SEMUA MUSIBAH TERJADI ATAS IZIN ALLAH

 BMKG: Aktivitas Gempa Bumi Meningkat 11 ...

Allah Subhanallahu wa ta'ala berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. At-Taghabun: 11)

Syeikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan:

"Orang yang menganggap bahwa gempa, tanah longsor, banjir, angin kencang dan sejenisnya hanyalah bencana alam semata dan tidak menggugah imannya, maka itu menunjukkan kerasnya hati bahkan matinya hati. Sewajibnya bagi manusia untuk mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah, jangan menganggap seperti angin berlalu saja". (Tafsir Surat Yasin hlm. 164)

Semoga setiap musibah yang terjadi, kita semua dapat menjadikan pelajaran yang bermakna serta sarana menjadi lebih baik lagi dalam ketaqwaan.

*

✍️ Habibie Quotes, 

Share:

GEMPA DAN TSUNAMI (MEGATRUSH YANG DIKHAWATIRKAN) DIPICU AKIBAT DOSA-DOSA MANUSIA BUKAN FENOMENA ALAM BIASA

 Apa Penyebab Gempa Bumi? | Bpbd Badung

Allah Ta’ala berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” 
📖 (Ar-Rum: 41).

👤Ka'ab radhiyallahu'anhu mengatakan,
"Sesungguhnya bumi itu hanya akan berguncang apabila dilakukan berbagai kemaksiatan di atasnya." 
📚 (Al Jawabul Kafi 73)

Pernah terjadi gempa di kota Madinah di zaman Umar bin Khatab, maka Umar berceramah kepada kaum muslimin,

“Wahai manusia, apa yang kalian lakukan? Betapa cepatnya maksiat yang kalian lakukan. Jika terjadi gempa bumi lagi, kalian tidak akan menemuiku lagi di Madinah.”

Diceritakan oleh Ibn Abi Dunya dari Anas bin Malik, bahwa beliau bersama seorang lelaki lainnya pernah menemui Aisyah.

Lelaki ini bertanya, “Wahai Ummul Mukminin, jelaskan kepada kami tentang fenomena gempa bumi!” Aisyah menjawab,

إذا استباحوا الزنا ، وشربوا الخمور ، وضربوا بالمعازف ، غار الله عز وجل في سمائه ، فقال للأرض : تزلزلي بهم ، فإن تابوا ونزعوا ، وإلا أهدمها عليهم

“Jika mereka sudah membiarkan zina, minum khamar, BERMAIN MUSIK, maka Allah yang ada DI ATAS akan CEMBURU.

Kemudian Allah perintahkan kepada bumi: ‘BERGUNCANGLAH, jika mereka bertaubat dan meninggalkan maksiat, BERHENTILAH.

Jika tidak, HANCURKAN mereka’.”

Orang ini bertanya lagi,

“Wahai Ummul Mukminin, apakah itu siksa untuk mereka?”

Beliau menjawab,

بل موعظة ورحمة للمؤمنين ، ونكالاً وعذاباً وسخطاً على الكافرين ..

“Itu adalah PERINGATAN dan RAHMAT bagi kaum mukminin, serta HUKUMAN, adzab, dan murka untuk orang kafir.” 
📚 (Al-Jawab Al-Kafi, Hal. 87–88)
.
.

Diriwayatkan dari Sahl bin sa'ad bahwasanya Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam bersabda yang artinya,

“Tidaklah dekat akhir zaman kecuali (akan) banyaknya tanah longsor (gempa bumi) , kerusuhan dan perubahan muka " . Ada yg bertanya , " kapankah itu terjadi ?" . Beliau bersabda ," ketika merajalelanya bunyi bunyian (musik) dan biduan wanita” 
📚 (Lihat Shahih Al Jamie'  ash shagir juz 3 no 3559. Al albany) . 
.
.

Dari pernyataan Umar, beliau memahami bahwa penyebab terjadinya gempa di Madinah adalah perbuatan maksiat yang dilakukan masyarakat yang tinggal di Madinah.

