Sifat Tangan bagi Allah

Memahami Sejarah Jazirah Arab Sebelum ...

Pertanyaan:

Ustadz, mohon penjelasan tentang sifat tangan bagi Allah. Apakah benar bahwa Allah memiliki tangan? Bukankah ini termasuk tajsim (menyamakan Allah dengan makhluk)?

Jawaban:

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du.

Ahlussunnah mengimani bahwa Allah ta’ala memiliki nama-nama yang Husna (paling indah) dan sifat-sifat yang ‘ula (paling tinggi). Allah ta’ala berfirman yang artinya:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Hanya milik Allah nama-nama yang husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya” (QS. Al-A’raf: 180).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan Allah subhanahu wa ta’ala memiliki Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalah-artikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS. al-A’raf: 180).

Dan Ahlussunnah mengimani semua nama-nama dan sifat-sifat Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan hadits yang shahih apa adanya sesuai dengan makna hakikinya yang layak bagi Allah ta’ala. Tanpa menolaknya dan tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk. Ini adalah akidah seluruh ulama Ahlussunnah tanpa ada perselisihan.

Dari Walid bin Muslim rahimahullah (wafat tahun 195 H), dia berkata, 

قال سألت مالك بن أنس و سفيان الثوري و الليث بن سعد و الأوزاعي عن الأخبار التي جاءت في الصفات فقالوا أمروها كما جاءت بلا كيف

“Aku pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas, Sufyan Ats-Tsauri, Al-Laits bin Sa’d, Al-Auza’i tentang dalil yang berbicara tentang sifat-sifat Allah. Lalu mereka semua memerintahkan untuk mengimaninya sebagaimana adanya, tanpa membagaimanakannya” (Syarhus Sunnah Al-Baghawi, hal 177/I).

Ibnu Abdil Barr rahimahullah mengatakan:

أهلُ السُّنَّةِ مُجمِعون على الإقرارِ بالصِّفاتِ الواردةِ كُلِّها في القُرآنِ والسُّنةِ، والإيمانِ بها، وحمْلِها على الحقيقةِ لا على المجازِ، إلَّا أنَّهم لا يكَيِّفون شيئًا من ذلك، ولا يَحُدُّون فيه صفةً محصورةً

“Ahlussunnah sepakat untuk menetapkan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah semuanya, dan mengimani semuanya, serta memaknainya secara hakiki bukan secara majas. Namun Ahlussunnah tidak mendeskripsikan sifat-sifat tersebut sama sekali dan tidak membatasi dengan sifat-sifat tertentu” (At-Tamhid, 7/145).

Imam Malik rahimahullah berkata:

 إيَّاكم والبِدَعَ، قيل: وما البِدَعُ؟ قال: (أهلُ البِدَعِ هم الذين يتكَلَّمونَ في أسْماءِ اللهِ وصِفاتِه وكَلامِه وعِلْمِه وقُدرتِه، ولا يَسكُتونَ عَمَّا سَكَت عنه الصَّحابةُ والتَّابِعونَ لهم بإحسانٍ

“Jauhilah bid’ah!”. Lalu ada yang bertanya, “Wahai Abu Abdillah (Imam Malik), bid’ah itu apa?”. Beliau menjawab, “Ahlul bid’ah adalah orang-orang yang berbicara masalah nama Allah, sifat Allah, kalam Allah, ilmu Allah dan qudrah Allah, namun mereka berkata-kata dalam hal tersebut yang tidak pernah dikatakan oleh para sahabat dan tabi’in” (Ahadits fi Dzammil Kalam, karya Al-Muqri’, hal. 82).

Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tidak Berarti Menyerupakan Allah dengan Makhluk

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa orang-orang yang menolak untuk menetapkan sifat-sifat Allah apa adanya akan terjerumus pada dua kebatilan:

Pertama, secara tidak langsung mereka menuduh bahwasanya ayat-ayat Al-Qur’an itu kontradiktif. Karena sebagiannya menetapkan sifat-sifat bagi Allah termasuk sifat tangan, mata dan kaki. Dan sebagiannya menafikan keserupaan Allah dengan makhluk. Jika menetapkan sifat-sifat di atas termasuk tajsim, maka sama saja menuduh Al-Qur’an kontradiktif.

Kedua, adanya kesamaan nama atau sifat pada dua hal tidak berkonsekuensi dua hal tersebut sama dan serupa. Contohnya Anda melihat dua orang A dan B yang sama-sama mendengar, melihat dan berbicara. Namun tidak berarti pendengaran A dan B sama, tidak berarti penglihatan A dan B sama, tidak berarti kemampuan bicara A dan B sama. Jika demikian perbedaan yang terjadi pada dua makhluk, maka perbedaan antara makhluk dengan Allah lebih besar lagi (Nubdzah fil Aqidah al-Islamiyah, hal. 27-28).

Maka jelas bahwa menetapkan nama dan sifat Allah apa adanya secara hakiki, bukanlah menyerupakan Allah dengan makhluk. Nu’aim bin Hammad rahimahullah mengatakan:

من شبه الله بخلقه فقد كفر، ومن جحد ما وصف الله به نفسه فقد كفر، وليس ما وصف الله نفسه ورسوله تشبيهاً

“Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia kufur. Siapa yang menolak menetapkan sifat yang Allah tetapkan untuk dirinya, maka dia kufur. Namun menetapkan sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya, bukanlah menyamakan Allah dengan makhluk” (Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah karya Al-Lalikai, 3/532).

Sifat Tangan bagi Allah

Demikian juga tentang sifat tangan bagi Allah. Al-Qur’an, hadits-hadits yang shahih dan ijma’ ulama menyatakan Allah ta’ala memiliki sifat tangan. Maka wajib kita mengimaninya apa adanya sesuai yang ada di dalam Al-Qur’an dan hadits shahih, dengan makna tangan yang layak bagi keagungan Allah, dan tanpa mendeskripsikan bagaimana tangan Allah. Dan menetapkan sifat tangan bagi Allah sama sekali tidak termasuk menyerupakan Allah dengan makhluk.

