Pertanyaan:
Ustadz, mohon penjelasan tentang sifat tangan bagi Allah. Apakah benar bahwa Allah memiliki tangan? Bukankah ini termasuk tajsim (menyamakan Allah dengan makhluk)?
Jawaban:
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du.
Ahlussunnah mengimani bahwa Allah ta’ala memiliki nama-nama yang Husna (paling indah) dan sifat-sifat yang ‘ula (paling tinggi). Allah ta’ala berfirman yang artinya:
ََِِّูููู ุงْูุฃَุณْู
َุงุกُ ุงْูุญُุณَْูู َูุงุฏْุนُُูู ุจَِูุง
“Hanya milik Allah nama-nama yang husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya” (QS. Al-A’raf: 180).
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
ََِِّูููู ุงْูุฃَุณْู
َุงุกُ ุงْูุญُุณَْูู َูุงุฏْุนُُูู ุจَِูุง َูุฐَุฑُูุง ุงَّูุฐَِูู ُْููุญِุฏَُูู ِูู ุฃَุณْู
َุงุฆِِู ุณَُูุฌْุฒََْูู ู
َุง َูุงُููุง َูุนْู
ََُููู
“Dan Allah subhanahu wa ta’ala memiliki Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalah-artikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS. al-A’raf: 180).
Dan Ahlussunnah mengimani semua nama-nama dan sifat-sifat Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan hadits yang shahih apa adanya sesuai dengan makna hakikinya yang layak bagi Allah ta’ala. Tanpa menolaknya dan tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk. Ini adalah akidah seluruh ulama Ahlussunnah tanpa ada perselisihan.
Dari Walid bin Muslim rahimahullah (wafat tahun 195 H), dia berkata,
ูุงู ุณุฃูุช ู
ุงูู ุจู ุฃูุณ ู ุณููุงู ุงูุซูุฑู ู ุงูููุซ ุจู ุณุนุฏ ู ุงูุฃูุฒุงุนู ุนู ุงูุฃุฎุจุงุฑ ุงูุชู ุฌุงุกุช ูู ุงูุตูุงุช ููุงููุง ุฃู
ุฑููุง ูู
ุง ุฌุงุกุช ุจูุง ููู
“Aku pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas, Sufyan Ats-Tsauri, Al-Laits bin Sa’d, Al-Auza’i tentang dalil yang berbicara tentang sifat-sifat Allah. Lalu mereka semua memerintahkan untuk mengimaninya sebagaimana adanya, tanpa membagaimanakannya” (Syarhus Sunnah Al-Baghawi, hal 177/I).
Ibnu Abdil Barr rahimahullah mengatakan:
ุฃُูู ุงูุณَُّّูุฉِ ู
ُุฌู
ِุนูู ุนูู ุงูุฅูุฑุงุฑِ ุจุงูุตِّูุงุชِ ุงููุงุฑุฏุฉِ ُِّูููุง ูู ุงُููุฑุขِู ูุงูุณُّูุฉِ، ูุงูุฅูู
ุงِู ุจูุง، ูุญู
ِْููุง ุนูู ุงูุญูููุฉِ ูุง ุนูู ุงูู
ุฌุงุฒِ، ุฅَّูุง ุฃَّููู
ูุง َِّูููููู ุดูุฆًุง ู
ู ุฐูู، ููุง َูุญُุฏُّูู ููู ุตูุฉً ู
ุญุตูุฑุฉً
“Ahlussunnah sepakat untuk menetapkan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah semuanya, dan mengimani semuanya, serta memaknainya secara hakiki bukan secara majas. Namun Ahlussunnah tidak mendeskripsikan sifat-sifat tersebut sama sekali dan tidak membatasi dengan sifat-sifat tertentu” (At-Tamhid, 7/145).
Imam Malik rahimahullah berkata:
ุฅَّูุงูู
ูุงูุจِุฏَุนَ، ููู: ูู
ุง ุงูุจِุฏَุนُ؟ ูุงู: (ุฃُูู ุงูุจِุฏَุนِ ูู
ุงูุฐูู ูุชََّููู
َูู ูู ุฃุณْู
ุงุกِ ุงِููู ูุตِูุงุชِู َูููุงู
ِู ูุนِْูู
ِู ُููุฏุฑุชِู، ููุง َูุณُูุชَูู ุนَู
َّุง ุณََูุช ุนูู ุงูุตَّุญุงุจุฉُ ูุงูุชَّุงุจِุนَูู ููู
ุจุฅุญุณุงٍู
“Jauhilah bid’ah!”. Lalu ada yang bertanya, “Wahai Abu Abdillah (Imam Malik), bid’ah itu apa?”. Beliau menjawab, “Ahlul bid’ah adalah orang-orang yang berbicara masalah nama Allah, sifat Allah, kalam Allah, ilmu Allah dan qudrah Allah, namun mereka berkata-kata dalam hal tersebut yang tidak pernah dikatakan oleh para sahabat dan tabi’in” (Ahadits fi Dzammil Kalam, karya Al-Muqri’, hal. 82).
Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tidak Berarti Menyerupakan Allah dengan Makhluk
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa orang-orang yang menolak untuk menetapkan sifat-sifat Allah apa adanya akan terjerumus pada dua kebatilan:
Pertama, secara tidak langsung mereka menuduh bahwasanya ayat-ayat Al-Qur’an itu kontradiktif. Karena sebagiannya menetapkan sifat-sifat bagi Allah termasuk sifat tangan, mata dan kaki. Dan sebagiannya menafikan keserupaan Allah dengan makhluk. Jika menetapkan sifat-sifat di atas termasuk tajsim, maka sama saja menuduh Al-Qur’an kontradiktif.
Kedua, adanya kesamaan nama atau sifat pada dua hal tidak berkonsekuensi dua hal tersebut sama dan serupa. Contohnya Anda melihat dua orang A dan B yang sama-sama mendengar, melihat dan berbicara. Namun tidak berarti pendengaran A dan B sama, tidak berarti penglihatan A dan B sama, tidak berarti kemampuan bicara A dan B sama. Jika demikian perbedaan yang terjadi pada dua makhluk, maka perbedaan antara makhluk dengan Allah lebih besar lagi (Nubdzah fil Aqidah al-Islamiyah, hal. 27-28).
