RENUNGAN SURAT AL FURQAN AYAT 23

 AMALAN BAGAIKAN DEBU BETERBANGAN
Seperti Apakah Debu yang Suci Itu? - BERDAKWAH

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),
“Dan Kami tampakkan apa yang dahulu telah mereka amalkan lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23).

Tentang maksud “bagaikan debu yang beterbangan” Imam al-Baghawi rahimahullahmenjelaskan, “Artinya sia-sia, tidak mendapat pahala. Karena mereka tidak melakukannya [ikhlas] karena Allah ‘azza wa jalla.” (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 924).

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menafsirkan, “Apa yang dahulu telah mereka amalkan” yaitu berupa amal-amal kebaikan. Adapun mengenai makna “Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan” maka beliau menjelaskan, “Karena sesungguhnya amalan tidak akan diterima jika dibarengi dengan kesyirikan. (lihat Zaa’dul Masir, hal. 1014).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Setiap amalan yang tidak ikhlas dan tidak berada di atas ajaran syari’at yang diridhai [Allah] maka itu adalah batil/sia-sia.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6/103]).

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Sebab amalan yang diterima adalah amalan yang dilakukan oleh orang yang beriman lagi ikhlas, yang membenarkan para rasul dan mengikuti tuntunan mereka di dalam hal itu. (lihat al-Majmu’ah al-Kamilah [5/472]).

Semoga bermanfaat 🤲⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Jazakumullahu khairan.⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣

Share:

ALLAH MENYAYANGI HAMBANYA MELEBIHI KASIH SAYANG IBU KEPADA ANAKNYA

 
Mulanya, Hari Ibu Tak Sekadar Ungkapan Kasih Sayang...

✅Allah Azza wa jalla
 Sangat Menyayangi Hamba-Nya Melebihi Kasih Sayang Ibu Terhadap Anaknya
Dari Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu anhu
berkata: Didatangkanlah para tawanan perang kepada Rasulullah
Maka di antara tawanan itu terdapat seorang wanita yang susunya siap mengucur berjalan tergesa-gesa –
 sehingga ia menemukan seorang anak kecil dalam kelompok tawanan itu –
ia segera menggendong, dan menyusuinya. Lalu Nabi Muhammad shalallahu alaihiwas salam
  bersabda: Akankah kalian melihat ibu ini melemparkan anaknya ke dalam api? Kami menjawab: Tidak, dan ia mampu untuk tidak melemparkannya. Lalu Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah lebih sayang kepada hamba-Nya, melebihi sayangnya ibu ini kepada anaknya
” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

✅Apabila seorang Ibu tersebut tidak tega melempar anaknya ke dalam api, maka Allah tentu lebih tidak tega lagi melempar dan mencampakkan hamba-Nya ke dalam api neraka, akan tetapi apa yang terjadi? Hamba tersebut tidak mau mengenal Allah, tidak peduli kepada Allah dan agama-Nya, bahkan ia lari jauh dari Allah. Bagaimana Allah bisa sayang kepada hamba tersebut.

✅Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “
Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy,
“Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.”
 (HR. Bukhari no. 7404 dan Muslim no. 2751).

✅Allah menyelamatkan jiwa yang terperosok mengikuti hawa nafsunya
Taubat yang sungguh-sungguh akan mendatangkan limpahan ampunan
atas dosa-dosa seorang hamba. .
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: Wahai para hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendirinya, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Mengampuni semua dosa dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53).

✅Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
إن الله عز وجل يبسط يده بالليل ليتوب مسيء النهار، ويبسط يده بالنهار ليتوب مسيء الليل، حتى تطلع الشمس من مغربها
“Sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat hamba yang berdosa di siag hari. Dan Allah Ta’ala membentangkan tagan-Nya di siang hari untuk menerima taubat hamba yang berdosa di malam hari, sampai matahari terbit dari barat.”
(HR. Muslim).

Semoga tersedianya waktu ditengah kesibukan kita diisi dengan kegiatan yang menjadikan keridhoan dan  kasih sayang Allah azza wa jalla.

Allahu a'lam

Disusun Oleh Humaira Medina


Share:

RENUNGAN SURAT AL FURQON AYAT 65

 Bismillah.....

Paket Kambing Guling Untuk 15 orang Mantap - Makanan & Minuman - 813755631

😭 Seorang laki-laki shalih melewati seorang laki-laki yang sedang memanggang daging, dan orang shalih ini menangis.