Dalil-dalil Al-Qur’an yang menunjukkan sifat tangan bagi Allah di antaranya, Allah ta’ala berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ

“Dan orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu, padahal kedua tangan Allah terbuka lebar; Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki” (QS. Al-Maidah: 64).

Allah ta’ala berfirman:

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ

“Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku (yaitu Adam). Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?” (QS. Shad: 75).

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman tangan-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan” (QS. Az-Zumar: 67).

Allah ta’ala berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Mahasuci Allah yang di tangan-Nya lah (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu” (QS. Al-Mulk: 1).

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Katakanlah, “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan segala sesuatu. Dia melindungi, dan tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab-Nya), jika kamu mengetahui?”” (QS. Al-Mukminun: 88).

Allah ta’ala berfirman:

 قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

 “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah semua kebaikan. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Ali Imran: 26).

 Allah ta’ala berfirman:

 أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ

“Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah menciptakan hewan ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan tangan-tangan Kami, lalu mereka menguasainya?” (QS. Yasin: 71).

Adapun dalil-dalil dari hadits lebih banyak lagi. Di antaranya, hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

يمينُ الرحمن ملأى سحَّاءُ لا يغيضُها اللَّيلَ والنَّهارَ، قالَ: أرأيتُم ما أنفقَ منذُ خلقَ السَّماواتِ، فإنَّهُ لم يغِضْ ما في يمينِهِ، وعرشُهُ على الماءِ، وبيدِهِ الأخرى الميزانُ يخفِضُ ويرفعُ

“Tangan kanan Ar-Rahman penuh dengan karunia yang tak akan pernah berkurang karena siang maupun malam. Tahukah kalian apa saja yang telah diberikan-Nya sejak diciptakannya langit dan bumi? Sesungguhnya dengan semua itu, karunia yang ada di tangan kananNya tidak berkurang. Dan ‘Arsy-Nya ada di atas air. Dan tangan-Nya yang lain terdapat timbangan yang terkadang naik dan terkadang turun” (HR. Al-Bukhari no. 4684, Muslim no. 993).

Hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

تَكُونُ الْأَرْضُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ خُبْزَةً وَاحِدَةً يَتَكَفَّؤُهَا الْجَبَّارُ بِيَدِهِ كَمَا يَكْفَأُ أَحَدُكُمْ خُبْزَتَهُ فِي السَّفَرِ نُزُلًا لِأَهْلِ الْجَنَّةِ

“Pada hari kiamat bumi bagaikan sekeping roti. Kemudian Allah Al Jabbar membolak-baliknya dengan tangan-Nya sebagaimana salah seorang di antara kalian bisa memutar-mutar rotinya dalam perjalanan safar. Untuk diberikan kepada para penghuni surga (di padang mahsyar)” (HR. Al-Bukhari no. 6520, Muslim no. 2793).

Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَا تَصَدَّقَ أَحَدٌ بِصَدَقَةٍ مِنْ طَيِّبٍ، وَلَا يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا الطَّيِّبَ، إِلَّا أَخَذَهَا الرَّحْمَنُ بِيَمِينِهِ وَإِنْ كَانَتْ تَمْرَةً

“Tidaklah salah seorang dari kalian bersedekah dengan harta yang baik, dan memang Allah hanya menerima dari yang baik, kecuali pasti Allah Ar-Rahman akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya, walaupun berupa sebutir kurma” (HR. Al-Bukhari no. 1410, Muslim no. 1014).

Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

احتجَّ آدمُ وموسى، فقال موسى: يا آدمُ، أنتَ أبونا، خيَّبْتَنا وأخرجْتَنا منَ الجنَّةِ، فقالَ لَهُ آدمُ: أنتَ موسَى، اصطفاكَ اللهُ بِكَلامِهِ، وخطَّ لَكَ بيدِه

“Nabi Adam pernah mengalahkan hujjah Nabi Musa. Nabi Musa mengatakan: Wahai Adam, engkau adalah bapak kami, engkau telah membuat kami sengsara dan telah membuat kami (manusia) dikeluarkan dari surga! Nabi Adam mengatakan: Engkau adalah Musa, Allah telah memilihmu untuk diajak bicara langsung, dan Allah telah menulis dengan tangan-Nya untukmu” (HR. Muslim no. 2652).

Hadits dari Abu Musa radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إِن اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِالليْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ الليْلِ حَتى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sungguh, Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di siang hari. Dan Allah membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di malam hari. Sampai matahari terbit dari barat” (HR. Muslim no. 2759).

Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, yaitu hadits panjang tentang syafa’at, di dalamnya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

فيأتونَ آدمَ فيقولونَ: أنتَ أبو البشرِ، خلقَكَ اللَّهُ بيدِهِ ونفخَ فيكَ من روحِهِ، وأمرَ الملائِكةَ فسجدوا لَكَ، اشفع لنا إلى ربِّكَ

“Kemudian manusia mendatangi Nabi Adam, dan mengatakan: Wahai Adam, engkau adalah bapaknya para manusia. Allah ciptakan engkau langsung dengan tangan-Nya. Dan ditiupkan padamu ruh dari-Nya. Dan Allah memerintahkan para Malaikat untuk sujud kepadamu. Berikanlah kami syafa’at dari Rabb-mu” (HR. Al-Bukhari no. 4712, Muslim no. 194).

Hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, ia berkata:

جَاءَ حَبْرٌ إلى رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقالَ: يا مُحَمَّدُ، إنَّ اللَّهَ يَضَعُ السَّمَاءَ علَى إصْبَعٍ، والأرْضَ علَى إصْبَعٍ، والجِبَالَ علَى إصْبَعٍ، والشَّجَرَ والأنْهَارَ علَى إصْبَعٍ، وسَائِرَ الخَلْقِ علَى إصْبَعٍ، ثُمَّ يقولُ بيَدِهِ: أنَا المَلِكُ، فَضَحِكَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وقالَ: {وَما قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ} [الأنعام: 91].

“Datang seorang pendeta Yahudi kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Ia berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah akan meletakkan langit di satu jari-Nya, dan meletakkan bumi di satu jari-Nya, dan gunung-gunung semuanya di satu jari-Nya, dan pohon-pohon serta sungai-sungai semuanya di satu jari-Nya, dan seluruh makhluk-Nya diletakkan di satu jarinya. Kemudian Allah berisyarat dengan tangan-Nya sambil berfirman: Akulah Raja Diraja!”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pun tertawa kemudian membacakan ayat: “Sungguh mereka (Ahluk Kitab) tidak menempatkan Allah sesuai dengan hak-Nya” (QS. Al-An’am: 91)” (HR. Al-Bukhari no. 7451, Muslim no. 2786).

Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

يقبِضُ اللهُ الأرضَ، ويَطوي السَّماواتِ بيَمينِه، ثمَّ يقولُ: أنا الملِكُ، أين مُلوكُ الأرضِ؟

“Allah ta’ala mengenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Kemudian mengatakan: Aku adalah Raja Diraja! Dimana para raja dunia?” (HR. Al-Bukhari no. 4812, Muslim no. 2787).

Hadits Umar bin Khathab radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ اللهَ عز وجل خلق آدمَ، ثم مسح ظهرَه بيمينِه، فاستخرج منه ذريةً

“Sesungguhnya Allah azza wa jalla menciptakan Adam. Kemudian Allah mengusap punggung Nabi Adam dengan tangan kanan-Nya. Kemudian keluarlah darinya anak keturunannya” (HR. Abu Daud no. 4703, At-Tirmidzi no. 3075, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).

Hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ، الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

“Orang-orang yang adil (shalih) di sisi Allah akan berada di mimbar-mimbar dari cahaya di tangan kanan Allah azza wa jalla. Dan kedua tangan Allah adalah tangan kanan. Mereka adalah orang-orang yang berbuat keadilan dalam memutuskan hukum di antara mereka, di keluarga mereka dan kepada orang yang menjadi tanggungan mereka” (HR. Muslim no. 1827).

Hadits dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ شَيْءٍ خَلَقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْقَلَمُ، وَأَخَذَهُ بِيَمِينِهِ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ

“Sesungguhnya yang pertama kali Allah ‘azza wa jalla ciptakan adalah al qalam (pena pencatat takdir). Kemudian Allah ambil pena itu dengan tangan kanan-Nya. Dan kedua tangan Allah adalah tangan kanan”. (HR. Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah no. 542, dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 3136).

Inilah beberapa dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang tegas menetapkan sifat tangan bagi Allah ta’ala. Dalil-dalil yang disebutkan di atas hanya sebagiannya saja, masih banyak dalil-dalil yang lainnya.

Kesepakatan Ulama 

Akidah bahwa Allah ta’ala memiliki tangan yang mulia yang sesuai dengan keagungan Allah ta’ala dan tidak serupa dengan tangan makhluk, ini adalah akidah yang diyakini kesepakatan salafus shalih dan para ulama Ahlussunnah semuanya. Tanpa ada perselisihan di antara mereka.

Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah mengatakan:

وأجمعوا على أنه عزَّ وجلَّ يسمع ويرى، وأنَّ له تعالى يدين مبسوطتين

“Para ulama sepakat bahwa Allah ‘azza wa jalla mendengar dan melihat. Dan Allah ta’ala memiliki dua tangan yang terbuka lebar” (Risalah ila Ahlits Tsughur, hal. 225).

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga mengatakan:

لله تبارك وتعالى أسماء وصفات جاء بها كتابه، وأخبر بها نبيه صلى الله عليه وسلم أمَّته…، وأن له يدين بقوله: ﴿بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ﴾، وأن له يمينًا بقوله: ﴿وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ﴾

“Allah tabaraka wa ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat sebagaimana yang ada dalam Al-Qur’an. Dan sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi-Nya shallallahu’alaihi wa sallam kepada umatnya … dan bahwa Allah ta’ala memiliki dua tangan. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya) “Bahkan kedua tangan Allah terbuka lebar” (QS. Al-Maidah: 64), dan bahwasanya Allah memiliki tangan kanan, berdasarkan firman-Nya (yang artinya) “Langit digulung dengan tangan kanan-Nya” (QS. Az-Zumar: 67).” (Thabaqat Al-Hanabilah, 1/282).

Abu Bakar Al-Isma’ili rahimahullah mengatakan:

وخلق آدم عليه السلام بيده، ويداه مبسوطتان ينفق كيف يشاء، بلا اعتقاد كيف يداه، إذ لم ينطق كتاب الله تعالى فيه بكيف

“Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissalam dengan tangan-Nya. Dan kedua tangan Allah terbuka lebar, Allah memberi rezeki kepada siapa pun yang Allah kehendaki. Tidak boleh mendeskripsikan detail-detail sifat kedua tangan Allah. Karena Allah tidak sebutkan di dalam Al-Qur’an tentang bagaimana detail-detail sifat tangan-Nya” (I’tiqad Aimmatil Hadits, hal. 51).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

إنَّ لله تعالى يدين مختصتين به، ذاتيتين له، كما يليق بجلاله

“Sesungguhnya Allah ta’ala memiliki dua tangan yang khusus bagi-Nya, keduanya merupakan sifat dzatiyah bagi Allah, sebagaimana tangan yang layak bagi keagungan Allah” (Majmu’ Al-Fatawa, 6/263).