Maka jelas bahwa menetapkan nama dan sifat Allah apa adanya secara hakiki, bukanlah menyerupakan Allah dengan makhluk. Nu’aim bin Hammad rahimahullah mengatakan:
ู
ู ุดุจู ุงููู ุจุฎููู ููุฏ ููุฑ، ูู
ู ุฌุญุฏ ู
ุง ูุตู ุงููู ุจู ููุณู ููุฏ ููุฑ، ูููุณ ู
ุง ูุตู ุงููู ููุณู ูุฑุณููู ุชุดุจููุงً
“Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia kufur. Siapa yang menolak menetapkan sifat yang Allah tetapkan untuk dirinya, maka dia kufur. Namun menetapkan sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya, bukanlah menyamakan Allah dengan makhluk” (Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah karya Al-Lalikai, 3/532).
Sifat Tangan bagi Allah
Demikian juga tentang sifat tangan bagi Allah. Al-Qur’an, hadits-hadits yang shahih dan ijma’ ulama menyatakan Allah ta’ala memiliki sifat tangan. Maka wajib kita mengimaninya apa adanya sesuai yang ada di dalam Al-Qur’an dan hadits shahih, dengan makna tangan yang layak bagi keagungan Allah, dan tanpa mendeskripsikan bagaimana tangan Allah. Dan menetapkan sifat tangan bagi Allah sama sekali tidak termasuk menyerupakan Allah dengan makhluk.
Dalil-dalil Al-Qur’an yang menunjukkan sifat tangan bagi Allah di antaranya, Allah ta’ala berfirman:
ََููุงَูุชِ ุงَُْููููุฏُ َูุฏُ ุงَِّููู ู
َุบَُْูููุฉٌ ۚ ุบَُّูุชْ ุฃَْูุฏِِููู
ْ َُููุนُِููุง ุจِู
َุง َูุงُููุง ۘ ุจَْู َูุฏَุงُู ู
َุจْุณُูุทَุชَุงِู ُُِูููู ََْููู َูุดَุงุกُ
“Dan orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu, padahal kedua tangan Allah terbuka lebar; Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki” (QS. Al-Maidah: 64).
Allah ta’ala berfirman:
َูุงَู َูุง ุฅِุจِْููุณُ ู
َุง ู
ََูุนََู ุฃَْู ุชَุณْุฌُุฏَ ِูู
َุง ุฎََْููุชُ ุจَِูุฏََّู ุฃَุณْุชَْูุจَุฑْุชَ ุฃَู
ْ ُْููุชَ ู
َِู ุงْูุนَุงَِููู
“Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku (yaitu Adam). Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?” (QS. Shad: 75).
Allah ta’ala berfirman:
َูู
َุง َูุฏَุฑُูุง ุงََّููู ุญََّู َูุฏْุฑِِู َูุงْูุฃَุฑْุถُ ุฌَู
ِูุนًุง َูุจْุถَุชُُู َْููู
َ ุงَِْูููุงู
َุฉِ َูุงูุณَّู
َุงَูุงุชُ ู
َุทَِّْููุงุชٌ ุจَِูู
ِِِููู ุณُุจْุญَุงَُูู َูุชَุนَุงَูู ุนَู
َّุง ُูุดْุฑَُِููู
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman tangan-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan” (QS. Az-Zumar: 67).
Allah ta’ala berfirman:
ุชَุจَุงุฑََู ุงَّูุฐِู ุจَِูุฏِِู ุงْูู
ُُْูู ََُููู ุนََูู ُِّูู ุดَْูุกٍ َูุฏِูุฑٌ
“Mahasuci Allah yang di tangan-Nya lah (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu” (QS. Al-Mulk: 1).
Allah ta’ala berfirman:
ُْูู ู
َْู ุจَِูุฏِِู ู
ََُูููุชُ ُِّูู ุดَْูุกٍ ََُููู ُูุฌِูุฑُ ََููุง ُูุฌَุงุฑُ ุนََِْููู ุฅِْู ُْููุชُู
ْ ุชَุนَْูู
َُูู
“Katakanlah, “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan segala sesuatu. Dia melindungi, dan tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab-Nya), jika kamu mengetahui?”” (QS. Al-Mukminun: 88).
Allah ta’ala berfirman:
ُِูู ุงَُّูููู
َّ ู
َุงَِูู ุงْูู
ُِْูู ุชُุคْุชِู ุงْูู
َُْูู ู
َْู ุชَุดَุงุกُ َูุชَْูุฒِุนُ ุงْูู
َُْูู ู
ِู
َّْู ุชَุดَุงุกُ َูุชُุนِุฒُّ ู
َْู ุชَุดَุงุกُ َูุชُุฐُِّู ู
َْู ุชَุดَุงุกُ ุจَِูุฏَِู ุงْูุฎَْูุฑُ ุฅََِّูู ุนََูู ُِّูู ุดَْูุกٍ َูุฏِูุฑٌ
“Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah semua kebaikan. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Ali Imran: 26).
Allah ta’ala berfirman:
ุฃَََููู
ْ َูุฑَْูุง ุฃََّูุง ุฎَََْูููุง َُููู
ْ ู
ِู
َّุง ุนَู
َِูุชْ ุฃَْูุฏَِููุง ุฃَْูุนَุงู
ًุง َُููู
ْ ََููุง ู
َุงَُِูููู
“Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah menciptakan hewan ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan tangan-tangan Kami, lalu mereka menguasainya?” (QS. Yasin: 71).
