SABAR DALAM MENERIMA TAKDIR

Ternyata Air Laut Bukan Berwarna Biru, Apa Warna Sebenarnya? - Semua  Halaman - Bobo

Prinsip keimanan seorang muslim :
Beriman kepada takdir yang telah ditetapkan oleh Allah

Iman kepada takdir Allah mencakup empat tingkatan:

1. Beriman kepada ilmu Allah yang ‘azali (ada sejak dahulu tanpa memiliki permulaan) atas segala sesuatu

2. Mengimani penulisan takdir dalam Lauh Mahfuzh

3. Mengimani bahwa kehendak dan kekuasaan Allah melingkupi seluruh makhluk-Nya

4. Mengimani bahwa Allah yang menciptakan segala sesuatu

Takdir yang buruk :

Buruknya sesuatu yang ditakdirkan, bukan buruknya takdir yang merupakan perbuatan Allah.

Sikap menghadapi ketetapan Allah :

– Meyakini kesudahan yang baik baik hamba yang mau bersabar.

– Menyadari dunia adalah ladang ujian.

– Kesabaran adalah hal yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menerima Takdir adalah Bagian dari Keimanan

Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, satu keyakinan yang harus ada di hati kita adalah keimanan terhadap takdir Allah Ta’ala. Bahkan, prinsip ini merupakan salah satu dari rukun iman, yaitu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk. Semua yang terjadi di muka bumi dan alam semesta telah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala.

Di antara dalilnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh malaikat Jibril ‘alaihis salamdengan beberapa pertanyaan, di antaranya, “Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang Iman! Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan Engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (H.R. Muslim).

Apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan ini mencakup seluruh kejadian yang akan terjadi di muka bumi dan seluruh alam semesta. Semuanya sudah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala. Bahkan, daun-daun yang jatuh pun Allah telah mentakdirkannya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidak ada sehelai daun pun yang jatuh melainkan Allah mengetahuinya.” (Q.S. Al-An’am: 59).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena, kemudian Allah berfirman, “Tulislah!”. Pena bertanya, “Wahai Rabbku, apa yang harus aku tulis?” Maka Allah menjawab, “Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadi hari kiamat.” (H.R. At-Tirmidzi no. 2155 dan Abu Dawud no.4700, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi).

Agar lebih memahami tentang takdir, ada kaidah penting terkait iman kepada takdir. Iman kepada takdir mencakup empat tingkatan, yaitu:

Pertama, Beriman kepada ilmu Allah yang ‘azali (sejak dulu tanpa memiliki permulaan) terhadap segala sesuatu, dan di antaranya adalah bahwa Allah mengetahui perbuatan hamba sebelum ia melakukannya.

Kedua, Mengimani bahwa Allah telah menuliskan takdir tersebut di Lauhul Mahfuzh.

Ketiga, Kehendak-Nya yang menyeluruh dan kekuasaan Allah yang sempurna mencakup segala peristiwa.

Keempat, Mengimani bahwa Allah menciptakan segala makhluk-Nya dan Dia-lah yang Maha Menciptakan, dan selain-Nya adalah makhluk.

(Syarh al-Aqidah Wasithiyah karya Syaikh Al-Fauzan hal. 172).

Takdir Baik dan Takdir Buruk

   Sedari kecil kita diajarkan bahwa ada yang namanya takdir baik dan takdir buruk. Namun apakah kita sudah mengetahui apa yang dimaksud dari takdir baik dan takdir buruk? Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa jika takdir disifati dengan kebaikan maka perkara ini sudah jelas.

 Adapun takdir yang disifati dengan keburukan maka yang dimaksud adalah buruknya sesuatu yang ditakdirkan tersebut, bukan buruknya takdir yang merupakan perbuatan Allah Ta’alakarena sesungguhnya perbuatan Allah tidak ada sedikitpun keburukan di dalamnya.

 Semua perbuatan Allah mengandung kebaikan dan hikmah di dalamnya. Maka yang dimaksud dengan keburukan di sini adalah dilihat dari hasil perbuatan dan hal yang ditakdirkan, bukan dilihat dari perbuatan Allah Ta’ala yang mentakdirkan. (Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah karya Syaikh Ibnu Utsaimin, hal 46).

Takdir Buruk sebagai Ujian

Semua yang terjadi baik berupa kebaikan maupun keburukan telah dicatat dan ditakdirkan oleh Allah Ta’ala. Kebaikan, –misalnya berupa mendapatkan rezeki bertambahnya ilmu, dan sebagainya-, telah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala. Keburukan, –misalnya berupa mendapatkan musibah, di-PHK, dan sebagainya-, pula telah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala. Namun hal yang perlu diperhatikan ialah keburukan yang menimpa kita adalah bagian dari ujian dari Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (ujian).” (Q.S. Al-Anbiya: 35). Ibnu Katsir mengatakan tentang ayat ini, “Allah menguji kalian terkadang dengan musibah dan terkadang dengan nikmat, untuk melihat siapakah yang bersyukur dan siapakah yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa.” Demikian juga ‘Ali bin Abu Thalhah mengatakan, dari Ibnu ‘Abbas tentang ayat ini, “Kami akan menguji kalian dengan kesengsaraan dan kesenangan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan, haram dan halal, ketaatan dan kemaksiatan, serta hidayah dan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Katsir 5/342, Asy-Syamilah).