Kesimpulannya, wajib kita imani bahwa Allah ta’ala memiliki tangan yang mulia yang sesuai dengan keagungan Allah ta’ala dan tidak serupa dengan tangan makhluk. Dan menetapkan sifat ini tidaklah termasuk tasybih atau tajsim. 

Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa sallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

*

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.

Share:

ISBAL TIDAK SOMBONG?

Unta: Bukan Sekedar Kapal Padang Pasir ...

Setelah saya membaca tulisan orang yang saya SS, dia berpendapat bahwa mayoritas ulama madzhab yang 4 membolehkan isbal dan tidak diharamkan kalau isbal tidak sombong.
 
Perhatikan dalil yang dipakai sebagai pembenaran bolehnya isbal kalau tidak sombong.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلاَّ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ. (رواه البخاري). 

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahawasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  "Barangsiapa yang menyeret bajunya (karena kepanjangan sampai menyentuh tanah), karena sombong,  Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat. Berkata Abu Bakar : “ Sesungguhnya sarungku itu selalu melorot (karena kurusnya badan), kecuali kalau saya membenarkan lagi letaknya (mengikat keras-keras dan mengankat ke atas)." Apakah diancam dengan tindakan sebagaimana di atas itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: "Sesungguhnya anda tidak termasuk golongan orang yang melakukan semacam itu dengan kesombongan. (HR. Bukhari dan Muslim).   

Lihatlah bagaimana Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berusaha untuk menaikkan kainnya yang senantiasa melorot, bukan dengan sengaja dia memanjangkan kainnya.

Coba bandingkan dengan kebanyakan orang-orang sekarang, yang mengatakan yang penting tidak sombong. Padahal mereka menyengaja mengukur kainnya, celananya atau baju gamisnya di penjahit dengan ukuran di bawah mata kaki. Atau dia membeli kain atau celananya di bawah mata kaki dan tidak berusaha untuk memotongnya atau menaikkannya sampai di atas mata kaki.

Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhu,  beliau berusaha menarik kainnya ke atas supaya tidak menutupi mata kakinya, berbeda halnya dengan orang yang sengaja memanjangkan kainnya melebihi mata kaki, karena isbal (memanjangkan kain dibawah mata kaki) itu adalah bentuk KESOMBONGAN. Dan Allah tidak menyukai kesombongan. Perhatikan dalil dan perkataan ulama dibawah ini,

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

لا تسبن أحدا ، ولا تحقرن من المعروف شيئا ، ولو أن تكلم أخاك وأنت منبسط إليه وجهك ، إن ذلك من المعروف ، وارفع إزارك إلى نصف الساق ، فإن أبيت فإلى الكعبين ، وإياك وإسبال الإزار ؛ فإنه من المخيلة ، وإن الله لا يحب المخيلة

“Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah KESOMBONGAN. Dan Allah tidak menyukai kesombongan” (HR. Abu Daud : Hadits Shahih).

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah

وحاصله: أن الإسبال يستلزم جرَّ الثوب، وجرُّ الثوب يستلزم الخيلاء، ولو لم يقصد اللابس الخيلاء، ويؤيده: ما أخرجه أحمد بن منيع من وجه آخر عن ابن عمر في أثناء حديث رفعه: ( وإياك وجر الإزار؛ فإن جر الإزار من المخِيلة

“Kesimpulannya, isbal itu pasti menjulurkan pakaian. SEDANGKAN MENJULURKAN PAKAIAN ITU MERUPAKAN KESOMBONGAN, WALAUPUN SI PEMAKAI TIDAK BERMAKSUD SOMBONG. Dikuatkan lagi dengan riwayat dari Ahmad bin Mani’ dengan sanad lain dari Ibnu Umar. Di dalam hadits tersebut dikatakan ‘Jauhilah perbuatan menjulurkan pakaian, karena menjulurkan pakaian itu adalah KESOMBONGAN‘” (Fathul Baari, 10/264)

Berkata Imam Nawawi rahimahullah :

إن الإسبال يكون في الإزار والقميص والعمامة، وإنه لا يجوز إسباله تحت الكعبين إن كان للخيلاء، فإن كان لغيرها فهو مكروه، وظواهر الأحاديث في تقييدها بالجر خيلاء تدل على أن التحريم مخصوص بالخيلاء

Sesungguhnya ISBAL itu tidak boleh pada sarung (kain), gamis dan 'imamah (sorban). Tidak boleh isbal di bawah mata kaki jika sombong, jika tidak sombong maka makruh (dibenci). Secara zhahir hadits-hadits yang ada memiliki pembatasan (taqyid) jika menjulurkan dengan sombong, itu menunjukkan bahwa pengharamannya hanya khusus bagi yang sombong .” (Syarh Shahih Muslim). 

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah :

وقال النووي: الإسبال تحت الكعبين للخيلاء، فإن كان لغيرها فهو مكروه، وهكذا نص الشافعي على الفرق بين الجر للخيلاء ولغير الخيلاء، قال: والمستحب أن يكون الإزار إلى نصف الساق، والجائز بلا كراهة ما تحته إلى الكعبين، وما نزل عن الكعبين ممنوع منع تحريم إن كان للخيلاء وإلا فمنع تنزيه، لأن الأحاديث الواردة في الزجر عن الإسبال مطلقة فيجب تقييدها بالإسبال للخيلاء انتهى 

Berkata An Nawawi: “Isbal dibawah mata kaki dengan sombong (haram hukumnya), jika tidak sombong maka makruh. Demikian itu merupakan pendapat Asy Syafi’i tentang perbedaan antara menjulurkan pakaian dengan sombong dan tidak dengan sombong. Dia berkata: Disukai memakai kain sarung sampai setengah betis, dan boleh saja tanpa dimakruhkan jika dibawah betis sampai mata kaki, sedangkan di bawah mata kaki adalah dilarang dengan pelarangan haram jika karena sombong, jika tidak sombong maka itu larangan (makruh) tanzih. Karena hadits-hadits yang ada yang menyebutkan dosa besar bagi pelaku isbal adalah hadits mutlak (umum), maka wajib mentaqyidkan (mengkhususkan/membatasinya) hadits itu adalah karena isbal yang dimaksud jika disertai khuyala (sombong). Selesai.” (Fathul Bari). 