Pernyataan ini disampaikan kepada para sahabat dan mereka tidak mengingkarinya. Ini menunjukkan bahwa mereka sepakat dengan pemahaman Umar radhiallahu ‘anhu.

Gempa Bumi Ini Terjadi Agar Manusia Meninggalkan Kemaksiatan Dan Kembali Kepada Allah

👤Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa gempa bumi ini terjadi agar manusia meninggalkan kemaksiatan dan kembali kepada Allah, beliau berkata,

ﺃﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﻴﺎﻥ ﺑﺎﻟﺘﻨﻔﺲ ﻓﺘﺤﺪﺙ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺰﻻﺯﻝ ﺍﻟﻌﻈﺎﻡ ﻓﻴﺤﺪﺙ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻟﻌﺒﺎﺩﻩ ﺍﻟﺨﻮﻑ ﻭﺍﻟﺨﺸﻴﺔ ﻭﺍﻹﻧﺎﺑﺔ ﻭﺍﻹﻗﻼﻉ ﻋﻦ ﻣﻌﺎﺻﻴﻪ ﻭﺍﻟﺘﻀﺮﻉ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﺍﻟﻨﺪﻡ

“Allah –Subhanah- terkadang mengizinkan bumi untuk bernafas maka terjadilah gempa bumi yang dasyat, sehingga hamba-hamba Allah ketakutan dan mau kembali kepada-Nya, meninggalkan kemaksiatan dan merendahkan diri kepada Allah dan menyesal” 
📚 (Miftah Daris Sa’adah 1/221).

👤Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

” الواجب عند الزلازل وغيرها من الآيات والكسوف والرياح الشديدة والفياضانات البدار بالتوبة إلى الله سبحانه , والضراعة إليه وسؤاله العافية , والإكثار من ذكره واستغفاره

“Kewajiban ketika terjadi gempa bumi dan lainnya semisal gerhana, angin kuat, banjir, yaitu menyegerakan taubat, merendahkan diri kepada-Nya, meminta afiyah/keselamatan, memperbanyak dzikir dan ISTIHGFAR” 
📚 (Majmu’ Fatawa)
.

Share:

KISAH BAI’AT HINDUN BINTI ‘UTBAH

Abu Dujanah, Sahabat Berani Mengambil ...

Pada zaman Jahiliyah, Hindun terkenal sebagai wanita yang sombong lagi ambisius hingga kalimat Allah berjaya dan terjadi Fathu Makkah. Takdir Allah Jalla Sya’nuhu menghendaki agar pahlawan Jahiliyah wanita berubah menjadi pahlawan Islam wanita.

Tatkala Fathu Makkah, suaminya, Abu Sufyan bin Harb kembali bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang muslim dan ia berteriak lantang, “Wahai kafir Quraisy, ketahuilah sesungguhnya aku telah masuk Islam. Maka masuk Islamlah kalian! Sungguh Muhammad telah datang kepada kalian dengan pasukan yang tidak sanggup kalian hadapi. Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia selamat.”

Lalu berdirilah Hindun dan memegang jambang suaminya seraya berkata, “Seburuk-buruk pemimpin suatu kaum adalah engkau. Wahai penduduk Makkah, berperanglah kalian! Alangkah buruknya pemimpin kaum ini.”

Abu Sufyan menimpali, “Celaka kalian! Janganlah kalian terperdaya dengan ocehan wanita ini. Sungguh Muhammad telah datang dengan membawa kekuatan yang tidak mungkin kalian hadapi. Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia aman.” Mereka berkata, “Semoga Allah membinasakanmu. Mana cukup rumahmu untuk menampung kami semua?” Kemudian Abu Sufyan menjawab, “Barangsiapa menutup pintu rumahnya maka ia aman. Dan barangsiapa masuk masjid maka ia aman.” Lalu ketika itu orang-orang berpencar. Ada yang masuk ke dalam rumah dan ada pula yang masuk ke dalam masjid.