Adapun dalil-dalil dari hadits lebih banyak lagi. Di antaranya, hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
ูู
ُูู ุงูุฑุญู
ู ู
ูุฃู ุณุญَّุงุกُ ูุง ูุบูุถُูุง ุงََّูููู ูุงَّูููุงุฑَ، ูุงَู: ุฃุฑุฃูุชُู
ู
ุง ุฃَููู ู
ูุฐُ ุฎَูู ุงูุณَّู
ุงูุงุชِ، ูุฅَُّูู ูู
ูุบِุถْ ู
ุง ูู ูู
ِِููู، ูุนุฑุดُُู ุนูู ุงูู
ุงุกِ، ูุจูุฏِِู ุงูุฃุฎุฑู ุงูู
ูุฒุงُู ูุฎِูุถُ ููุฑูุนُ
“Tangan kanan Ar-Rahman penuh dengan karunia yang tak akan pernah berkurang karena siang maupun malam. Tahukah kalian apa saja yang telah diberikan-Nya sejak diciptakannya langit dan bumi? Sesungguhnya dengan semua itu, karunia yang ada di tangan kananNya tidak berkurang. Dan ‘Arsy-Nya ada di atas air. Dan tangan-Nya yang lain terdapat timbangan yang terkadang naik dan terkadang turun” (HR. Al-Bukhari no. 4684, Muslim no. 993).
Hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
ุชَُُููู ุงْูุฃَุฑْุถُ َْููู
َ ุงَِْูููุงู
َุฉِ ุฎُุจْุฒَุฉً َูุงุญِุฏَุฉً َูุชَََّููุคَُูุง ุงْูุฌَุจَّุงุฑُ ุจَِูุฏِِู َูู
َุง ََْูููุฃُ ุฃَุญَุฏُُูู
ْ ุฎُุจْุฒَุชَُู ِูู ุงูุณََّูุฑِ ُูุฒًُูุง ِูุฃَِْูู ุงْูุฌََّูุฉِ
“Pada hari kiamat bumi bagaikan sekeping roti. Kemudian Allah Al Jabbar membolak-baliknya dengan tangan-Nya sebagaimana salah seorang di antara kalian bisa memutar-mutar rotinya dalam perjalanan safar. Untuk diberikan kepada para penghuni surga (di padang mahsyar)” (HR. Al-Bukhari no. 6520, Muslim no. 2793).
Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
ู
َุง ุชَุตَุฏََّู ุฃَุญَุฏٌ ุจِุตَุฏََูุฉٍ ู
ِْู ุทَِّูุจٍ، ََููุง َْููุจَُู ุงَُّููู ุฅَِّูุง ุงูุทَِّّูุจَ، ุฅَِّูุง ุฃَุฎَุฐََูุง ุงูุฑَّุญْู
َُู ุจَِูู
ِِِููู َูุฅِْู َูุงَูุชْ ุชَู
ْุฑَุฉً
“Tidaklah salah seorang dari kalian bersedekah dengan harta yang baik, dan memang Allah hanya menerima dari yang baik, kecuali pasti Allah Ar-Rahman akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya, walaupun berupa sebutir kurma” (HR. Al-Bukhari no. 1410, Muslim no. 1014).
Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
ุงุญุชุฌَّ ุขุฏู
ُ ูู
ูุณู، ููุงู ู
ูุณู: ูุง ุขุฏู
ُ، ุฃูุชَ ุฃุจููุง، ุฎَّูุจْุชَูุง ูุฃุฎุฑุฌْุชَูุง ู
َู ุงูุฌَّูุฉِ، ููุงَู َُูู ุขุฏู
ُ: ุฃูุชَ ู
ูุณَู، ุงุตุทูุงَู ุงُููู ุจَِููุงู
ِِู، ูุฎุทَّ ََูู ุจูุฏِู
“Nabi Adam pernah mengalahkan hujjah Nabi Musa. Nabi Musa mengatakan: Wahai Adam, engkau adalah bapak kami, engkau telah membuat kami sengsara dan telah membuat kami (manusia) dikeluarkan dari surga! Nabi Adam mengatakan: Engkau adalah Musa, Allah telah memilihmu untuk diajak bicara langsung, dan Allah telah menulis dengan tangan-Nya untukmu” (HR. Muslim no. 2652).
Hadits dari Abu Musa radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
ุฅِู ุงَููู ุนَุฒَّ َูุฌََّู َูุจْุณُุทُ َูุฏَُู ุจِุงِْูููู َِููุชُูุจَ ู
ُุณِูุกُ ุงََّูููุงุฑِ ََููุจْุณُุทُ َูุฏَُู ุจِุงَูููุงุฑِ َِููุชُูุจَ ู
ُุณِูุกُ ุงِْูููู ุญَุชู ุชَุทُْูุนَ ุงูุดَّู
ْุณُ ู
ِْู ู
َุบْุฑِุจَِูุง
“Sungguh, Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di siang hari. Dan Allah membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat dari hamba yang bermaksiat di malam hari. Sampai matahari terbit dari barat” (HR. Muslim no. 2759).
Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, yaitu hadits panjang tentang syafa’at, di dalamnya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
ููุฃุชَูู ุขุฏู
َ َููููููู: ุฃูุชَ ุฃุจู ุงูุจุดุฑِ، ุฎََููู ุงَُّููู ุจูุฏِِู ูููุฎَ َููู ู
ู ุฑูุญِِู، ูุฃู
ุฑَ ุงูู
ูุงุฆِูุฉَ ูุณุฌุฏูุง ََูู، ุงุดูุน ููุง ุฅูู ุฑุจَِّู
“Kemudian manusia mendatangi Nabi Adam, dan mengatakan: Wahai Adam, engkau adalah bapaknya para manusia. Allah ciptakan engkau langsung dengan tangan-Nya. Dan ditiupkan padamu ruh dari-Nya. Dan Allah memerintahkan para Malaikat untuk sujud kepadamu. Berikanlah kami syafa’at dari Rabb-mu” (HR. Al-Bukhari no. 4712, Muslim no. 194).
Hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, ia berkata:
ุฌَุงุกَ ุญَุจْุฑٌ ุฅูู ุฑَุณِูู ุงَِّููู ุตََّูู ุงُููู ุนููู ูุณَّูู
َ، َููุงَู: ูุง ู
ُุญَู
َّุฏُ، ุฅَّู ุงََّููู َูุถَุนُ ุงูุณَّู
َุงุกَ ุนَูู ุฅุตْุจَุนٍ، ูุงูุฃุฑْุถَ ุนَูู ุฅุตْุจَุนٍ، ูุงูุฌِุจَุงَู ุนَูู ุฅุตْุจَุนٍ، ูุงูุดَّุฌَุฑَ ูุงูุฃَْููุงุฑَ ุนَูู ุฅุตْุจَุนٍ، ูุณَุงุฆِุฑَ ุงูุฎَِْูู ุนَูู ุฅุตْุจَุนٍ، ุซُู
َّ ُูููู ุจَูุฏِِู: ุฃَูุง ุงูู
َُِูู، َูุถَุญَِู ุฑَุณُูู ุงَِّููู ุตََّูู ุงُููู ุนููู ูุณَّูู
َ ููุงَู: {َูู
ุง َูุฏَุฑُูุง ุงََّููู ุญََّู َูุฏْุฑِِู} [ุงูุฃูุนุงู
: 91].
“Datang seorang pendeta Yahudi kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Ia berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah akan meletakkan langit di satu jari-Nya, dan meletakkan bumi di satu jari-Nya, dan gunung-gunung semuanya di satu jari-Nya, dan pohon-pohon serta sungai-sungai semuanya di satu jari-Nya, dan seluruh makhluk-Nya diletakkan di satu jarinya. Kemudian Allah berisyarat dengan tangan-Nya sambil berfirman: Akulah Raja Diraja!”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pun tertawa kemudian membacakan ayat: “Sungguh mereka (Ahluk Kitab) tidak menempatkan Allah sesuai dengan hak-Nya” (QS. Al-An’am: 91)” (HR. Al-Bukhari no. 7451, Muslim no. 2786).
Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
ููุจِุถُ ุงُููู ุงูุฃุฑุถَ، َููุทูู ุงูุณَّู
ุงูุงุชِ ุจَูู
ِููู، ุซู
َّ ُูููู: ุฃูุง ุงูู
ُِูู، ุฃูู ู
ُُููู ุงูุฃุฑุถِ؟
“Allah ta’ala mengenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Kemudian mengatakan: Aku adalah Raja Diraja! Dimana para raja dunia?” (HR. Al-Bukhari no. 4812, Muslim no. 2787).
Hadits Umar bin Khathab radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
ุฅَّู ุงَููู ุนุฒ ูุฌู ุฎูู ุขุฏู
َ، ุซู
ู
ุณุญ ุธูุฑَู ุจูู
ِููู، ูุงุณุชุฎุฑุฌ ู
ูู ุฐุฑูุฉً
“Sesungguhnya Allah azza wa jalla menciptakan Adam. Kemudian Allah mengusap punggung Nabi Adam dengan tangan kanan-Nya. Kemudian keluarlah darinya anak keturunannya” (HR. Abu Daud no. 4703, At-Tirmidzi no. 3075, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).
Hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
ุฅَِّู ุงْูู
ُْูุณِุทَِูู ุนِْูุฏَ ุงِููู ุนََูู ู
ََูุงุจِุฑَ ู
ِْู ُููุฑٍ، ุนَْู َูู
ِِูู ุงูุฑَّุญْู
َِู ุนَุฒَّ َูุฌََّู، َِْูููุชَุง َูุฏَِْูู َูู
ٌِูู، ุงَّูุฐَِูู َูุนْุฏَُِููู ِูู ุญُْูู
ِِูู
ْ َูุฃَِِْููููู
ْ َูู
َุง َُูููุง
“Orang-orang yang adil (shalih) di sisi Allah akan berada di mimbar-mimbar dari cahaya di tangan kanan Allah azza wa jalla. Dan kedua tangan Allah adalah tangan kanan. Mereka adalah orang-orang yang berbuat keadilan dalam memutuskan hukum di antara mereka, di keluarga mereka dan kepada orang yang menjadi tanggungan mereka” (HR. Muslim no. 1827).
Hadits dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
ุฅَِّู ุฃَََّูู ุดَْูุกٍ ุฎَََُููู ุงَُّููู ุนَุฒَّ َูุฌََّู ุงََْูููู
ُ، َูุฃَุฎَุฐَُู ุจَِูู
ِِِููู َِْูููุชَุง َูุฏَِْูู َูู
ٌِูู
“Sesungguhnya yang pertama kali Allah ‘azza wa jalla ciptakan adalah al qalam (pena pencatat takdir). Kemudian Allah ambil pena itu dengan tangan kanan-Nya. Dan kedua tangan Allah adalah tangan kanan”. (HR. Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah no. 542, dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 3136).
Inilah beberapa dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang tegas menetapkan sifat tangan bagi Allah ta’ala. Dalil-dalil yang disebutkan di atas hanya sebagiannya saja, masih banyak dalil-dalil yang lainnya.
Kesepakatan Ulama
Akidah bahwa Allah ta’ala memiliki tangan yang mulia yang sesuai dengan keagungan Allah ta’ala dan tidak serupa dengan tangan makhluk, ini adalah akidah yang diyakini kesepakatan salafus shalih dan para ulama Ahlussunnah semuanya. Tanpa ada perselisihan di antara mereka.
Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah mengatakan:
ูุฃุฌู
ุนูุง ุนูู ุฃูู ุนุฒَّ ูุฌَّู ูุณู
ุน ููุฑู، ูุฃَّู ูู ุชุนุงูู ูุฏูู ู
ุจุณูุทุชูู
“Para ulama sepakat bahwa Allah ‘azza wa jalla mendengar dan melihat. Dan Allah ta’ala memiliki dua tangan yang terbuka lebar” (Risalah ila Ahlits Tsughur, hal. 225).