Hadits yang sangat jelas menerangkan tentang memakai kain mesti di atas mata kaki dan ancaman yang keras bagi orang yang memakainya melebihi mata kaki.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ. (رواه البخاري).

Apa yang dibawah kedua mata kaki dari sarungnya, maka di dalam neraka. (HR. Bukhari).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ » قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ 

"Ada tiga macam orang yang tidak diajak bicara oleh Allah, tidak pula dilihat olehNya, tidak pula disucikan olehNya dan mereka itu akan mendapatkan siksa yang sangat pedih." Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  mengatakan kalimat di atas itu sampai tiga kali. Abu Zar kemudian berkata: "Mereka itu merugi serta menyesal sekali. Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?" Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: "Yaitu orang yang MEMANJANGKAN KAINNYA (melebihi mata kaki), orang yang mengungkit-ngungkit pemberiannya, dan dagangannya menjadi laku karena bersumpah palsu." (HR. Muslim).  

Kesimpulannya, tidak benar klaim bahwa mayoritas ulama membolehkan isbal dan tidak benar pula, bahwa kalau tidak sombong tidak apa-apa menjulurkan kainnya dibawah mata kaki, karena isbal adalah bentuk kesombongan berdasarkan dalil dan perkataan ulama yang saya kutip di atas.

AFM

Copas dari berbagai sumber

Share:

WIRID YA HAYYU YA QAYYUM

 Kenali Raja Gurun Arab Yang Sukar ...

Sebagian orang yang suka mengamalkan amalan bid’ah, mereka mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah (yang mereka katakan beliau adalah ulamanya wahabi, padahal Ibnu Taimiyyah rahimahullah lahir ratusan tahun sebelum syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab rahimahullah, kok dikatakan wahabi?) juga mengamalkan bid’ah, yakni wirid ya hayyu ya qoyyum dari mulai shalat sunnah fajar sampai shalat subuh.

Mereka pun mengutip perkataan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) dalam kitabnya Madarij as-Salikin menjelaskan salah satu hizib kesukaan Ibnu Taimiyyah (w. 728 H):

ومن تجريبات السالكين التي جربوها فألفوها صحيحة: أن من أدمن “يا حي ياقيوم لا إله إلا أنت” أورثه ذلك حياة القلب والعقل. وكان شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه شديد اللهج بها جدا وقال لي يوما: “لهذين الاسمين وهما {الْحَيُّ الْقَيُّومُ} تأثير عظيم في حياة القلب” وكان يشير إلى أنهما الاسم الأعظم وسمعته يقول: “من واظب على أربعين مرة كل يوم بين سنة الفجر وصلاة الفجر” ياحي ياقيوم لاإله إلا أنت برحمتك أستغيث” حصلت له حياة القلب ولم يمت قلبه“.

“Di antara amaliah mujarrab (teruji manfaatnya) yang dilakukan oleh para ahli suluk, yang mereka mencoba dan membacanya secara teratur, bahwa siapa yang sering membaca ‘Ya Hayyu Ya Qayyum Laa Ilaaha illa Anta’ maka hal itu akan menjadikan hati dan akalnya hidup. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah – semoga Allah menyucikan ruhnya – sangat tekun mengamalkan bacaan ini. Suatu hari dia berkata pada saya, ‘Dua nama ini (yaitu al-Hayyu al-Qayyum) memiliki pengaruh hebat dalam hidupnya hati.’ Dia menyebut bahwa keduanya adalah nama teragung. Aku pernah mendengarnya berkata, ‘Barangsiapa secara rutin membaca sebanyak 40 kali, setiap hari, antara sunnah Fajar dan shalat Fajar (Subuh), ‘Ya Hayyu Ya Qayyum Laa Ilaaha illa Anta bi Rahmatika astaghiits’ akan mendapatkan hidupnya hati, dan hatinya tidak mati.”

Apakah yang diperbuat Ibnu Taimiyyah rahimahullah adalah bid’ah, membuat perkara baru dalam agama? Atau ada dasarnya dalam syariat atau ada sunnahnya?

Wirid ya hayyu ya qayyum itu ada dasarnya dalam syariat, bukan karangan, kreasi atau inovasi dari Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Berikut ini dalil tentang wirid ya hayyu ya qayyum. 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada Fatimah (puterinya), “Apa yang menghalangimu untuk mendengar wasiatku atau yang kuingatkan padamu setiap pagi dan petang yaitu ucapkanlah:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

“Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan (Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya).” (HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, An-Nasa’i dalam Al-Kubra, Al-Bazzar dalam musnadnya, Al-Hakim. Sanad hadits ini hasan Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah).

Berkata Anas bin Malik radhiyallahuanhu, 

كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَرَبَهُ أَمْرٌ قَالَ « يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ »

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dapat masalah berat, beliau membaca: Yaa Hayyu Yaa Qayyum, bi rahmatika as-taghiits (Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan). (HR. Tirmidzi. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Dan Berkata Anas bin Malik radhiyallahuanhu,

أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَالِسًا وَرَجُلٌ يُصَلِّى ثُمَّ دَعَا 

Ia pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dalam keadaan duduk lantas ada seseorang yang shalat, kemudian ia berdo’a,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ.

