Sebagian orang yang suka mengamalkan amalan bid’ah, mereka mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah (yang mereka katakan beliau adalah ulamanya wahabi, padahal Ibnu Taimiyyah rahimahullah lahir ratusan tahun sebelum syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab rahimahullah, kok dikatakan wahabi?) juga mengamalkan bid’ah, yakni wirid ya hayyu ya qoyyum dari mulai shalat sunnah fajar sampai shalat subuh.
Mereka pun mengutip perkataan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) dalam kitabnya Madarij as-Salikin menjelaskan salah satu hizib kesukaan Ibnu Taimiyyah (w. 728 H):
ومن تجريبات السالكين التي جربوها فألفوها صحيحة: أن من أدمن “يا حي ياقيوم لا إله إلا أنت” أورثه ذلك حياة القلب والعقل. وكان شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه شديد اللهج بها جدا وقال لي يوما: “لهذين الاسمين وهما {الْحَيُّ الْقَيُّومُ} تأثير عظيم في حياة القلب” وكان يشير إلى أنهما الاسم الأعظم وسمعته يقول: “من واظب على أربعين مرة كل يوم بين سنة الفجر وصلاة الفجر” ياحي ياقيوم لاإله إلا أنت برحمتك أستغيث” حصلت له حياة القلب ولم يمت قلبه“.
“Di antara amaliah mujarrab (teruji manfaatnya) yang dilakukan oleh para ahli suluk, yang mereka mencoba dan membacanya secara teratur, bahwa siapa yang sering membaca ‘Ya Hayyu Ya Qayyum Laa Ilaaha illa Anta’ maka hal itu akan menjadikan hati dan akalnya hidup. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah – semoga Allah menyucikan ruhnya – sangat tekun mengamalkan bacaan ini. Suatu hari dia berkata pada saya, ‘Dua nama ini (yaitu al-Hayyu al-Qayyum) memiliki pengaruh hebat dalam hidupnya hati.’ Dia menyebut bahwa keduanya adalah nama teragung. Aku pernah mendengarnya berkata, ‘Barangsiapa secara rutin membaca sebanyak 40 kali, setiap hari, antara sunnah Fajar dan shalat Fajar (Subuh), ‘Ya Hayyu Ya Qayyum Laa Ilaaha illa Anta bi Rahmatika astaghiits’ akan mendapatkan hidupnya hati, dan hatinya tidak mati.”
Apakah yang diperbuat Ibnu Taimiyyah rahimahullah adalah bid’ah, membuat perkara baru dalam agama? Atau ada dasarnya dalam syariat atau ada sunnahnya?
Wirid ya hayyu ya qayyum itu ada dasarnya dalam syariat, bukan karangan, kreasi atau inovasi dari Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Berikut ini dalil tentang wirid ya hayyu ya qayyum.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada Fatimah (puterinya), “Apa yang menghalangimu untuk mendengar wasiatku atau yang kuingatkan padamu setiap pagi dan petang yaitu ucapkanlah:
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا
“Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan (Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya).” (HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, An-Nasa’i dalam Al-Kubra, Al-Bazzar dalam musnadnya, Al-Hakim. Sanad hadits ini hasan Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah).
Berkata Anas bin Malik radhiyallahuanhu,
كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَرَبَهُ أَمْرٌ قَالَ « يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ »
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dapat masalah berat, beliau membaca: Yaa Hayyu Yaa Qayyum, bi rahmatika as-taghiits (Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan). (HR. Tirmidzi. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Dan Berkata Anas bin Malik radhiyallahuanhu,
أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَالِسًا وَرَجُلٌ يُصَلِّى ثُمَّ دَعَا
Ia pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dalam keadaan duduk lantas ada seseorang yang shalat, kemudian ia berdo’a,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ.
Ya Allah, aku meminta pada-Mu karena segala puji hanya untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Banyak Memberi Karunia, Yang Menciptakan langit dan bumi, Wahai Allah yang Maha Mulia dan Penuh Kemuliaan, YA HAYYU YA QAYYUM.
فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِى إِذَا دُعِىَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى »
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ia telah berdo’a pada Allah dengan nama yang agung di mana siapa yang berdo’a dengan nama tersebut, maka akan diijabahi. Dan jika diminta dengan nama tersebut, maka Allah akan beri.” (HR. Abu Daud no. 1495 dan An-Nasa’i no. 1301. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)."
Tidak sama dengan shalawat Al Fatih, shalawat Sa’adah, shalawat Al In’am atau shalawat Nariyah, adakah dalil teksnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam shalawat-shalawat tersebut? Atau karangan mereka sendiri? Adakah dalilnya tahlilan kematian dengan rangkaian bacaan seperti yang biasa dibaca orang saat tahlilan kematian?
Sungguh berbeda dengan yang diamalkan Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengamalkan wirid ya hayyu ya qayyum ada dalil dan sunnahnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.
AFM
Copas dari berbagai sumber








No comments:
Post a Comment