Setelah saya membaca tulisan orang yang saya SS, dia berpendapat bahwa mayoritas ulama madzhab yang 4 membolehkan isbal dan tidak diharamkan kalau isbal tidak sombong.
Perhatikan dalil yang dipakai sebagai pembenaran bolehnya isbal kalau tidak sombong.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلاَّ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ. (رواه البخاري).
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahawasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang menyeret bajunya (karena kepanjangan sampai menyentuh tanah), karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat. Berkata Abu Bakar : “ Sesungguhnya sarungku itu selalu melorot (karena kurusnya badan), kecuali kalau saya membenarkan lagi letaknya (mengikat keras-keras dan mengankat ke atas)." Apakah diancam dengan tindakan sebagaimana di atas itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: "Sesungguhnya anda tidak termasuk golongan orang yang melakukan semacam itu dengan kesombongan. (HR. Bukhari dan Muslim).
Lihatlah bagaimana Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berusaha untuk menaikkan kainnya yang senantiasa melorot, bukan dengan sengaja dia memanjangkan kainnya.
Coba bandingkan dengan kebanyakan orang-orang sekarang, yang mengatakan yang penting tidak sombong. Padahal mereka menyengaja mengukur kainnya, celananya atau baju gamisnya di penjahit dengan ukuran di bawah mata kaki. Atau dia membeli kain atau celananya di bawah mata kaki dan tidak berusaha untuk memotongnya atau menaikkannya sampai di atas mata kaki.
Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhu, beliau berusaha menarik kainnya ke atas supaya tidak menutupi mata kakinya, berbeda halnya dengan orang yang sengaja memanjangkan kainnya melebihi mata kaki, karena isbal (memanjangkan kain dibawah mata kaki) itu adalah bentuk KESOMBONGAN. Dan Allah tidak menyukai kesombongan. Perhatikan dalil dan perkataan ulama dibawah ini,
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
لا تسبن أحدا ، ولا تحقرن من المعروف شيئا ، ولو أن تكلم أخاك وأنت منبسط إليه وجهك ، إن ذلك من المعروف ، وارفع إزارك إلى نصف الساق ، فإن أبيت فإلى الكعبين ، وإياك وإسبال الإزار ؛ فإنه من المخيلة ، وإن الله لا يحب المخيلة
“Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah KESOMBONGAN. Dan Allah tidak menyukai kesombongan” (HR. Abu Daud : Hadits Shahih).
Berkata Ibnu Hajar rahimahullah
وحاصله: أن الإسبال يستلزم جرَّ الثوب، وجرُّ الثوب يستلزم الخيلاء، ولو لم يقصد اللابس الخيلاء، ويؤيده: ما أخرجه أحمد بن منيع من وجه آخر عن ابن عمر في أثناء حديث رفعه: ( وإياك وجر الإزار؛ فإن جر الإزار من المخِيلة
“Kesimpulannya, isbal itu pasti menjulurkan pakaian. SEDANGKAN MENJULURKAN PAKAIAN ITU MERUPAKAN KESOMBONGAN, WALAUPUN SI PEMAKAI TIDAK BERMAKSUD SOMBONG. Dikuatkan lagi dengan riwayat dari Ahmad bin Mani’ dengan sanad lain dari Ibnu Umar. Di dalam hadits tersebut dikatakan ‘Jauhilah perbuatan menjulurkan pakaian, karena menjulurkan pakaian itu adalah KESOMBONGAN‘” (Fathul Baari, 10/264)
Berkata Imam Nawawi rahimahullah :
إن الإسبال يكون في الإزار والقميص والعمامة، وإنه لا يجوز إسباله تحت الكعبين إن كان للخيلاء، فإن كان لغيرها فهو مكروه، وظواهر الأحاديث في تقييدها بالجر خيلاء تدل على أن التحريم مخصوص بالخيلاء
Sesungguhnya ISBAL itu tidak boleh pada sarung (kain), gamis dan 'imamah (sorban). Tidak boleh isbal di bawah mata kaki jika sombong, jika tidak sombong maka makruh (dibenci). Secara zhahir hadits-hadits yang ada memiliki pembatasan (taqyid) jika menjulurkan dengan sombong, itu menunjukkan bahwa pengharamannya hanya khusus bagi yang sombong .” (Syarh Shahih Muslim).
Berkata Ibnu Hajar rahimahullah :
وقال النووي: الإسبال تحت الكعبين للخيلاء، فإن كان لغيرها فهو مكروه، وهكذا نص الشافعي على الفرق بين الجر للخيلاء ولغير الخيلاء، قال: والمستحب أن يكون الإزار إلى نصف الساق، والجائز بلا كراهة ما تحته إلى الكعبين، وما نزل عن الكعبين ممنوع منع تحريم إن كان للخيلاء وإلا فمنع تنزيه، لأن الأحاديث الواردة في الزجر عن الإسبال مطلقة فيجب تقييدها بالإسبال للخيلاء انتهى
Berkata An Nawawi: “Isbal dibawah mata kaki dengan sombong (haram hukumnya), jika tidak sombong maka makruh. Demikian itu merupakan pendapat Asy Syafi’i tentang perbedaan antara menjulurkan pakaian dengan sombong dan tidak dengan sombong. Dia berkata: Disukai memakai kain sarung sampai setengah betis, dan boleh saja tanpa dimakruhkan jika dibawah betis sampai mata kaki, sedangkan di bawah mata kaki adalah dilarang dengan pelarangan haram jika karena sombong, jika tidak sombong maka itu larangan (makruh) tanzih. Karena hadits-hadits yang ada yang menyebutkan dosa besar bagi pelaku isbal adalah hadits mutlak (umum), maka wajib mentaqyidkan (mengkhususkan/membatasinya) hadits itu adalah karena isbal yang dimaksud jika disertai khuyala (sombong). Selesai.” (Fathul Bari).
Hadits yang sangat jelas menerangkan tentang memakai kain mesti di atas mata kaki dan ancaman yang keras bagi orang yang memakainya melebihi mata kaki.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ. (رواه البخاري).
Apa yang dibawah kedua mata kaki dari sarungnya, maka di dalam neraka. (HR. Bukhari).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ » قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ
"Ada tiga macam orang yang tidak diajak bicara oleh Allah, tidak pula dilihat olehNya, tidak pula disucikan olehNya dan mereka itu akan mendapatkan siksa yang sangat pedih." Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kalimat di atas itu sampai tiga kali. Abu Zar kemudian berkata: "Mereka itu merugi serta menyesal sekali. Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?" Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Yaitu orang yang MEMANJANGKAN KAINNYA (melebihi mata kaki), orang yang mengungkit-ngungkit pemberiannya, dan dagangannya menjadi laku karena bersumpah palsu." (HR. Muslim).
Kesimpulannya, tidak benar klaim bahwa mayoritas ulama membolehkan isbal dan tidak benar pula, bahwa kalau tidak sombong tidak apa-apa menjulurkan kainnya dibawah mata kaki, karena isbal adalah bentuk kesombongan berdasarkan dalil dan perkataan ulama yang saya kutip di atas.
AFM
Copas dari berbagai sumber
Home »
» ISBAL TIDAK SOMBONG?








No comments:
Post a Comment