Ya Allah, aku meminta pada-Mu karena segala puji hanya untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Banyak Memberi Karunia, Yang Menciptakan langit dan bumi, Wahai Allah yang Maha Mulia dan Penuh Kemuliaan, YA HAYYU YA QAYYUM.

فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِى إِذَا دُعِىَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى »

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ia telah berdo’a pada Allah dengan nama yang agung di mana siapa yang berdo’a dengan nama tersebut, maka akan diijabahi. Dan jika diminta dengan nama tersebut, maka Allah akan beri.” (HR. Abu Daud no. 1495 dan An-Nasa’i no. 1301. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)."

Tidak sama dengan shalawat Al Fatih, shalawat Sa’adah, shalawat Al In’am atau shalawat Nariyah, adakah dalil teksnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam shalawat-shalawat tersebut? Atau karangan mereka sendiri? Adakah dalilnya tahlilan kematian dengan rangkaian bacaan seperti yang biasa dibaca orang saat tahlilan kematian? 

Sungguh berbeda dengan yang diamalkan Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengamalkan wirid ya hayyu ya qayyum ada dalil dan sunnahnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. 
 
AFM

Copas dari berbagai sumber

Share:

SETELAH KEMATIAN KITA AKAN LEBIH MENGENAL ISTANA KITA DI SURGA

 Masjid Ramadhan ...

📡 Simak kajian selengkapnya:
https://youtu.be/6AxIlC8StY4

Kematian seringkali dianggap sesuatu yang menakutkan. Padahal bagi orang beriman, kematian justru menjadi awal dari kebahagiaan abadi. Kita akan diperlihatkan balasan amal kita, bahkan sebelum ruh berpisah dari jasad.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَن أحَبَّ لِقاءَ اللَّهِ أحَبَّ اللَّهُ لِقاءَهُ، ومَن كَرِهَ لِقاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقاءَهُ.

“Barang siapa senang bertemu dengan Allah, Allah pun senang bertemu dengannya. Dan barang siapa benci bertemu dengan Allah, Allah pun benci bertemu dengannya.” (HR Bukhari: 6507 dan Muslim: 2683).

Aisyah atau sebagian istri Nabi berkata yaitu sesungguhnya kami tidak suka akan kematian. Beliau menjelaskan, bukan itu maksudnya. Seorang mukmin, ketika ajalnya tiba, diberi kabar gembira dengan keridaan dan kemuliaan Allah ﷻ. Maka tidak ada yang lebih ia sukai selain berjumpa dengan Allah. Sejak saat itu ia sudah diperlihatkan surga dan istananya, sehingga ia pun rindu bertemu dengan-Nya. Sebaliknya, orang kafir diberi kabar tentang azab Allah, sehingga ia benci berjumpa dengan-Nya, dan Allah pun benci berjumpa dengannya.

Karena itulah, kelak kita akan lebih mengenal istana kita di surga daripada rumah kita di dunia, sebab sejak di alam kubur kita sudah selalu melihatnya, meski belum memasukinya.

Maka jangan takut dengan kematian, selama kita berbekal iman dan amal shalih. Justru kematian adalah pintu menuju kebahagiaan abadi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang dirindukan surga dan dimuliakan dengan perjumpaan dengan-Nya.

Allāhu Ta‘ālā a‘lam bishawāb.
__

♻️ Silahkan disebarluaskan

🚫 Dilarang menambah dan mengurangi isi poster/video ini tanpa izin

Source : KHB Official

Share:

SEMUA MUSIBAH TERJADI ATAS IZIN ALLAH

 BMKG: Aktivitas Gempa Bumi Meningkat 11 ...

Allah Subhanallahu wa ta'ala berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. At-Taghabun: 11)

Syeikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan:

"Orang yang menganggap bahwa gempa, tanah longsor, banjir, angin kencang dan sejenisnya hanyalah bencana alam semata dan tidak menggugah imannya, maka itu menunjukkan kerasnya hati bahkan matinya hati. Sewajibnya bagi manusia untuk mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah, jangan menganggap seperti angin berlalu saja". (Tafsir Surat Yasin hlm. 164)

Semoga setiap musibah yang terjadi, kita semua dapat menjadikan pelajaran yang bermakna serta sarana menjadi lebih baik lagi dalam ketaqwaan.

*

✍️ Habibie Quotes, 

Share:

GEMPA DAN TSUNAMI (MEGATRUSH YANG DIKHAWATIRKAN) DIPICU AKIBAT DOSA-DOSA MANUSIA BUKAN FENOMENA ALAM BIASA

 Apa Penyebab Gempa Bumi? | Bpbd Badung

Allah Ta’ala berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” 
📖 (Ar-Rum: 41).

👤Ka'ab radhiyallahu'anhu mengatakan,
"Sesungguhnya bumi itu hanya akan berguncang apabila dilakukan berbagai kemaksiatan di atasnya." 
📚 (Al Jawabul Kafi 73)

Pernah terjadi gempa di kota Madinah di zaman Umar bin Khatab, maka Umar berceramah kepada kaum muslimin,

“Wahai manusia, apa yang kalian lakukan? Betapa cepatnya maksiat yang kalian lakukan. Jika terjadi gempa bumi lagi, kalian tidak akan menemuiku lagi di Madinah.”

Diceritakan oleh Ibn Abi Dunya dari Anas bin Malik, bahwa beliau bersama seorang lelaki lainnya pernah menemui Aisyah.

Lelaki ini bertanya, “Wahai Ummul Mukminin, jelaskan kepada kami tentang fenomena gempa bumi!” Aisyah menjawab,

إذا استباحوا الزنا ، وشربوا الخمور ، وضربوا بالمعازف ، غار الله عز وجل في سمائه ، فقال للأرض : تزلزلي بهم ، فإن تابوا ونزعوا ، وإلا أهدمها عليهم

“Jika mereka sudah membiarkan zina, minum khamar, BERMAIN MUSIK, maka Allah yang ada DI ATAS akan CEMBURU.