Di sinilah kita diuji oleh Allah dengan sesuatu hal yang menimpa kita, baik itu keburukan atau kebaikan. Ketika mendapatkan takdir baik berupa bertambahnya nikmat, apakah semakin bertambah rasa syukur?

 Apakah semakin bertambah semangat ibadahnya?

Atau justru semakin membuat kita lalai? Ketika mendapatkan kejelekan, apakah membuat kita semakin kembali kepada Allah, atau justru membuat lisan kita tidak terjaga dari menggerutu dan berburuk sangka kepada Allah? Wal ‘iyadzu billah.

Coba lihatlah kepada diri kita, bagaimana sikap kita ketika mendapatkan nikmat dan bagaimana sikap kita ketika mendapatkan keburukan karena inilah letak ujiannya!

Bersabar ketika Menghadapi Takdir Buruk

Sebagaimana diuraikan di atas, keburukan yang menimpa kita pada hakikatnya adalah ujian untuk melihat siapakah yang senantiasa mengingat Allah dan siapakah yang menjadi lalai karenanya. Lalu bagaimanakah cara agar kita dapat senantiasa bersabar menghadapi takdir yang buruk? Mari kita perhatikan poin-poin berikut.

1) Kesudahan yang baik bagi orang yang bersabar.

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beriman kepada takdir, kemudian bersabar, maka baginya kesudahan yang baik berupa pahala di sisi Allah Ta’ala.

 Allah Ta’ala berfirman,

 “Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Yusuf: 90), “Maka bersabarlah;

 Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (Q.S. Hud: 49) (binbaz.org.sa/audios/1629/34).

2) Sadarilah bahwa karakter dunia itu penuh dengan ujian.

Seorang mukmin yang tidak bisa memposisikan dirinya dan tidak menjadikan sabar sebagai penolongnya, maka hidupnya tidak akan nyaman dan ia terluput dari pahala yang besar dari bersabar.

 Maka sudah selayaknya bagi kita sebagai seorang muslim untuk merenungi isi Al-Qur’an, apa yang Allah Ta’ala perintahkan di dalamnya berupa perintah dan motivasi untuk bersabar, serta membaca kisah perjalanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan salafus shalih.

 Bagaimana mereka bisa bersabar terhadap berbagai ujian dan bencana yang menimpa mereka, sehingga kita bisa meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan para salafus shalih.  (Fatwa Al-Islam Su’al wal Jawab Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid no.264679).

3)Bersabar dalam menghadapi musibah adalah perkara yang diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berjalan melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur. Maka Beliau berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah’.

 Wanita itu berkata, ‘Kamu tidak mengerti keadaanku, karena kamu tidak mengalami musibah seperti yang aku alami’. Wanita itu tidak mengetahui jika yang menasehati itu adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 Lalu diberi tahu kepadanya, ‘Sesungguhnya orang tadi adalah Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam’. Spontan wanita tersebut mendatangi rumah
 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam namun dia tidak menemukannya. Setelah bertemu dia berkata, ‘Maaf, tadi aku tidak mengetahuimu wahai Nabi’. Maka Beliau bersabda,

 ‘Sesungguhnya sabar itu ada pada kesempatan pertama saat datangnya musibah’ (H.R. Bukhari no 1283 dan Muslim 926) (Fatwa Al-Islam Su’al wal Jawab Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid no.264679).

 Pembaca rahimakumullah, Demikian apa yang dapat kami sampaikan. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita di jalan yang lurus. Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Penulis: Adya Surya Atmaja (Alumnus Ma’had Al-‘Ilmi)

sumber: https://buletin.muslim.or.id/bt1618/

Via HijrahApp

Share:

MEREKA MENUKARKAN AYAT-AYAT ALLAH DENGAN HARGA YANG SEDIKIT

Air Biru Laut - Foto gratis di Pixabay - Pixabay

Oleh Abdullah

 Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji hanya kepada Allah. Dialah Rabb Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah yang menguasai hari pembalasan. Dialah yang mencintai orang-orang mukmin, dan benci terhadap orang kafir dan munafik. Dialah yang menurunkan air dari langit. Dialah yang memberi minum hamba-Nya dengan air tawar. Dialah yang mendatangkan angin yang berhembus sepoi, atau badai yang melululantahkan negeri-negeri. Dialah yang mendatangkan gemuruh halilintar.