Pada hari kedua, setelah Fathu Makkah, Hindun berkata kepada suaminya, Abu Sufyan, “Aku ingin mengikuti Muhammad. Bawalah aku untuk menghadapnya.” Abu Sufyan heran, “Sungguh aku kemarin melihat engkau sangat benci dengan perkataan tersebut?” Hindun menjawab, “Demi Allah, aku belum pernah melihat Allah disembah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid sebagaimana yang aku lihat kemarin malam. Demi Allah, kemarin malam aku melihat orang-orang tidaklah melakukan sesuatu di masjid melainkan mereka shalat dengan berdiri, rukuk, dan sujud.”

Abu Sufyan berkata kepada istrinya, “Sesungguhnya engkau telah banyak berbuat salah. Maka pergilah bersama seorang laki-laki dari kaummu.” Akhirnya, Hindun pergi menemui ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu kemudian keduanya menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu para wanita juga sedang bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah ia meminta izin dan diizinkan masuk, maka Hindun masuk dengan menggunakan cadar lantaran takut atas apa yang telah ia perbuat terhadap Hamzah. Dia khawatir kalau-kalau Rasulullah akan membalas perbuatannya. Hindun berkata, “Wahai Rasulullah, segala puji bagi Allah yang telah memenangkan agama yang telah dipilih-Nya sehingga bermanfaat bagiku. Semoga Allah merahmatimu wahai Muhammad. Sesungguhnya aku adalah wanita yang telah beriman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya.” Setelah itu, Hindun membuka cadarnya seraya berkata, “Aku adalah Hindun binti ‘Utbah.”

Rasulullah menyambutnya, “Selamat datang untukmu.”

Hindun berkata, “Demi Allah, dahulu tiada seorang pun di muka bumi ini yang paling aku sukai untuk mendapatkan kehinaan melainkan engkau. Akan tetapi sekarang, tiada kaum pun di muka bumi ini yang paling aku sukai untuk mendapatkan kemuliaan melainkan kaummu.”

Nabi pun bersabda, “Dan lebih dari itu.” Kemudian beliau membacakan Al-Qur’an kepada para wanita yang hadir dan membai’at mereka. Hindun berkata di tengah-tengah mereka, “Wahai Rasulullah, haruskah kami menjabat tanganmu?” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

 إني لا أصافحُ النساءَ! إنما قولي لمائةِ امرأةٍ ، كقولي لامرأةٍ واحدةٍ

“Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita. Dan bahwasanya perkataanku kepada seratus wanita sama sebagaimana perkataanku kepada seorang wanita.”

Selanjutnya, Rasulullah bertanya, “Apakah kalian bersedia membai’atku untuk tidak menyekutukan Allah dengan suatu apa pun?”

Hindun menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya engkau telah meminta kepada kami apa yang tidak engkau minta dari kaum laki-laki. Kami akan menerima dan melaksanakannya.”

Kemudian Nabi melanjutkan, “Dan janganlah kalian mencuri.”

Hindun menimpali, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah suami yang bakhil. Apakah boleh bagiku untuk mengambil makanannya tanpa seizinnya?” Maka Rasulullah memberikan rukhshah baginya untuk mengambil kurma basah dan tidak memberikan rukhshah untuk mengambil kurma kering.

Rasulullah melanjutkan, “Dan janganlah kalian berzina.”

Hindun menjawab, “Mungkinkah seorang wanita merdeka berzina?”

Nabi melanjutkan, “Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian.”

Hindun berkata, “Sungguh kami telah memelihara mereka sejak kecil. Kemudian kalian telah membunuhnya di perang Badar tatkala mereka telah dewasa. Maka engkau lebih tau akan hal itu begitu pula mereka (para sahabat).” Maka ketika itu, ‘Umar bin Khattab tertawa mendengar pernyataan Hindun tersebut, hingga lama sekali.