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga mengatakan:
ููู ุชุจุงุฑู ูุชุนุงูู ุฃุณู
ุงุก ูุตูุงุช ุฌุงุก ุจูุง ูุชุงุจู، ูุฃุฎุจุฑ ุจูุง ูุจูู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุฃู
َّุชู…، ูุฃู ูู ูุฏูู ุจูููู: ﴿ุจَْู َูุฏَุงُู ู
َุจْุณُูุทَุชَุงِู﴾، ูุฃู ูู ูู
ًููุง ุจูููู: ﴿َูุงูุณَّู
ุงَูุงุชُ ู
َุทَِّْููุงุชٌ ุจَِูู
ِِِููู﴾
“Allah tabaraka wa ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat sebagaimana yang ada dalam Al-Qur’an. Dan sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi-Nya shallallahu’alaihi wa sallam kepada umatnya … dan bahwa Allah ta’ala memiliki dua tangan. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya) “Bahkan kedua tangan Allah terbuka lebar” (QS. Al-Maidah: 64), dan bahwasanya Allah memiliki tangan kanan, berdasarkan firman-Nya (yang artinya) “Langit digulung dengan tangan kanan-Nya” (QS. Az-Zumar: 67).” (Thabaqat Al-Hanabilah, 1/282).
Abu Bakar Al-Isma’ili rahimahullah mengatakan:
ูุฎูู ุขุฏู
ุนููู ุงูุณูุงู
ุจูุฏู، ููุฏุงู ู
ุจุณูุทุชุงู ูููู ููู ูุดุงุก، ุจูุง ุงุนุชูุงุฏ ููู ูุฏุงู، ุฅุฐ ูู
ููุทู ูุชุงุจ ุงููู ุชุนุงูู ููู ุจููู
“Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissalam dengan tangan-Nya. Dan kedua tangan Allah terbuka lebar, Allah memberi rezeki kepada siapa pun yang Allah kehendaki. Tidak boleh mendeskripsikan detail-detail sifat kedua tangan Allah. Karena Allah tidak sebutkan di dalam Al-Qur’an tentang bagaimana detail-detail sifat tangan-Nya” (I’tiqad Aimmatil Hadits, hal. 51).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:
ุฅَّู ููู ุชุนุงูู ูุฏูู ู
ุฎุชุตุชูู ุจู، ุฐุงุชูุชูู ูู، ูู
ุง ูููู ุจุฌูุงูู
“Sesungguhnya Allah ta’ala memiliki dua tangan yang khusus bagi-Nya, keduanya merupakan sifat dzatiyah bagi Allah, sebagaimana tangan yang layak bagi keagungan Allah” (Majmu’ Al-Fatawa, 6/263).
Kesimpulannya, wajib kita imani bahwa Allah ta’ala memiliki tangan yang mulia yang sesuai dengan keagungan Allah ta’ala dan tidak serupa dengan tangan makhluk. Dan menetapkan sifat ini tidaklah termasuk tasybih atau tajsim.
Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.
Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa sallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.
*
Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.
Sifat Tangan bagi Allah
ISBAL TIDAK SOMBONG?
Setelah saya membaca tulisan orang yang saya SS, dia berpendapat bahwa mayoritas ulama madzhab yang 4 membolehkan isbal dan tidak diharamkan kalau isbal tidak sombong.
Perhatikan dalil yang dipakai sebagai pembenaran bolehnya isbal kalau tidak sombong.
ุนَْู ุนَุจْุฏِ ุงِููู ุจِْู ุนُู
َุฑَ ุฑَุถَِู ุงَُّููู ุนَُْููู
َุง َูุงَู : َูุงَู ุฑَุณُُูู ุงِููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
: ู
َْู ุฌَุฑَّ ุซَْูุจَُู ุฎَُููุงَุกَ َูู
ْ َْููุธُุฑِ ุงَُّููู ุฅَِِْููู َْููู
َ ุงَِْูููุงู
َุฉِ ََููุงَู ุฃَุจُู ุจَْูุฑٍ ุฅَِّู ุฃَุญَุฏَ ุดَِّْูู ุซَْูุจِู َูุณْุชَุฑْุฎِู ุฅِูุงَّ ุฃَْู ุฃَุชَุนَุงَูุฏَ ุฐََِูู ู
ُِْูู ، ََููุงَู ุฑَุณُُูู ุงِููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุฅََِّูู َูุณْุชَ ุชَุตَْูุนُ ุฐََِูู ุฎَُููุงَุกَ. (ุฑูุงู ุงูุจุฎุงุฑู).
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahawasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang menyeret bajunya (karena kepanjangan sampai menyentuh tanah), karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat. Berkata Abu Bakar : “ Sesungguhnya sarungku itu selalu melorot (karena kurusnya badan), kecuali kalau saya membenarkan lagi letaknya (mengikat keras-keras dan mengankat ke atas)." Apakah diancam dengan tindakan sebagaimana di atas itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: "Sesungguhnya anda tidak termasuk golongan orang yang melakukan semacam itu dengan kesombongan. (HR. Bukhari dan Muslim).
Lihatlah bagaimana Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berusaha untuk menaikkan kainnya yang senantiasa melorot, bukan dengan sengaja dia memanjangkan kainnya.
Coba bandingkan dengan kebanyakan orang-orang sekarang, yang mengatakan yang penting tidak sombong. Padahal mereka menyengaja mengukur kainnya, celananya atau baju gamisnya di penjahit dengan ukuran di bawah mata kaki. Atau dia membeli kain atau celananya di bawah mata kaki dan tidak berusaha untuk memotongnya atau menaikkannya sampai di atas mata kaki.
Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhu, beliau berusaha menarik kainnya ke atas supaya tidak menutupi mata kakinya, berbeda halnya dengan orang yang sengaja memanjangkan kainnya melebihi mata kaki, karena isbal (memanjangkan kain dibawah mata kaki) itu adalah bentuk KESOMBONGAN. Dan Allah tidak menyukai kesombongan. Perhatikan dalil dan perkataan ulama dibawah ini,
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
ูุง ุชุณุจู ุฃุญุฏุง ، ููุง ุชุญูุฑู ู
ู ุงูู
ุนุฑูู ุดูุฆุง ، ููู ุฃู ุชููู
ุฃุฎุงู ูุฃูุช ู
ูุจุณุท ุฅููู ูุฌูู ، ุฅู ุฐูู ู
ู ุงูู
ุนุฑูู ، ูุงุฑูุน ุฅุฒุงุฑู ุฅูู ูุตู ุงูุณุงู ، ูุฅู ุฃุจูุช ูุฅูู ุงููุนุจูู ، ูุฅูุงู ูุฅุณุจุงู ุงูุฅุฒุงุฑ ؛ ูุฅูู ู
ู ุงูู
ุฎููุฉ ، ูุฅู ุงููู ูุง ูุญุจ ุงูู
ุฎููุฉ
“Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah KESOMBONGAN. Dan Allah tidak menyukai kesombongan” (HR. Abu Daud : Hadits Shahih).