Dialah yang menyelamatkan, membinasakan, membiarkan, menangguhkan. Digenggaman-Nya segala takdir diberlakukan. Maka celakalah orang yang telah disesatkan oleh Allah, karena ia tidak mau menyucikan jiwanya. Dan beruntunglah orang yang diberi hidayah oleh Allah, karena ia mendekatkan dirinya kepada Allah dengan ikhlas. Sesungguhnya pena telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah mengering. Maka berlomba-lombalah beramal shaleh dengan ikhlas, karena itulah yang bisa mengubah takdir buruk.

Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad tercinta. Nabi akhirul zaman, yang tidak ada lagi nabi setelahnya. Nabi yang dengan mukzizat dari Allah Ta’ala semata, maka makanan bertasbih di hadapanya, air keluar dari jemarinya, bulan terbelah, mendengar siksa kubur, melihat surga dan neraka, nabi yang ahli perang, yang terbanyak memimpin peperangan, pemimpin yang berwibawa, bijaksana, dermawan, nabi yang rupawan, yang mempunyai syafaat di Hari Kiamat. Ya Ilahi, betapa daku mencintai nabi-Mu. Aku mencintainya melebihi diriku sendiri, melebihi cintaku kepada kedua orang tuaku, karib-kerabatku, istri dan anakku. Cintaku padanya, semata-mata karena-Mu. Dan sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui. Maka bimbinglah daku yang lemah dan hina ini ke jalan-Mu yang lurus, sesungguhnya Engkau Maha Suci lagi Maha Perkasa.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada keluarga Nabi yang tercinta, dan para sahabatnya yang mulia. Sungguh Allah telah memuliakan mereka atas kita. Sehingga sedekah kita meskipun berupa emas sebesar gunung uhud, tidaklah bisa menandingi sedekah satu mud para sahabat Rasulullah saw yang mulia.

Sesungguhnya, Allah swt telah melaknat orang-orang musyrik, karena keingkaran mereka terhadap Allah swt, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya. Allah swt telah memberitahukan kepada kita, bahwa tabiat orang musyrik, adalah mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Yaitu dunia. Sebagaimana firman-Nya:

{ اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [التوبة: 9]

“Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.” (QS. At-Taubah, 9: 9).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah, mengatakan dalam tafsirnya, bahwa Firman Allah swt dalam ayat di atas dalam rangka mencela kaum musyrikin dan memotivasi kaum muslimin untuk memerangi mereka,“Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit.” Maksudnya telah menukar antara mengikuti ayat-ayat Allah dengan perkara dunia yang hina nan melalaikan.[1] Sedangkan Imam Al-Qurthubi mengatakan, “ada yang mengatakan bahwa mereka mengganti Al-Quran dengan harta benda dengan kemewahan dunia.”[2]

Firman-Nya: “Lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah.” Imam Al-Qurthubi mengatakan, maksudnya adalah berpaling atau menghalangi dari jalan Allah.[3] Imam Ibnu Katsir berkata, maksudnya, melarang kaum mukminin untuk mengikuti jalan kebenaran.[4]

Menukarkan ayat Allah dengan harga yang sedikit, adalah ciri khas kaum musyrikin. Maka hendaklah seorang muslim yang menginginkan kebaikan dunia dan akhirat, tidak mengikuti golongan yang telah dipastikan merugi tersebut. karena Allah swt mencela mereka bahwa: “Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.”

Adapun di zaman sekarang, maka dengan mudah kita bisa menemukan segolongan dari kalangan kita sendiri yang telah menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang rendah. Yaitu orang-orang yang menghafal Al-Quran dan Hadits, dengan niat mendapatkan kedudukan dan harta dunia, misalkan dengan menjadi ustadz terkenal dan bisa mendapatkan kontrak kerja di televisi-televisi supaya mendapatkan upah. Tidak lazim kita mendengar ada ustadz yang memasang tarif mahal. Semakin terkenal dan cakap atau rupawan sang ustadz, maka semakin mahal pula tarifnya. Bahkan ada pula dukun yang berjubah ustadz, dengan maksud mendapatkan keuntungan dunia dari kliennya.

Terkait ayat ini juga, maka perlu kami sampaikan beberapa penjalasan tambahan, bahwa di era demokrasi sekarang, misalkan dalam sistem perekrutan kepemimpinan dengan cara pemilu, kebanyakan orang tergelincir. Misalkan orang yang dijadikan sebagai juru kampanye, apabila dia adalah orang yang pandai bersilat lidah, dan menghafal banyak ayat Al-Quran dan Hadits, serta pendapat para ulama, maka disinilah dia akan menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah. Bahkan ketergelincirannya akan menjadikan dia menghinakan ayat-ayat Allah.—segala puji bagi Allah dan ayat-ayat-Nya atas apa yang mereka lakukan.

Kami katakan, bahwa di sini bukan tempat ayat-ayat Allah Ta’ala digunakan. Karena sistem ini sendiri telah membuang Al-Quran dan Sunnah. Orang yang membawa nama-nama Allah, dan ayat-ayat-Nya untuk merebut jabatan, berbondong-bondong mendapatkannya dalam naungan sistem demokrasi sebagaimana sekarang, benar-benar telah menjual ayat-ayat Allah Ta’ala, dengan harga yang murah. Allah Ta’ala berfirman:

{وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ} [البقرة: 41]

“Janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah. Dan bertaqwalah hanya kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah, 2: 41).