Kemudian Allah perintahkan kepada bumi: ‘BERGUNCANGLAH, jika mereka bertaubat dan meninggalkan maksiat, BERHENTILAH.

Jika tidak, HANCURKAN mereka’.”

Orang ini bertanya lagi,

“Wahai Ummul Mukminin, apakah itu siksa untuk mereka?”

Beliau menjawab,

بل موعظة ورحمة للمؤمنين ، ونكالاً وعذاباً وسخطاً على الكافرين ..

“Itu adalah PERINGATAN dan RAHMAT bagi kaum mukminin, serta HUKUMAN, adzab, dan murka untuk orang kafir.” 
📚 (Al-Jawab Al-Kafi, Hal. 87–88)
.
.

Diriwayatkan dari Sahl bin sa'ad bahwasanya Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam bersabda yang artinya,

“Tidaklah dekat akhir zaman kecuali (akan) banyaknya tanah longsor (gempa bumi) , kerusuhan dan perubahan muka " . Ada yg bertanya , " kapankah itu terjadi ?" . Beliau bersabda ," ketika merajalelanya bunyi bunyian (musik) dan biduan wanita” 
📚 (Lihat Shahih Al Jamie'  ash shagir juz 3 no 3559. Al albany) . 
.
.

Dari pernyataan Umar, beliau memahami bahwa penyebab terjadinya gempa di Madinah adalah perbuatan maksiat yang dilakukan masyarakat yang tinggal di Madinah.

Pernyataan ini disampaikan kepada para sahabat dan mereka tidak mengingkarinya. Ini menunjukkan bahwa mereka sepakat dengan pemahaman Umar radhiallahu ‘anhu.

Gempa Bumi Ini Terjadi Agar Manusia Meninggalkan Kemaksiatan Dan Kembali Kepada Allah

👤Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa gempa bumi ini terjadi agar manusia meninggalkan kemaksiatan dan kembali kepada Allah, beliau berkata,

ﺃﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﻴﺎﻥ ﺑﺎﻟﺘﻨﻔﺲ ﻓﺘﺤﺪﺙ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺰﻻﺯﻝ ﺍﻟﻌﻈﺎﻡ ﻓﻴﺤﺪﺙ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻟﻌﺒﺎﺩﻩ ﺍﻟﺨﻮﻑ ﻭﺍﻟﺨﺸﻴﺔ ﻭﺍﻹﻧﺎﺑﺔ ﻭﺍﻹﻗﻼﻉ ﻋﻦ ﻣﻌﺎﺻﻴﻪ ﻭﺍﻟﺘﻀﺮﻉ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﺍﻟﻨﺪﻡ

“Allah –Subhanah- terkadang mengizinkan bumi untuk bernafas maka terjadilah gempa bumi yang dasyat, sehingga hamba-hamba Allah ketakutan dan mau kembali kepada-Nya, meninggalkan kemaksiatan dan merendahkan diri kepada Allah dan menyesal” 
📚 (Miftah Daris Sa’adah 1/221).

👤Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

” الواجب عند الزلازل وغيرها من الآيات والكسوف والرياح الشديدة والفياضانات البدار بالتوبة إلى الله سبحانه , والضراعة إليه وسؤاله العافية , والإكثار من ذكره واستغفاره

“Kewajiban ketika terjadi gempa bumi dan lainnya semisal gerhana, angin kuat, banjir, yaitu menyegerakan taubat, merendahkan diri kepada-Nya, meminta afiyah/keselamatan, memperbanyak dzikir dan ISTIHGFAR” 
📚 (Majmu’ Fatawa)
.

Share:

KISAH BAI’AT HINDUN BINTI ‘UTBAH

Abu Dujanah, Sahabat Berani Mengambil ...

Pada zaman Jahiliyah, Hindun terkenal sebagai wanita yang sombong lagi ambisius hingga kalimat Allah berjaya dan terjadi Fathu Makkah. Takdir Allah Jalla Sya’nuhu menghendaki agar pahlawan Jahiliyah wanita berubah menjadi pahlawan Islam wanita.

Tatkala Fathu Makkah, suaminya, Abu Sufyan bin Harb kembali bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang muslim dan ia berteriak lantang, “Wahai kafir Quraisy, ketahuilah sesungguhnya aku telah masuk Islam. Maka masuk Islamlah kalian! Sungguh Muhammad telah datang kepada kalian dengan pasukan yang tidak sanggup kalian hadapi. Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia selamat.”

Lalu berdirilah Hindun dan memegang jambang suaminya seraya berkata, “Seburuk-buruk pemimpin suatu kaum adalah engkau. Wahai penduduk Makkah, berperanglah kalian! Alangkah buruknya pemimpin kaum ini.”

Abu Sufyan menimpali, “Celaka kalian! Janganlah kalian terperdaya dengan ocehan wanita ini. Sungguh Muhammad telah datang dengan membawa kekuatan yang tidak mungkin kalian hadapi. Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia aman.” Mereka berkata, “Semoga Allah membinasakanmu. Mana cukup rumahmu untuk menampung kami semua?” Kemudian Abu Sufyan menjawab, “Barangsiapa menutup pintu rumahnya maka ia aman. Dan barangsiapa masuk masjid maka ia aman.” Lalu ketika itu orang-orang berpencar. Ada yang masuk ke dalam rumah dan ada pula yang masuk ke dalam masjid.