Berkata Ibnu Hajar rahimahullah
ูุญุงุตูู: ุฃู ุงูุฅุณุจุงู ูุณุชูุฒู
ุฌุฑَّ ุงูุซูุจ، ูุฌุฑُّ ุงูุซูุจ ูุณุชูุฒู
ุงูุฎููุงุก، ููู ูู
ููุตุฏ ุงููุงุจุณ ุงูุฎููุงุก، ููุคูุฏู: ู
ุง ุฃุฎุฑุฌู ุฃุญู
ุฏ ุจู ู
ููุน ู
ู ูุฌู ุขุฎุฑ ุนู ุงุจู ุนู
ุฑ ูู ุฃุซูุงุก ุญุฏูุซ ุฑูุนู: ( ูุฅูุงู ูุฌุฑ ุงูุฅุฒุงุฑ؛ ูุฅู ุฌุฑ ุงูุฅุฒุงุฑ ู
ู ุงูู
ุฎِููุฉ
“Kesimpulannya, isbal itu pasti menjulurkan pakaian. SEDANGKAN MENJULURKAN PAKAIAN ITU MERUPAKAN KESOMBONGAN, WALAUPUN SI PEMAKAI TIDAK BERMAKSUD SOMBONG. Dikuatkan lagi dengan riwayat dari Ahmad bin Mani’ dengan sanad lain dari Ibnu Umar. Di dalam hadits tersebut dikatakan ‘Jauhilah perbuatan menjulurkan pakaian, karena menjulurkan pakaian itu adalah KESOMBONGAN‘” (Fathul Baari, 10/264)
Berkata Imam Nawawi rahimahullah :
ุฅู ุงูุฅุณุจุงู ูููู ูู ุงูุฅุฒุงุฑ ูุงููู
ูุต ูุงูุนู
ุงู
ุฉ، ูุฅูู ูุง ูุฌูุฒ ุฅุณุจุงูู ุชุญุช ุงููุนุจูู ุฅู ูุงู ููุฎููุงุก، ูุฅู ูุงู ูุบูุฑูุง ููู ู
ูุฑูู، ูุธูุงูุฑ ุงูุฃุญุงุฏูุซ ูู ุชูููุฏูุง ุจุงูุฌุฑ ุฎููุงุก ุชุฏู ุนูู ุฃู ุงูุชุญุฑูู
ู
ุฎุตูุต ุจุงูุฎููุงุก
Sesungguhnya ISBAL itu tidak boleh pada sarung (kain), gamis dan 'imamah (sorban). Tidak boleh isbal di bawah mata kaki jika sombong, jika tidak sombong maka makruh (dibenci). Secara zhahir hadits-hadits yang ada memiliki pembatasan (taqyid) jika menjulurkan dengan sombong, itu menunjukkan bahwa pengharamannya hanya khusus bagi yang sombong .” (Syarh Shahih Muslim).
Berkata Ibnu Hajar rahimahullah :
ููุงู ุงููููู: ุงูุฅุณุจุงู ุชุญุช ุงููุนุจูู ููุฎููุงุก، ูุฅู ูุงู ูุบูุฑูุง ููู ู
ูุฑูู، ูููุฐุง ูุต ุงูุดุงูุนู ุนูู ุงููุฑู ุจูู ุงูุฌุฑ ููุฎููุงุก ููุบูุฑ ุงูุฎููุงุก، ูุงู: ูุงูู
ุณุชุญุจ ุฃู ูููู ุงูุฅุฒุงุฑ ุฅูู ูุตู ุงูุณุงู، ูุงูุฌุงุฆุฒ ุจูุง ูุฑุงูุฉ ู
ุง ุชุญุชู ุฅูู ุงููุนุจูู، ูู
ุง ูุฒู ุนู ุงููุนุจูู ู
ู
ููุน ู
ูุน ุชุญุฑูู
ุฅู ูุงู ููุฎููุงุก ูุฅูุง ูู
ูุน ุชูุฒูู، ูุฃู ุงูุฃุญุงุฏูุซ ุงููุงุฑุฏุฉ ูู ุงูุฒุฌุฑ ุนู ุงูุฅุณุจุงู ู
ุทููุฉ ููุฌุจ ุชูููุฏูุง ุจุงูุฅุณุจุงู ููุฎููุงุก ุงูุชูู
Berkata An Nawawi: “Isbal dibawah mata kaki dengan sombong (haram hukumnya), jika tidak sombong maka makruh. Demikian itu merupakan pendapat Asy Syafi’i tentang perbedaan antara menjulurkan pakaian dengan sombong dan tidak dengan sombong. Dia berkata: Disukai memakai kain sarung sampai setengah betis, dan boleh saja tanpa dimakruhkan jika dibawah betis sampai mata kaki, sedangkan di bawah mata kaki adalah dilarang dengan pelarangan haram jika karena sombong, jika tidak sombong maka itu larangan (makruh) tanzih. Karena hadits-hadits yang ada yang menyebutkan dosa besar bagi pelaku isbal adalah hadits mutlak (umum), maka wajib mentaqyidkan (mengkhususkan/membatasinya) hadits itu adalah karena isbal yang dimaksud jika disertai khuyala (sombong). Selesai.” (Fathul Bari).
Hadits yang sangat jelas menerangkan tentang memakai kain mesti di atas mata kaki dan ancaman yang keras bagi orang yang memakainya melebihi mata kaki.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
ู
َุง ุฃَุณََْูู ู
َِู ุงَْููุนْุจَِْูู ู
َِู ุงูุฅِุฒَุงุฑِ َِููู ุงَّููุงุฑِ. (ุฑูุงู ุงูุจุฎุงุฑู).