Imam Ibnu Katsir mengataka, artinya janganlah kalian menukar iman kalian terhadap ayat-ayat-Ku dan pembenaran terhadap Rasul-Ku dengan dunia dan segala isinya yang menggiurkan, karena ia merupakan sesuatu yang sedikit lagi fana.[5]

Firman-Nya; “Dan hanya kepada-Ku lah kamu harus bertakwa.” Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Thalq bin Habib, ia berkata: “Takwa berarti berbuat taat kepada Allah dengan mengharap rahmat-Nya di atas nuur(petunjuk) dari-Nya, dan meninggalkan maksiat kepada Allah di atas nuur  (petunjuk) dari Allah, karena takut akan siksa-Nya.”[6]

Sedangkan Imam Ibnu Katsir mengatakan, makna “Dan hanya kepada-Ku lah kamu harus bertakwa.” Bahwa Allah Ta’ala mengancam atas kesengajaan yang menyembunyikan kebenaran dan menampakkan sebaliknya serta pembangkangan mereka terhadap Rasul, shalawat dan salam senantiasa tercurah atasnya.”[7]

Apa yang mereka tampakkan bukanlah bentuk ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya terdahulu sebagai sebuah ketegasan agar jangan menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah, yakni;“Dan hanya kepada-Ku lah kamu harus bertakwa.” Sesungguhnya orang-orang itu telah mencampurkan yang haq dan bathil, dan hujjah bisa berlaku kepada mereka, tatkala ilmu telah sampai pada mereka.

Bahkan kami menemukan dan mendengar, mereka dengan mudah mengeluarkan firman Allah dalam pidato-pidato mereka dalam merebut kekuasaan. Begitu juga hadits-hadits yang mereka jadikan sebagai bahan kampanye, pendapat para ulama, bahkan mereka mencampuradukkannya dengan pendapat para thagut—semoga Allah Ta’ala menyelamatkan orang-orang muslim dari lisan orang-orang itu—.

Mereka menjadikan mayoritas umat Islam sebagai objek, dan ayat-ayat Allah, hadits, pendapat para ulama, sebagai alat untuk meraih simpati masyarakat. Teramasuk dalam hal ini adalah partai politik, beraliran sekuler apalagi beridiologi Islam sekalipun. Sungguh mereka benar-benar berada dalam bencana yang nyata.

Coba lihat pada tim pemenangan kandidat dalam pemilu, jika juru pidatonya dari kalangan yang mengetahui banyak tentang Islam, mempelajari Islam, maka dia akan menjadikan Islam sebagai bahan komiditi. Isi dan muatan kampanye adalah ayat-ayat Allah, hadits, dan pendapat para ulama, hal ini dikeluarkan untuk manarik simpati masyarakat, supaya memilih kandidatnya. Bukankan telah nyata bahwa inilah yang dimaksudkan dalam firman Allah Ta’ala tersebut?

Maka berfikirlah olehmu wahai orang-orang yang dikaruniai akal. Karena Rasulullah saw bersabda mengancam orang yang seperti ini:

سنن أبي داود (3/ 323)

«مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» يَعْنِي رِيحَهَا

____

[حكم الألباني] : صحيح

“Barang siapa yang mempelajari ilmu agama yang seharusnya ditujukan kepada Allah azawajallah, namun dia gunakan untuk mendapatkan kedudukan di dunia dan untuk mendapatkan harta dunia, maka dia tidak akan pernah mencium wanginya surga di hari kiamat.” (HR. Imam Ahmad, 2/No.338. Abu Dawud, No.3664—hadits sahih).

Mencari jabatan, tempat di hati masyarakat, agar diakui sebagai orang cerdas, alim, pintar, ulama, ustadz, fuqaha, agar diakui sebagai ahli fiqih, dan pengakuan lainnya, termasuk dalam redaksi hadits mendapatkan kedudukan dunia, sebagaimana hadits di atas.
(*)

[1] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. At-Taubah, 9: 9. Jilid 4, hal. 155.

[2] Al-Jami’li-Ahkaam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi, (QS At-Taubah, 9: 9). Jilid 8, Hal.185.

[3] Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi (QS. At-Taubah, 9: 9). Jilid, 8, hal 185.

[4] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. At-Taubah, 9: 9. Jilid 4, hal. 156.

[5] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti; Syaikh Al-Mubarakfuri), QS. Al-Baqarah: 41. Jilid 1, Hal.230.

[6] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti; Syaikh Al-Mubarakfuri), QS. Al-Baqarah: 41. Jilid 1, Hal.231.

[7] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti; Syaikh Al-Mubarakfuri), QS. Al-Baqarah: 41. Jilid 1, Hal.231.