Kemudian Rasulullah melanjutkan, “Dan janganlah berbuat dusta yang diada-adakan antara tangan dan kaki kalian.”

Hindun menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya kedustaan itu amatlah buruk.”

Nabi melanjutkan, “Dan janganlah kalian mendurhakaiku dalam urusan yang baik.”

Hindun menyahut, “Tidaklah kami akan duduk di majelis ini jika hendak mendurhakaimu dalam perkara yang ma’ruf.”

Begitulah sikap Hindun di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan kepribadiannya yang kuat dan keimanannya yang tulus, ia berdialog dan bertanya serta mengulang-ulangnya.

Tatkala Hindun pulang ke rumahnya, ia langsung menghampiri patung-patung dan menghancurkannya dengan sebuah kapak yang besar hingga berkeping-keping seraya berkata, “Dahulu kami tertipu olehmu… Dahulu kami tertipu olehmu…”

Hari-hari berlalu dan semakin bertambahlah pengetahuan Hindun dalam masalah keimanan sehingga membawa dirinya untuk berjihad menyertai kaum muslimin. Beliau bersama suaminya, Abu Sufyan, ikut serta dalam perang Yarmuk yng terkenal itu hingga beliau mendapatkan luka yang serius. Beliau juga memompa semangat kaum muslimin untuk memerangi Romawi dengan mengatakan, “Percepatlah kematian mereka dengan pedang kalian, wahai kaum muslimin!”

Hindun juga turut meriwayatkan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula putra beliau Mu’awiyah meriwayatkan hadits dari beliau dan ‘Aisyah Ummul mukminin radhiyallahu ‘anha.

Pada tahun ke-14 Hijriyah, beliau wafat. Mu’awiyah menggambarkan ibunya, “Sesungguhnya di zaman Jahiliyah beliau memiliki kewibawaan. Begitu pula di zaman Islam beliau memiliki kemuliaan yang tinggi.”

Artikel muslimah.or.id
Repost Ngaji Sunnah 

Sumber:
Diketik ulang dari Mereka Adalah Para Shahabiyat (terjemah), karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, dan Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, penerbit At-Tibyan, Solo, 2005, hal. 213-220.

Share:

UCAPAN SAKARATUL MAUT

 Mengapa Sahara Berubah Menjadi Padang ...

Bagaimana kalau orang ketika sakaratul maut mengucapkan Laa ilaaha… lalu terputus, belum selesai, kemudian meninggal?”

Jawabannya telah dijelaskan para ulama:

1. Yang dinilai adalah usaha dan niatnya, bukan kesempurnaan lafaz

Para ulama mengatakan bahwa Allah menilai hati dan niat.
Jika seseorang berusaha mengucapkan kalimat tauhid, tetapi terputus karena lemah atau sakit — maka dia mendapat pahala dan keutamaannya, insyaAllah.

Ibn Qayyim rahimahullah berkata:

“Amalan itu tergantung niat. Jika ia telah mulai mengucapkan kalimat tauhid dengan niat menyempurnakannya, kemudian terhalang oleh lemah atau sakit, dia mendapatkan ganjarannya.”

2. Kalimat tauhid bukan syarat “harus sempurna hurufnya” untuk diterima

Para ulama menjelaskan:

Allah tidak mensyaratkan harus sempurna lafaz

Yang penting tauhid dalam hati dan usaha mengucapkannya

Imam An-Nawawi menjelaskan makna hadis:

“Siapa yang akhir perkataannya Laa ilaaha illallah maka ia masuk surga.”

Beliau menegaskan:

“Yang dimaksud adalah dia wafat di atas tauhid dan ia berusaha mengucapkannya, bukan harus selesai secara huruf.”

3. Apabila lisannya tidak mampu, tapi hatinya mengingat Allah — itu mencukupi

Ibn Rajab Al-Hanbali berkata:

“Jika lisan tidak mampu mengucapkan kalimat tauhid karena sakit atau sakaratul maut, cukup dengan hati yang bertauhid.”