Pada hari kedua, setelah Fathu Makkah, Hindun berkata kepada suaminya, Abu Sufyan, “Aku ingin mengikuti Muhammad. Bawalah aku untuk menghadapnya.” Abu Sufyan heran, “Sungguh aku kemarin melihat engkau sangat benci dengan perkataan tersebut?” Hindun menjawab, “Demi Allah, aku belum pernah melihat Allah disembah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid sebagaimana yang aku lihat kemarin malam. Demi Allah, kemarin malam aku melihat orang-orang tidaklah melakukan sesuatu di masjid melainkan mereka shalat dengan berdiri, rukuk, dan sujud.”

Abu Sufyan berkata kepada istrinya, “Sesungguhnya engkau telah banyak berbuat salah. Maka pergilah bersama seorang laki-laki dari kaummu.” Akhirnya, Hindun pergi menemui ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu kemudian keduanya menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu para wanita juga sedang bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah ia meminta izin dan diizinkan masuk, maka Hindun masuk dengan menggunakan cadar lantaran takut atas apa yang telah ia perbuat terhadap Hamzah. Dia khawatir kalau-kalau Rasulullah akan membalas perbuatannya. Hindun berkata, “Wahai Rasulullah, segala puji bagi Allah yang telah memenangkan agama yang telah dipilih-Nya sehingga bermanfaat bagiku. Semoga Allah merahmatimu wahai Muhammad. Sesungguhnya aku adalah wanita yang telah beriman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya.” Setelah itu, Hindun membuka cadarnya seraya berkata, “Aku adalah Hindun binti ‘Utbah.”

Rasulullah menyambutnya, “Selamat datang untukmu.”

Hindun berkata, “Demi Allah, dahulu tiada seorang pun di muka bumi ini yang paling aku sukai untuk mendapatkan kehinaan melainkan engkau. Akan tetapi sekarang, tiada kaum pun di muka bumi ini yang paling aku sukai untuk mendapatkan kemuliaan melainkan kaummu.”

Nabi pun bersabda, “Dan lebih dari itu.” Kemudian beliau membacakan Al-Qur’an kepada para wanita yang hadir dan membai’at mereka. Hindun berkata di tengah-tengah mereka, “Wahai Rasulullah, haruskah kami menjabat tanganmu?” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

 إني لا أصافحُ النساءَ! إنما قولي لمائةِ امرأةٍ ، كقولي لامرأةٍ واحدةٍ

“Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita. Dan bahwasanya perkataanku kepada seratus wanita sama sebagaimana perkataanku kepada seorang wanita.”

Selanjutnya, Rasulullah bertanya, “Apakah kalian bersedia membai’atku untuk tidak menyekutukan Allah dengan suatu apa pun?”

Hindun menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya engkau telah meminta kepada kami apa yang tidak engkau minta dari kaum laki-laki. Kami akan menerima dan melaksanakannya.”

Kemudian Nabi melanjutkan, “Dan janganlah kalian mencuri.”

Hindun menimpali, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah suami yang bakhil. Apakah boleh bagiku untuk mengambil makanannya tanpa seizinnya?” Maka Rasulullah memberikan rukhshah baginya untuk mengambil kurma basah dan tidak memberikan rukhshah untuk mengambil kurma kering.

Rasulullah melanjutkan, “Dan janganlah kalian berzina.”

Hindun menjawab, “Mungkinkah seorang wanita merdeka berzina?”

Nabi melanjutkan, “Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian.”

Hindun berkata, “Sungguh kami telah memelihara mereka sejak kecil. Kemudian kalian telah membunuhnya di perang Badar tatkala mereka telah dewasa. Maka engkau lebih tau akan hal itu begitu pula mereka (para sahabat).” Maka ketika itu, ‘Umar bin Khattab tertawa mendengar pernyataan Hindun tersebut, hingga lama sekali.

Kemudian Rasulullah melanjutkan, “Dan janganlah berbuat dusta yang diada-adakan antara tangan dan kaki kalian.”

Hindun menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya kedustaan itu amatlah buruk.”

Nabi melanjutkan, “Dan janganlah kalian mendurhakaiku dalam urusan yang baik.”

Hindun menyahut, “Tidaklah kami akan duduk di majelis ini jika hendak mendurhakaimu dalam perkara yang ma’ruf.”

Begitulah sikap Hindun di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan kepribadiannya yang kuat dan keimanannya yang tulus, ia berdialog dan bertanya serta mengulang-ulangnya.

Tatkala Hindun pulang ke rumahnya, ia langsung menghampiri patung-patung dan menghancurkannya dengan sebuah kapak yang besar hingga berkeping-keping seraya berkata, “Dahulu kami tertipu olehmu… Dahulu kami tertipu olehmu…”

Hari-hari berlalu dan semakin bertambahlah pengetahuan Hindun dalam masalah keimanan sehingga membawa dirinya untuk berjihad menyertai kaum muslimin. Beliau bersama suaminya, Abu Sufyan, ikut serta dalam perang Yarmuk yng terkenal itu hingga beliau mendapatkan luka yang serius. Beliau juga memompa semangat kaum muslimin untuk memerangi Romawi dengan mengatakan, “Percepatlah kematian mereka dengan pedang kalian, wahai kaum muslimin!”

Hindun juga turut meriwayatkan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula putra beliau Mu’awiyah meriwayatkan hadits dari beliau dan ‘Aisyah Ummul mukminin radhiyallahu ‘anha.

Pada tahun ke-14 Hijriyah, beliau wafat. Mu’awiyah menggambarkan ibunya, “Sesungguhnya di zaman Jahiliyah beliau memiliki kewibawaan. Begitu pula di zaman Islam beliau memiliki kemuliaan yang tinggi.”

Artikel muslimah.or.id
Repost Ngaji Sunnah 

Sumber:
Diketik ulang dari Mereka Adalah Para Shahabiyat (terjemah), karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, dan Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, penerbit At-Tibyan, Solo, 2005, hal. 213-220.

Share:

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

LISTEN QURAN

Listen to Quran

Popular Posts

Blog Archive

Recent Posts

Pages