Sumber: amudrailmu.com/  May 18, 2014 @ 01:42

(nahimunkar.com)

Selengkapnya :
https://www.nahimunkar.org/menukarkan-ayat-ayat-allah-harga-sedikit/

Share:

RENUNGAN SURAT AT TAUBAH AYAT 65

File:Sore di Tepi Pantai, Tuban 1292016.jpg - Wikimedia Commons

Sejatinya seorang muslim senantiasa memperhatikan betul terhadap apa yang diucapkan lisannya, bahkan walau hanya sekedar bercanda. Terlebih lagi kita berada pada zaman dimana agama begitu mudahnya dijadikan sebagai bahan candaan dan olok-olokan. Perhatikanlah kisah ini wahai saudaraku kaum muslimin.
.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Muhammad bin Ka'ab, Zaid bin Aslam dan Qatadah, hadits dengan rangkuman sebagai berikut,
.
"Bahwasanya ketika dalam peristiwa perang Tabuk, ada seseorang yang berkata, 'Belum pernah kami melihat seperti para ahli baca al- Qur`an ini, orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya, dan lebih pengecut dalam peperangan.' Maksudnya, Rasulullah ﷺ dan para sahabat yang ahli baca al-Qur`an itu. Maka berkatalah 'Auf bin Malik kepadanya, 'Omong kosong yang kamu katakan. Bahkan kamu adalah seorang munafik. Sungguh akan kuberitahukan kepada Rasulullah.'
.
Lalu pergilah 'Auf kepada Rasulullah ﷺ untuk memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Tetapi sebelum ia sampai, telah turun wahyu al-Qur`an kepada beliau ﷺ. Ketika orang yang berkata itu datang kepada Rasulullah, beliau ﷺ telah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya. Maka berkatalah ia kepada Rasulullah ﷺ, 'Wahai Rasulullah! Sebenarnya kami hanyalah bersenda-gurau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang-orang yang bepergian jauh sebagai pengisi waktu saja dalam perjalanan kami.'
.
Kata Ibnu Umar, 'Sepertinya aku melihat dia berpegangan pada sabuk pelana unta Rasulullah ﷺ , sedang kedua kakinya tersandung-sandung batu, sambil berkata, 'Sebenarnya kami hanyalah bersenda-gurau dan bermain-main saja.' Lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya,
.
"Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?"
(QS. At-Taubah : 65)
.
Beliau mengucapkan itu tanpa menengok dan tidak bersabda kepadanya lebih daripada itu. Orang yang menjadikan Allah, RasulNya, dan Al-Qur'an sebagai bahan candaan dikatakan kafir serta tidak diberi maaf oleh Rasulullah ﷺ. Sungguh berat konsekuensi ini.

Saling mengingatkan dalam kebaikan,

Sumber: @akhyar_abu_najla

Share:

TIDAK ADA ISTILAH “KULIT” UNTUK AJARAN ALLAH DAN RASUL-NYA

Keindahan sawah terasering di Shaanxi - Foto ANTARA News

Bismillah
Konsistensi dengan ajaran syariat dan mentaati Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam akan mendatangkan hidayah dan menjauhkan dari kesesatan.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

 قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَۚ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَّا حُمِّلْتُمْۗ وَاِنْ تُطِيْعُوْهُ تَهْتَدُوْاۗ وَمَا عَلَى الرَّسُوْلِ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ

"Katakanlah: 'Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (An-Nur 54)

Dan berfirman:

 اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ يَهْدِيْهِمْ رَبُّهُمْ بِاِيْمَانِهِمْۚ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَنْهٰرُ فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan." (Yunus 9)

Juga berfirman:

 وَيَزِيْدُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اهْتَدَوْا هُدًىۗ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ مَّرَدًّا

"Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal shalih yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu dan lebih baik kesudahannya." (Maryam 76)

Imam al-‘Izz bin ‘Abdus-Salam rahimahullah berkata,

"Tidak boleh mengatakan bahwa syariat itu qisyrun (kulit), padahal memuat banyak sekali manfaat dan kebaikan. Bagaimana bisa perintah untuk taat dan beriman disebut ‘kulit’?!
Siapapun yang melontarkan sebutan seperti ini tiada lain ia seorang yang dungu, celaka lagi kurang beradab. Seandainya pernyataan gurunya dikomentari sebagai qusyur (tidak penting) pastilah serta-merta ia akan mengingkari orang yang menanggapinya. Bagaimana ia bisa melontarkan predikat ‘kulit’ (tidak penting) kepada syariat, padahal syariat itu adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Maka, orang bodoh ini pantas mendapatkan sanksi yang sesuai dengan kesalahannya ini.”
(Al-Fatawa al-Maushiliyyah 68-69, Nukilan dari ash Shawarifu ‘anil-Haqq, 72-73

 (Abu Minhal)

Distributed by HIJRAH SALAF
Click to join, follow and share at:

https://linktr.ee/Hijrahsalafusshalih

📎Sunnah dijaga dengan kebenaran, kejujuran, dan keadilan bukan dengan kedustaan dan kedhaliman."
(Ibnu Taimiyyah rahimahullahu)

Share:

DOAKANLAH SAUDARAMU DI SAAT DIA TIDAK MENGETAHUINYA

 
Hotel Terdekat dengan Terasering Sawah Tegallalang di Tegallalang |  Hotels.com

Inilah mungkin yang banyak dilupakan oleh banyak orang atau mungkin belum diketahui. Padahal di antara do’a yang mustajab (terijabahi/terkabul) adalah do’a seorang muslim kepada saudaranya.