Artinya, meskipun terputus, selama hatinya meyakini tauhid, itu tetap dianggap sebagai akhir perkataannya.

4. Orang yang lemah tidak dibebani untuk menyempurnakan lafaz

Contoh:

Ada yang hanya mampu berkata: “Laa ilaah…”

Ada yang berkata: “Laa ilaa…”

Ada yang hanya mampu menggerakkan bibir

Bahkan ada yang hanya memandang ke atas sebagai tanda dzikir

Semua ini dianggap sebagai usaha dan tanda tauhid, dan Allah Maha Mengetahui ketulusan hamba-Nya.

5. Dalil umum: amalan dinilai dengan niat

Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amalan tergantung pada niat.”
HR. Bukhari & Muslim

Kalau niatnya menyempurnakan Laa ilaaha illallah, tapi ajal datang, dia tetap mendapat pahala dan keutamaannya, insyaAllah.

Fatwa Syaikh Ibn Baz

A. Majmu’ Fatawa Ibn Baz, jilid 13, halaman 116–117

Dalam pembahasan Talqin al-Muhtadhar, beliau mengatakan:

“Jika ia tidak mampu mengucapkannya (Laa ilaaha illallah) karena sakit atau kelemahan, maka tidak mengapa. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.”

Ini menunjukkan bahwa ketidakmampuan menyempurnakan ucapan karena kondisi lemah tidak menggugurkan hukum talqin, dan dianggap sebagai udzur.

Ini dasar bahwa ucapan yang terputus karena lemah tetap dihitung.

B. Fatawa Nur ‘ala ad-Darb – Syaikh Ibn Baz

Di salah satu rekaman (bab: Ahkamul Muhtadhar) beliau berkata:

“Yang penting ia berusaha mengucapkannya. Bila lisannya lemah, maka itu sesuai kadar kemampuannya.
Allah mengetahui apa yang ada di hatinya.”

Rekaman ini ditranskrip dalam:

Nūr ‘ala ad-Darb, cetakan Darul Wathan, jilid 12 hlm. 392–393.

(Diambil dari berbagai sumber)

Share:

BAGAIKAN DEDAUNAN KERING YANG BERJATUHAN DARI POHON

Belajarlah dari Daun yang Gugur ...

Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam suatu hari berjalan bersama para sahabatnya, dan ketika itu beliau membawa tongkat di tangannya.. lalu beliau melewati pohon yang dedaunannya telah kering dan memukul pohon itu dengan tongkat yang ada di tangannya maka daun-daun yang kering itu berguguran.

Dan saat para sahabat melihat dedaunan pohon itu berguguran di depan mereka, maka Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“sesungguhnya kalimat :
SUBHAANALLAH
WALHAMDULILLAH
WALAA ILAAHA ILLALLAH
WALLAHU AKBAR
menggugurkan dosa-dosa seorang hamba sebagaimana dedaunan pohon ini berguguran..”

(📚 HR. at-Tirmidzi - shohih)

Maka sudah seharusnya seseorang itu mengucapkan EMPAT KALIMAT ini sesering mungkin sepanjang hari dan malamnya.
Sungguh terdapat padanya pahala yang sangat besar.

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, حفظه الله تعالى

ref : https://bbg-alilmu.com/archives/71519

@an.nashihah.daily
@thequranpath

Share:

BANYAKNYA BUKTI KEBENARAN TIDAK BERMANFAAT BAGI ORANG YANG TIDAK DIBERI HIDAYAH

 Surah Furqan Ayat 26 (25:26 Quran) With Tafsir - My Islam

Mereka juga menyesali perbuatan mereka dengan cara menyalahkan diri mereka sendiri, seraya mengatakan ;

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul".
« Al-Furqan 26

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

 Andaikata kami dahulu mau mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu),  niscaya kami tidaklah termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala [al-Mulk/67:10]

✍🏻 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

"Jangan heran terhadap banyaknya dalil kebenaran dalam keadaan mayoritas orang tidak mengetahuinya. Memang, dalil-dalil kebenaran itu sesungguhnya banyak. Namun, Allah memberi hidayah menuju jalan yang lurus hanya untuk orang-orang yang Dia kehendaki."