Apa yang dibawah kedua mata kaki dari sarungnya, maka di dalam neraka. (HR. Bukhari).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ุซَูุงَุซَุฉٌ ูุงَ َُِّูููู
ُُูู
ُ ุงَُّููู َْููู
َ ุงَِْูููุงู
َุฉِ َููุงَ َْููุธُุฑُ ุฅَِِْูููู
ْ َููุงَ ُูุฒَِِّูููู
ْ ََُูููู
ْ ุนَุฐَุงุจٌ ุฃَِููู
ٌ » َูุงَู ََููุฑَุฃََูุง ุฑَุณُُูู ุงَِّููู -ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
- ุซَูุงَุซَ ู
ِุฑَุงุฑٍ. َูุงَู ุฃَุจُู ุฐَุฑٍّ ุฎَุงุจُูุง َูุฎَุณِุฑُูุง ู
َْู ُูู
ْ َูุง ุฑَุณَُูู ุงَِّููู َูุงَู « ุงْูู
ُุณْุจُِู َูุงْูู
ََّูุงُู َูุงْูู
َُُِّููู ุณِْูุนَุชَُู ุจِุงْูุญَِِูู ุงَْููุงุฐِุจِ
"Ada tiga macam orang yang tidak diajak bicara oleh Allah, tidak pula dilihat olehNya, tidak pula disucikan olehNya dan mereka itu akan mendapatkan siksa yang sangat pedih." Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kalimat di atas itu sampai tiga kali. Abu Zar kemudian berkata: "Mereka itu merugi serta menyesal sekali. Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?" Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Yaitu orang yang MEMANJANGKAN KAINNYA (melebihi mata kaki), orang yang mengungkit-ngungkit pemberiannya, dan dagangannya menjadi laku karena bersumpah palsu." (HR. Muslim).
Kesimpulannya, tidak benar klaim bahwa mayoritas ulama membolehkan isbal dan tidak benar pula, bahwa kalau tidak sombong tidak apa-apa menjulurkan kainnya dibawah mata kaki, karena isbal adalah bentuk kesombongan berdasarkan dalil dan perkataan ulama yang saya kutip di atas.
AFM
Copas dari berbagai sumber
WIRID YA HAYYU YA QAYYUM
Sebagian orang yang suka mengamalkan amalan bid’ah, mereka mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah (yang mereka katakan beliau adalah ulamanya wahabi, padahal Ibnu Taimiyyah rahimahullah lahir ratusan tahun sebelum syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab rahimahullah, kok dikatakan wahabi?) juga mengamalkan bid’ah, yakni wirid ya hayyu ya qoyyum dari mulai shalat sunnah fajar sampai shalat subuh.
Mereka pun mengutip perkataan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) dalam kitabnya Madarij as-Salikin menjelaskan salah satu hizib kesukaan Ibnu Taimiyyah (w. 728 H):
ูู
ู ุชุฌุฑูุจุงุช ุงูุณุงูููู ุงูุชู ุฌุฑุจููุง ูุฃููููุง ุตุญูุญุฉ: ุฃู ู
ู ุฃุฏู
ู “ูุง ุญู ูุงูููู
ูุง ุฅูู ุฅูุง ุฃูุช” ุฃูุฑุซู ุฐูู ุญูุงุฉ ุงูููุจ ูุงูุนูู. ููุงู ุดูุฎ ุงูุฅุณูุงู
ุงุจู ุชูู
ูุฉ ูุฏุณ ุงููู ุฑูุญู ุดุฏูุฏ ุงูููุฌ ุจูุง ุฌุฏุง ููุงู ูู ููู
ุง: “ููุฐูู ุงูุงุณู
ูู ููู
ุง {ุงْูุญَُّู ุงَُّْููููู
ُ} ุชุฃุซูุฑ ุนุธูู
ูู ุญูุงุฉ ุงูููุจ” ููุงู ูุดูุฑ ุฅูู ุฃููู
ุง ุงูุงุณู
ุงูุฃุนุธู
ูุณู
ุนุชู ูููู: “ู
ู ูุงุธุจ ุนูู ุฃุฑุจุนูู ู
ุฑุฉ ูู ููู
ุจูู ุณูุฉ ุงููุฌุฑ ูุตูุงุฉ ุงููุฌุฑ” ูุงุญู ูุงูููู
ูุงุฅูู ุฅูุง ุฃูุช ุจุฑุญู
ุชู ุฃุณุชุบูุซ” ุญุตูุช ูู ุญูุงุฉ ุงูููุจ ููู
ูู
ุช ููุจู“.
“Di antara amaliah mujarrab (teruji manfaatnya) yang dilakukan oleh para ahli suluk, yang mereka mencoba dan membacanya secara teratur, bahwa siapa yang sering membaca ‘Ya Hayyu Ya Qayyum Laa Ilaaha illa Anta’ maka hal itu akan menjadikan hati dan akalnya hidup. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah – semoga Allah menyucikan ruhnya – sangat tekun mengamalkan bacaan ini. Suatu hari dia berkata pada saya, ‘Dua nama ini (yaitu al-Hayyu al-Qayyum) memiliki pengaruh hebat dalam hidupnya hati.’ Dia menyebut bahwa keduanya adalah nama teragung. Aku pernah mendengarnya berkata, ‘Barangsiapa secara rutin membaca sebanyak 40 kali, setiap hari, antara sunnah Fajar dan shalat Fajar (Subuh), ‘Ya Hayyu Ya Qayyum Laa Ilaaha illa Anta bi Rahmatika astaghiits’ akan mendapatkan hidupnya hati, dan hatinya tidak mati.”
Apakah yang diperbuat Ibnu Taimiyyah rahimahullah adalah bid’ah, membuat perkara baru dalam agama? Atau ada dasarnya dalam syariat atau ada sunnahnya?