Berikut kami bawakan beberapa hadits yang shahih yang dibawakan oleh Bukhari dalam kitabnya Adabul Mufrod. Bukhari membawakan bab dalam kitabnya tersebut:

Bab278 – Do’a Seseorang kepada Saudaranya di Saat Saudaranya Tidak Mengetahuinya. Semoga bermanfaat.

Hadits pertama

Dari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“إن دعوة الأخ في الله تستجاب”

“Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).“

(Shohih secara sanad)

Hadits kedua

Dari Shofwan bin ‘Abdillah bin Shofwan –istrinya adalah Ad Darda’ binti Abid Darda’-, beliau mengatakan,

قدمت عليهم الشام، فوجدت أم الدرداء في البيت، ولم أجد أبا الدرداء. قالت: أتريد الحج العام ؟ قلت : نعم. قالت: فادع الله لنا بخير؛ فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول

“Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummud Darda’ (ibu mertua Shofwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abud Darda’ (bapak mertua Shofwan, pen). Ummu Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shofwan) berkata, “Iya.”

Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu do’akanlah kebaikan padaku karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”

: “إن دعوة المرء المسلم مستجابة لأخيه بظهر الغيب، عند رأسه ملك موكل، كلما دعا لأخيه بخير، قال: آمين، ولك بمثل”. قال: فلقيت أبا الدرداء في السوق، فقال مثل ذلك، يأثر عن النبي صلى الله عليه وسلم.

“Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”

Shofwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

(Shohih) Lihat Ash Shohihah (1399): [Muslim: 48-Kitab Adz Dzikr wad Du’aa’, hal. 88]

Hadits ketiga

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata bahwa seseorang mengatakan,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِمُحَمَّدٍ وَحْدَنَا

“Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad saja!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

لَقَدْ حَجَبْتَهَا عَنْ نَاسٍ كَثِيرٍ

“Sungguh engkau telah menyempitkan do’amu tadi dari do’a kepada orang banyak.”

(Shohih) Lihat Al Irwa’ (171): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 27-Bab kasih sayang terhadap sesama manusia dan terhadap hewan ternak, dari Abu Hurairah]

Pelajaran yang dapat dipetik dari hadits-hadits di atas

Pertama: Islam sangat mendorong umatnya agar dapat mengikat hubungan antara saudaranya sesama muslim dalam berbagai keadaan dan di setiap saat.

Kedua: Do’a seorang muslim kepada saudaranya karena Allah di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang sangat utama dan do’a yang akan segera terijabahi (mustajab). Orang yang mendo’akan saudaranya tersebut akan mendapatkan semisal yang didapatkan oleh saudaranya.

Ketiga: Ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’a seorang muslim kepada suadaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya.

Keempat: Malaikat tidaklah mengaminkan do’a selain do’a dalam kebaikan.

Kelima: Sebagaimana terdapat dalam hadits ketiga di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari Arab Badui di mana dia membatasi rahmat Allah yang luas meliputi segala makhluk-Nya, lalu dibatasi hanya pada dirinya dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saja.

Inilah beberapa pelajaran berharga dari hadits di atas. Janganlah lupakan saudaramu di setiap engkau bermunajat dan memanjatkan do’a kepada Allah, apalagi orang-orang yang telah memberikan kebaikan padamu terutama dalam masalah agama dan akhiratmu. Ingatlah ini!

Semoga Allah selalu menambahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat.



Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/485-doakanlah-saudaramu-di-saat-dia-tidak-mengetahuinya-2.html

Via HijrahApp

Barakallahu fiikum

Share:

RENUNGAN SURAT AL AN'AM AYAT 84-88

 Ini Alasan Mu Cang Chai Bisa Jadi Pesaing Wisata Sawah di Bali - Travel  Tempo.co

 Dalam surah Al-An'am 84-88 Allah memuji para Nabi dalam rangkaian ayat secara berurutan. Kemudian Allah menutup pujian tersebut dengan firman-Nya:

{ وَلَوۡ أَشۡرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ }

"Sekiranya mereka berbuat kesyirikan pada Allah, pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan." [QS Al-An`am: 88]

Demikianlah betapa tegasnya Allah dalam urusan kesyirikan,
Dan tak ada ruang bagi siapa pun.

Sungguh merupakan sebuah renungan bagi kita semua..

