu ‘ABDULLAH BIN ZUBAIR rodhiallohu ‘anhu menceritakan:

أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ كان يشيرُ بإصبعِه لا يجاوزُ بصرُه إشارتَه

"Bahwasanya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam (saat duduk tasyahud -pent) beliau mengisyaratkan jari telunjuknya dan PANDANGAN MATA BELIAU TIDAK MELEBIHI ISYARAT JARI TELUNJUKNYA   tersebut".
(HR. Nasa'i no. 1275, dll. Kata al Albani rohimahulloh dalam Shohih Nasa'i (1274): 'hasan shohih'.)

BEBERAPA KESIMPULAN DARI DUA HADITS DI ATAS

Dari hadits-hadits di atas dapat disimpulkan bahwa saat tasyahud maka hendaklah:

•Letakkan telapak tangan di atas PAHA yang kanan, dan telapak kanan yang kiri di atas PAHA yang kiri;

•Boleh pula meletakkan tangan di atas LUTUT;

3) Setelah itu jari telunjuk segerah diisyaratkan;

4) Selama tasyahud, maka mata bukan lagi mengarah ke tempat sujud tetapi MELIHAT JARI TELUNJUK tadi, dan pandangan mata tidak melampaui ujung jari telunjuk tersebut.

Walhamdu lillaahi robbil 'aalamiin, wa shollalloohu 'alaa Muhammmadin

•┈┈┈•❒ MENITI JALAN SELAMAT ❒•┈┈┈•

Share:

Tafsir Maryam 19:30

Detail Surat Maryam Ayat 30 Koleksi ...

Allah ta'ala berfirman,
 
قَالَ إِنِّي عَبۡدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِيَ ٱلۡكِتَٰبَ وَجَعَلَنِي نَبِيّٗا

Artinya:
Berkata ʻIsa, "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,

Tafsir As-Sa'di:
Pada saat itulah, Isa putra Maryam mengatakan (pada-hal dia bayi yang berada di ayunan), إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (Injil), dan Dia menjadikanku seorang nabi." Isa menerangkan kepada mereka dengan menggunakan predikat 'hamba', dan bahwa dia tidak memiliki sifat yang membuatnya pantas menjadi tuhan, atau anak tuhan. Mahatinggi Allah dari perkataan orang-orang Nasrani yang menyelisihi perkataan Isa dalam pernyataannya إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ "Sesungguhnya aku ini hamba Allah," sementara itu, mereka mengaku-ngaku mengikuti Nabi Isa.  آتَانِيَ الْكِتَابَ "Dia memberiku al-Kitab (Injil)." Allah telah menetapkan akan memberikan al-Kitab kepadaku وَجَعَلَنِي نَبِيًّا "dan Dia menjadikanku seorang nabi," lalu dia memberitahukan kepada mereka bahwa dirinya itu hamba Allah, dan bahwa Allah telah mengajarinya sebuah kitab dan memasukkannya ke dalam golongan para nabi. Ini adalah penjelasan Isa tentang kesempurnaan dirinya.

Tafsir Maryam 19:31

Allah ta'ala berfirman,
 
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنتُ وَأَوۡصَٰنِي بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ مَا دُمۡتُ حَيّٗا

Artinya:
dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;

Tafsir Al-Muyassar:
Dia juga menjadikan aku sebagai orang yang besar kebaikan dan manfaatnya di mana pun aku berada. Dia berpesan kepadaku supaya menjaga shalat dan menunaikan zakat selama aku masih hidup.

.
📷 @ittiba.id

Share:

KONSEKUENSI DAN TANDA CINTA KEPADA RASULULLAH ﷺ

 Mencintai Nabi Muhammad SAW - sigit ...

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah wa ba'du.

Konsekuensi dan tanda-tanda cinta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

1. Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharuskan adanya pengagungan, memuliakan, meneladani beliau dan mendahulukan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam atas segala ucapan makhluk serta mengagungkan Sunnah-Sunnahnya.