📚 Dar-ut Ta’arudh al-’Aqli wan Naql, jilid 7 hlm. 85

https://almanhaj.or.id/25739-hanya-satu-jalan-menuju-allah-azza-wa-jalla-2.html

Share:

TAFSIR SURAT LUQMAN AYAT 21

 Al-Qur'an Surat Luqman Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahan Indonesia -  SINDOnews Kalam

: وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُوا۟ بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۚ أَوَلَوْ كَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ

Arab-Latin: Wa iżā qīla lahumuttabi'ụ ma anzalallāhu qālụ bal nattabi'u mā wajadnā 'alaihi ābā`anā, a walau kānasy-syaiṭānu yad'ụhum ilā 'ażābis-sa'īr

Artinya: Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". Mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?

Luqman 21

📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

20-21. Allah menyebut-nyebut kebaikanNya kepada hamba-hambaNya berupa nikmat-nikmatNya dan mengajak mereka mensyukurinya, melihatnya dan tidak melupakannya, seraya berfirman, “TIdakkah kamu perhatikan.” Maksudnya, tidakkah kalian saksikan dan melihat dengan mata kepala dan hati nurani kalian “bahwa Allah telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit,” berupa matahari, bulan, dan bintang-bintang, semuanya ditundukkan untuk kepentingan manusia”dan apa yang ada di bumi,” berupa bermacam-macam hewan, pepohonan, tanaman, sungai, barang tambang dan lain-lain, sebagaimana yang dikatakan oleh Allah, "Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu" (Al-Baqarah:29).
“Dan menyempurnakan untukmu,” maksudnya, meratakan dan melimpahkanruahkan kepada kalian “nikmatNya lahir dan batin,” yaitu yang kita ketahui dan yang tidak dapat kita ketahui, nikmat dunia dan nikmat agama, tercapainya berbagai kemaslahatan (manfaat) dan tercegahnya berbagai mudarat. Maka kewajian kalian adalah mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dengan cara mencintai Sang Maha Pemberi nikmat, tunduk patuh kepadaNya dan menggunakannya dalam rangka menaatiNya, dan tidak menggunakan sedikit pun untuk kemaksiatan terhadapNya. “Dan” akan tetapi, sekalipun berlimpah ruahnya nikmat tersebut “ada di antara manusia orang,” yang tidak mensyukurinya, bahkan malah mengingkarinya dan mengingkari DZat yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat tersebut, dan mengingkari kebenaran yang karenanya Dia menurunkan kitab-kitab suciNya, dan yang karenanya Dia mengutus para RasulNya.

Maka dia pun mulai “membantah tentang Allah,” maksudnya, ia mendebat tentang kebatilan agar dengannya dia bisa mencampakkan kebenaran, dan agar dapat menolak apa-apa yang dibawa (diajarkan) oleh Rasulullah, yaitu perintah hanya beribadah kepada Allah saja. Dan si pembantah ini tidak mempunyai dasar pengetahuan yang mendalam. Jadi, debat yang dilakukannya tidak berdasarkan ilmu, maka biarkan saja dia begitu dan biarkan dia berbicara, “tanpa petunjuk,” yang dapat dijadikan pedoman oleh orang-orang yang medapat petunjuk, ”dan tanpa Kitab yang memberi penerangan,” maksudnya, yang sangat terang lagi menjelaskan yang benar. Maka tidak ada yang logis, atau nash yang dinukil dan tidak ada keteladanan dengan orang-orang yang mendapat petunjuk. Sesungguhnya debatnya tentang orang yang mendapat petunjuk. Sesungguhnya debatnya tentang Allah hanya berdasarkan taklid buta kepada nenek moyang yang tidak pernah mendapat petunjuk, bahkan orang-orang sesat yang menyesatkan.