Pada akhir ayat di atas Allah ﷻ menegaskan akan bahaya kesyirikan. Tentunya para nabi mustahil melakukan kesyirikan. Namun Allah ﷻ hendak menegaskan betapa bahayanya dosa syirik, sehingga Allah menyatakan bahwa kesyirikan akan menggugurkan segala amal seseorang dan melepas dari level yang telah ia capai sebelumnya, bahkan meskipun ia adalah seorang nabi. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ﴾

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35)

Jika Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam yang merupakan bapaknya orang-orang yang bertauhid. Beliau masih khawatir dan selalu meminta keselamatan dari bahaya ke syirikan kepada Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati.

Maka harusnya kita lebih khawatir dan senantiasa memohon kepada Allah agar selamat dari bahaya kesyirikan.

Sebab meski kita rajin puasa, shalat, sedekah, umroh, zakat, qurban, Namun jika kita berbuat kesyirikan maka lenyapkah semua amal yang pernah kita kerjakan.

Ya Allah, berikan kami taufiq dan hidayah Mu, serta jauhkan kami dari kesyirikan.

✍ Habibie Quotes

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Share:

AMALAN DI USIA SENJA

 Bioma Padang Rumput: Pengertian, Karakteristik, dan Jenis-jenisnya |  kumparan.com

Surah An-Nashr tanda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan wafat

Allah Ta’ala berfirman,

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3)

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An Nashr: 1-3)

Ada sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Suatu hari Umar mengundang mereka dan mengajakku bersama mereka. Seingatku, Umar tidak mengajakku saat itu selain untuk mempertontonkan kepada mereka kualitas keilmuanku.

Lantas Umar bertanya, “Bagaimana komentar kalian tentang ayat (yang artinya), “Seandainya pertolongan Allah dan kemenangan datang (1) dan kau lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong (2) –hingga ahkir surat. (QS. An Nashr: 1-3).

Sebagian sahabat berkomentar (menafsirkan ayat tersebut), “Tentang ayat ini, setahu kami, kita diperintahkan agar memuji Allah dan meminta ampunan kepada-Nya, ketika kita diberi pertolongan dan diberi kemenangan.” Sebagian lagi berkomentar,

Kalau kami tidak tahu.” Atau bahkan tidak ada yang berkomentar sama sekali. Lantas Umar bertanya kepadaku, “Wahai Ibnu Abbas, beginikah kamu menafsirkan ayat tadi? “Tidak”, jawabku. “Lalu bagaimana tafsiranmu?”, tanya Umar. Ibnu Abbas menjawab,

Surat tersebut adalah pertanda wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah dekat. Allah memberitahunya dengan ayatnya: “Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan’, itu berarti penaklukan Makkah dan itulah tanda ajalmu

(Muhammad), karenanya “Bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan, sesungguhnya Dia Maha Menerima taubat.” Kata Umar, “Aku tidak tahu penafsiran ayat tersebut selain seperti yang kamu (Ibnu Abbas) ketahui.”” (HR. Bukhari, no. 4294)

Dalam Riyadh Ash-Shalihin ketika membawa bahasan ini, Imam Nawawi rahimahullah memberikan judul Bab “Bab 12. Anjuran untuk Meningkatkan Amal Kebaikan pada Akhir Usia.”

Inilah yang menjadi fase kehidupan hingga ajal menjemput

Allah Ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian

 (dibiarkan kamu hidup) sampai tua. Di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).” (QS. Al-Mukmin: 67)

Menurunnya fungsi tubuh

Masa tua adalah fase terakhir yang dihadapi manusia. Dalam ayat tadi disebutkan,

ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا

“kemudian (dibiarkan kamu hidup) sampai tua.”

Mengenai batasan usia tua, Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Syaikh (orang yang tua) adalah orang yang telah melewati 40 tahun.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur umatku antara 60 hingga 70 dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 3550; Ibnu Majah, no. 4236. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Saat fase ini mulai datang, kekuataan fisik sedikit demi sedikit menurun, ketajaman mata mulai berkurang sehingga dibutuhkan alat bantu untuk melihat, daya ingat menurun, dan kulit mengendur serta guratan-guratan tanda penuaan pun muncul. Rambut-rambut putih sedikit demi sedikit menghiasai kepalanya. Penyakit-penyakit degeneratif pun banyak muncul pada fase ini.