2. Mentaati apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan.

Allah memerintahkan setiap Muslim dan Muslimah untuk taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena dengan taat kepada beliau menjadi sebab seseorang masuk Surga.

Kita wajib mentaati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menjalankan apa yang diperintahkannya dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Hal ini merupakan konsekuensi dari syahadat (kesaksian) bahwa beliau adalah Rasul (utusan) Allah. Dalam banyak ayat Al-Quran, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk mentaati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya ada yang diiringi dengan perintah taat kepada Allah, sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya." [QS. An-Nisaa: 59]

Tekadang pula Allah mengancam orang yang mendurhakai RasulNya, sebagaimana dalam firmanNya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Maka hendaklah orang-orang yang melanggar perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa azab yang pedih." [QS. An-Nuur: 63]

Artinya hendaknya mereka takut jika hatinya ditimpa fitnah kekufuran, nifaq, bid’ah atau siksa pedih di dunia, baik berupa pembunuhan, had, pemenjaraan atau siksa-siksa lain yang disegerakan. [Tafsiir Ibnu Katsir (III/338), cet. Darus Salam]

Allah telah menjadikan ketaatan dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sebab hamba mendapatkan kecintaan Allah dan ampunan atas dosa-dosanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan ketaatan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai petunjuk dan mendurhakainya sebagai suatu kesesatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

"Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk." [QS. An-Nuur: 54]

Allah mengabarkan bahwa pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat teladan yang baik bagi segenap umatnya. Allah berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah." [QS. Al-Ahzaab: 21]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Ayat yang mulia ini adalah pokok yang agung tentang meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai perkataan, perbuatan dan perilakunya. Untuk itu, Allah Tabaraka wa Ta'ala memerintahkan manusia untuk meneladani sifat sabar, keteguhan, kepahlawanan, perjuangan dan kesabaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menanti pertolongan dari Rabbnya Azza wa Jalla ketika perang Ahzaab. Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat dan salam kepada beliau hingga hari Kiamat." [Tafsiir Ibni Katsir (III/522-523), cet. Daarus Salaam]

3. Membenarkan apa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berkata menurut hawa nafsunya.

4. Menahan diri dari apa yang dilarang dan dicegah oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." [QS. Al-Hasyr: 7]

5. Beribadah sesuai dengan apa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam syariatkan, atau dengan kata lain ittiba’ kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Agama Islam sudah sempurna, tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengajarkan umat Islam tentang bagaimana cara yang benar dalam beribadah kepada Allah, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan semuanya. Oleh karena itu, umat Islam wajib ittiba kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mereka mendapatkan kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kejayaan dan dimasukkan ke dalam SurgaNya.

Ittiba kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumnya adalah wajib, dan ittiba menunjukkan kecintaan seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS. Ali-Imran: 31]

Berkata Imam Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H): "Ayat ini adalah pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah namun tidak mau menempuh jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang itu dusta dalam pengakuannya tersebut hingga ia mengikuti syariat dan agama yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan dan perbuatannya." [Tafsiir Ibni Katsiir (I/384), cet. Daarus Salam]

Di antara tanda cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan mengamalkan Sunnahnya, menghidupkan, dan mengajak kaum Muslimin untuk mengamalkannya, serta berjuang membela As-Sunnah dari orang-orang yang mengingkari As-Sunnah dan melecehkannya.

Termasuk cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menolak dan mengingkari semua bentuk bid’ah, karena setiap bid’ah adalah sesat. Sebagian contoh-contoh bid’ah yang masih dilakukan kaum Muslimin seperti: Perayaan dan peringatan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, perayaan Isra’ Mi’raj, tawassul dengan orang mati, membangun kubur, dan yang lainnya. Semua ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya.

[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Quran dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa]

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

💻 Sumber: https://almanhaj.or.id/2337-konsekuensi-dan-tanda-tanda-cinta-kepada-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html

••••••✿❃❃⭑⭑❃❃✿••••••

💎 Permata Sunnah

Barakallahu Fiikum

Share:

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

LISTEN QURAN

Listen to Quran

Popular Posts

Blog Archive

Recent Posts

Pages