Wirid ya hayyu ya qayyum itu ada dasarnya dalam syariat, bukan karangan, kreasi atau inovasi dari Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Berikut ini dalil tentang wirid ya hayyu ya qayyum.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada Fatimah (puterinya), “Apa yang menghalangimu untuk mendengar wasiatku atau yang kuingatkan padamu setiap pagi dan petang yaitu ucapkanlah:
َูุง ุญَُّู َูุง َُّْูููู
ُ ุจِุฑَุญْู
َุชَِู ุฃَุณْุชَุบِْูุซُ، َูุฃَุตِْูุญْ ِْูู ุดَุฃِْْูู َُُّููู َููุงَ ุชَِِْْูููู ุฅَِูู َْููุณِْู ุทَุฑَْูุฉَ ุนٍَْูู ุฃَุจَุฏًุง
“Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan (Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya).” (HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, An-Nasa’i dalam Al-Kubra, Al-Bazzar dalam musnadnya, Al-Hakim. Sanad hadits ini hasan Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah).
Berkata Anas bin Malik radhiyallahuanhu,
َูุงَู ุงَّููุจُِّู -ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
- ุฅِุฐَุง َูุฑَุจَُู ุฃَู
ْุฑٌ َูุงَู « َูุง ุญَُّู َูุง َُّูููู
ُ ุจِุฑَุญْู
َุชَِู ุฃَุณْุชَุบِูุซُ »
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dapat masalah berat, beliau membaca: Yaa Hayyu Yaa Qayyum, bi rahmatika as-taghiits (Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan). (HR. Tirmidzi. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Dan Berkata Anas bin Malik radhiyallahuanhu,
ุฃََُّูู َูุงَู ู
َุนَ ุฑَุณُِูู ุงَِّููู -ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
- ุฌَุงِูุณًุง َูุฑَุฌٌُู ُูุตَِّูู ุซُู
َّ ุฏَุนَุง
Ia pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dalam keadaan duduk lantas ada seseorang yang shalat, kemudian ia berdo’a,
ุงَُّูููู
َّ ุฅِِّูู ุฃَุณْุฃََُูู ุจِุฃََّู ََูู ุงْูุญَู
ْุฏَ ูุงَ ุฅََِูู ุฅِูุงَّ ุฃَْูุชَ ุงْูู
ََّูุงُู ุจَุฏِูุนُ ุงูุณَّู
ََูุงุชِ َูุงูุฃَุฑْุถِ َูุง ุฐَุง ุงْูุฌَูุงَِู َูุงูุฅِْูุฑَุงู
ِ َูุง ุญَُّู َูุง َُّูููู
ُ.
Ya Allah, aku meminta pada-Mu karena segala puji hanya untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Banyak Memberi Karunia, Yang Menciptakan langit dan bumi, Wahai Allah yang Maha Mulia dan Penuh Kemuliaan, YA HAYYU YA QAYYUM.
ََููุงَู ุงَّููุจُِّู -ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
- « ََููุฏْ ุฏَุนَุง ุงََّููู ุจِุงุณْู
ِِู ุงْูุนَุธِูู
ِ ุงَّูุฐِู ุฅِุฐَุง ุฏُุนَِู ุจِِู ุฃَุฌَุงุจَ َูุฅِุฐَุง ุณُุฆَِู ุจِِู ุฃَุนْุทَู »
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ia telah berdo’a pada Allah dengan nama yang agung di mana siapa yang berdo’a dengan nama tersebut, maka akan diijabahi. Dan jika diminta dengan nama tersebut, maka Allah akan beri.” (HR. Abu Daud no. 1495 dan An-Nasa’i no. 1301. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)."
Tidak sama dengan shalawat Al Fatih, shalawat Sa’adah, shalawat Al In’am atau shalawat Nariyah, adakah dalil teksnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam shalawat-shalawat tersebut? Atau karangan mereka sendiri? Adakah dalilnya tahlilan kematian dengan rangkaian bacaan seperti yang biasa dibaca orang saat tahlilan kematian?
Sungguh berbeda dengan yang diamalkan Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengamalkan wirid ya hayyu ya qayyum ada dalil dan sunnahnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.
AFM
Copas dari berbagai sumber
SETELAH KEMATIAN KITA AKAN LEBIH MENGENAL ISTANA KITA DI SURGA
๐ก Simak kajian selengkapnya:
https://youtu.be/6AxIlC8StY4
Kematian seringkali dianggap sesuatu yang menakutkan. Padahal bagi orang beriman, kematian justru menjadi awal dari kebahagiaan abadi. Kita akan diperlihatkan balasan amal kita, bahkan sebelum ruh berpisah dari jasad.
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
ู
َู ุฃุญَุจَّ ِููุงุกَ ุงَِّููู ุฃุญَุจَّ ุงَُّููู ِููุงุกَُู، ูู
َู َูุฑَِู ِููุงุกَ ุงَِّููู َูุฑَِู ุงَُّููู ِููุงุกَُู.
“Barang siapa senang bertemu dengan Allah, Allah pun senang bertemu dengannya. Dan barang siapa benci bertemu dengan Allah, Allah pun benci bertemu dengannya.” (HR Bukhari: 6507 dan Muslim: 2683).
Aisyah atau sebagian istri Nabi berkata yaitu sesungguhnya kami tidak suka akan kematian. Beliau menjelaskan, bukan itu maksudnya. Seorang mukmin, ketika ajalnya tiba, diberi kabar gembira dengan keridaan dan kemuliaan Allah ๏ทป. Maka tidak ada yang lebih ia sukai selain berjumpa dengan Allah. Sejak saat itu ia sudah diperlihatkan surga dan istananya, sehingga ia pun rindu bertemu dengan-Nya. Sebaliknya, orang kafir diberi kabar tentang azab Allah, sehingga ia benci berjumpa dengan-Nya, dan Allah pun benci berjumpa dengannya.
Karena itulah, kelak kita akan lebih mengenal istana kita di surga daripada rumah kita di dunia, sebab sejak di alam kubur kita sudah selalu melihatnya, meski belum memasukinya.
Maka jangan takut dengan kematian, selama kita berbekal iman dan amal shalih. Justru kematian adalah pintu menuju kebahagiaan abadi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang dirindukan surga dan dimuliakan dengan perjumpaan dengan-Nya.
Allฤhu Ta‘ฤlฤ a‘lam bishawฤb.
__
♻️ Silahkan disebarluaskan
๐ซ Dilarang menambah dan mengurangi isi poster/video ini tanpa izin
Source : KHB Official