Maka dari itu Allah berfirman, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah’,” melalui para RasulNya, karena sesungguhnya itu yang benar, dan (ketika) dijelaskan kepada mereka dalil-dalilnya yang Nampak, “mereka menjawab,” dengan nada menentangnya, “Tidak, tapi kami hanya mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya,” maka kami tidak akan meninggalkan apa yang telah menjadi panutan bapak-bapak kami hanya karena perkataan seseorang, siapa pun dia.
Lalu Allah berfirman seraya membantah mereka dan bapak-bapak mereka, “Dan apakah walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala?” yakni, lalu bapak-bapak mereka memenuhi seruannya dan berjalan mengekor kepadanya, dan mereka menjadi murid-murid setan, dan mereka pun diselimuti oleh kebimbangan. Apakah yang demikian ini berhak untuk diikuti dan ditelusuri jejak nmereka? Ataukah yang demikian itu membuat merek atakut untuk menelusuri jalan mereka dan diserukan akan kesesatan mereka dan kesesatan orang-orang yang mengikutinya? Padahal seruan setan kepada bapak-bapak mereka dan kepada mereka bukan karena kecintaan dan kasih saying setan kepada mereka, akan tetapi sesungguhnya hal itu adalah karena kebencian setan dan tipu muslihatnya terhadap mereka. Sebenarnya para pengikutnya adalah berasal dari musuh-musuhnya yang telah mampu ia taklukkan dan dia kalahkan, dan dia (setan) sangat senang karena mereka berhak mendapat azab api yang menyala-nyala disebabkan seruannya di terima.

📚 Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah

Ayat 20-21
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman seraya mengingatkan kepada makhlukNya atas semua nikmatNya kepada mereka di dunia dan akhirat bahwa Dia telah menundukkan bagi mereka apa yang ada di di langit berupa bintang-bintang yang mereka gunakan sebagai penerangan di malam dan siang hari, serta apa yang telah Dia ciptakan di langit berupa awan, hujan, salju dan embun, dan Dia menjadikan langit bagi mereka sebagai atap yang terpelihara. Dan apa yang telah Dia ciptakan bagi mereka bumi berupa tempat tinggal, sungai-sungai, pepohonan, tanam-tanaman, dan buah-buahan. Dia melimpahkan kepada mereka nikmat-nikmatNya secara lahir maupun batin, berupa mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitabNya kepada mereka untuk menyingkirkan keraguan dan penyakit.

 Sekalipun demikian maka tidaklah mereka semua beriman, bahkan di antara mereka ada orang-orang yang membantah tentang keesaan Allah dan pengutusan para rasul. Bantahan mereka tentang hal itu tidak berdasarkan pengetahuan, tidak bersandarkan kepada hujjah yang benar, dan tidak berdasarkan kitab yang ada dan benar. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa ta'ala: (Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan) yaitu yang jelas dan terang (Dan apabila dikatakan kepada mereka) yaitu, kepada mereka yang membantah tentang keesaan Allah (Ikutilah apa yang diturunkan Allah) yaitu kepada RasulNya berupa syariat yang disucikan (Mereka menjawab, "(Tidak), tetapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”) yaitu tidak ada hujjah bagi mereka melainkan hanya mengikuti jejak bapak-bapak mereka yang terdahulu. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman: ((Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?) (Surah Al-Baqarah: 170) yaitu, Wahai orang-orang yang berhujjah, apakah kalian tetap mengikuti perbuatan nenek moyang kalian meskipun mereka berada dalam kesesatan, lalu kalian menjadi generasi penerus bagi mereka dalam kesesatan itu? Oleh karena itu Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman: (Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?)

Referensi : https://tafsirweb.com/7505-surat-luqman-ayat-21.htm

Share:

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

LISTEN QURAN

Listen to Quran

Popular Posts

Blog Archive

Recent Posts

Pages