Dalam surah Yasin disebutkan pula,

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

“Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadiannya. Maka apakah mereka tidak memikirkannya?” (QS. Yaasiin: 68)

Ayat di atas semakna dengan ayat,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Ruum: 54)

Boleh minta panjang umur yang penting baik amalnya

Dari ‘Abdullah bin Busr, ada seorang Arab Badui bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapakah manusia yang paling baik. Jawaban Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“(Yang paling baik adalah) yang panjang umur dan baik pula amalnya.” (HR. Tirmidzi, no. 2329; Ahmad, 4:190. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Jangan malah sudah di usia senja, pikirannya hanyalah harta

Dalam hadits disebutkan,

قَلْبُ الشَّيْخِ شَابٌّ عَلَى حُبِّ اثْنَتَيْنِ حُبِّ الْعَيْشِ وَالْمَالِ

“Masih ada yang sudah berumur memiliki hati seperti anak muda yaitu mencintai dua hal: cinta berumur panjang (panjang angan-angan) dan cinta harta.” (HR. Muslim, no. 1046)

Dalam riwayat lain disebutkan,

يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ

“Ada yang sudah tua dari usia, namun masih bernafsu seperti anak muda yaitu dalam dua hal: tamak pada harta dan terus panjang angan-angan (ingin terus hidup lama).” (HR. Muslim, no. 1047)

Jangan malah makin tua, makin menjadi-jadi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan,

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ : شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ

“Ada tiga golongan yang Allah tidak berbicara kepada mereka pada hari Kiamat, tidak membersihkan mereka, dan tidak melihat kepada mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih: orang yang sudah tua tapi berzina, penguasa yang suka bohong, dan orang miskin yang sombong.” (HR. Muslim, no. 172)

Tambah usia harusnya bertambah semakin baik

Dalam hadits disebutkan,

لَا يَتَمَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتُ وَلَا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ. إِنَّهُ إِذَا مَاتَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ,  وَإِنَّهُ لَا يَزِيْدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلَّا خَيْرًا

“Janganlah seseorang dari kalian mengharapkan kematian. Dan jangan pula berdoa agar segera mendapat kematian sebelum kematian itu datang kepadanya. Sesungguhnya bila ia mati, maka terputuslah amalannya dan bahwa tidaklah usia seorang mukmin itu bertambah pada dirinya kecuali akan menambah kebaikan.” (HR. Muslim, No. 2682)

Bagaimana menghadapi usia tua?

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin (1:348) mengatakan, “Maka, seyogyanya orang yang usianya semakin menua untuk memperbanyak amal saleh. Meskipun, para remaja juga seharusnya demikian,

karena manusia tidak tahu kapan ia akan meninggal. Bisa saja, seorang pemuda meninggal pada usia mudanya atau ajalnya tertunda hingga ia tua. Akan tetapi, yang pasti, orang yang sudah berusia senja, ia lebih dekat kepada kematian, lantaran telah menghabiskan jatah usianya.”

AMALAN PADA USIA SENJA

 1. Lebih memerhatikan amalan-amalan wajib. Sebab, ibadah-ibadah yang bersifat wajib (fardhu) merupakan kewajiban yang bersifat individual yang harus ditegakkan

sendiri-sendiri oleh setiap Muslim dan Muslimah hingga ajal datang. Selain itu, amal-amal wajib adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala

 2. Menghindari hal-hal yang diharamkan oleh syariat.

 3. Menambah amalan-amalan sunnah.

 4. Banyak bertahmid, membaca istighfar, dan bertaubat.

 5. Memperbanyak amal-amal ringan, tapi berpahala besar, seperti berdzikir dan membaca shalawat.

 6. Rutin membaca dzikir pagi dan petang.

 7. Tetap aktif dalam thalabul ilmi (menghadiri majelis ilmu). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْذَرَ اللهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنَةً

“Allah tidak akan menerima argumen kepada seseorang yang Allah tunda ajalnya hingga mencapai 60 tahun.” (HR. Bukhari, no.641)

 8. Rutin mempelajari Alquran dan mentadabburinya (merenungkannya) lewat bahasan ulama dalam kitab tafsir (yang tentu lebih mendalam dari sekadar Alquran terjemah).

 9. Berpesan kepada anak-anak dan keturunan agar menjadi saleh dan salehah, gemar mendoakan orang tua baik saat masih hidup atau setelah meninggal, dan membantu mentalqin orang tua ketika akan meninggal.

Doa agar umur panjang dan penuh berkah

Rajinlah berdo’a seperti ini,

اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي

“ALLAHUMMA AK-TSIR MAALII WA WALADII, WA BAARIK LII FIIMAA A’THOITANII WA ATHIL HAYAATII ‘ALA THO’ATIK WA AHSIN ‘AMALII WAGH-FIR LII

(artinya: Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau beri. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan pada-Mu dan baguskanlah amalku serta ampunilah dosa-dosaku).”

(Diambil dari kumpulan doa dari Syaikh Sa’id bin Wahf Al-Qahthani rahimahullah dan bisa dilihat pula di buku 50 Doa Mengatasi Problem Hidup.

Semoga Allah beri taufik dan hidayah, moga usia kita terus penuh berkah.

🌐 Sumber Artikel : https://rumaysho.com

☕ Silahkan disebarkan, mudah2an anda mendapatkan bagian dari pahalanya ☕
Barakallah fikum.  
                                         

✒ Ditulis oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى

Share:

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

LISTEN QURAN

Listen to Quran

Popular Posts

Blog Archive

Recent Posts

Pages