Lelaki yang memanggang bertanya,"Mengapa tiba-tiba anda menangis ? Apakah anda membutuhkan daging ?"

Beliau menjawab,"Tidak... aku tidak membutuhkannya. Tapi aku menangis untuk anak adam (manusia).

Hewan dimasukkan ke dalam api dalam keadaan sudah mati. Sedangkan kelak anak adam (manusia) memasukinya dalam keadaan hidup-hidup!"

Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal". (QS Al-Furqan : 65).
__

مر أحد الصالحين برجل يشوي اللحم
فبكى !
فقال له : مالك تبكي ؟
أكنت محتـاجآ للحم ؟
قـآل : لآ . . . ولكن أبكي على ابن آدم !
يدخل الـحيوآن النار ميتا ، وابن آدم يدخلها حيا . !

ربنا اصرف عنا عذاب جهنم, ان عذابها كان غراما.
﴿الفرقان : ۶۵﴾

Semoga Allah ﷻ melindungi kita dari panasnya api neraka. Aamiin.

 Sumber : Habibie Quotes


____✍️📚⭐💫

Share:

SHALAT, SEBAB PENGGUGUR DOSA

Amalan Shalih 7 Golongan Ini Laksana Debu Beterbangan - Islampos

Salah satu buah (pahala) yang agung dari ibadah shalat adalah bahwa shalat tersebut adalah sebab dosa-dosa terampuni dan terhapusnya kesalahan -kesalahan kita.
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

*“Shalat lima waktu dan shalat Jumat ke Jumat berikutnya adalah penghapus untuk dosa di antaranya selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 233).*

Juga diceritakan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ

*“Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu dia mandi lima kali setiap hari? Apakah kalian menganggap masih akan ada kotoran (daki) yang tersisa padanya?”*

Para sahabat menjawab,

لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا

*“Tidak akan ada yang tersisa sedikit pun kotoran padanya.”*

Lalu beliau bersabda,

فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُواللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا

*“Seperti itu pula dengan shalat lima waktu, dengannya Allah akan menghapus semua kesalahan.”*
(HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 283)

Memohon Ampunan dalam Semua Posisi Shalat:
Dalam semua posisi shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa memohon ampunan. Hadits-hadits yang semakna dengan dua hadits di atas sangatlah banyak.
Oleh karena itu, disyariatkan untuk memperbanyak doa memohon ampunan ketika shalat, baik dalam doa istiftah, ruku’, sujud, duduk antara dua sujud, dan juga sebelum dan sesudah salam.

Ketika ruku’ dan sujud, kita disyariatkan membaca,

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

“Subhaanakallahumma rabbanaa wa bihamdika allahummagh firlii (Mahasuci Engkau wahai Tuhan kami, segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku.)”
(HR. Bukhari no. 794 dan Muslim no. 484)

Hadits di atas diceritakan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Doa lain yang disyaritkan dibaca ketika sujud adalah,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ

*“Allahummaghfirli dzanbi kullahu, diqqahu wajullahu, wa awwalahu wa akhirahu, wa ‘alaniyatahu wa sirrahu (Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku, yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, dan yang terang-terangan, maupun yang sembunyi-sembunyi).” (HR. Muslim no. 483).*

Hadits di atas diceritakan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Saat duduk di antara dua sujud, kita pun disyariatkan untuk memperbanyak doa memohon ampunan.
Dari sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di antara dua sujud dan lamanya seperti ketika beliau sujud.
Dan dalam duduk di antara dua sujud, beliau mengucapkan,

رَبِّ اغْفِرْ لِي رَبِّ اغْفِرْ لِي

*“Rabbighfirlii, Rabbighfirlii. (Wahai Rabbku, ampunilah aku.*
Wahai Rabbku, ampunilah aku.)”
(HR. Abu Dawud no. 874, sanadnya dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 818)

Begitu juga sebelum salam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa meminta ampunan. Diceritakan oleh ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, bahwa pada akhir tasyahud sebelum memberi salam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca,

اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Allahummagh firlii maa qaddamtu wa maa akhkhartu wamaa asrartu wa maa a’lantu wa asraftu wa maa anta a’lamu bihi minnii antal muqaddimu wa antal mu`akhkhiru laa ilaaha illaa anta
*(Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang lama dan yang baru, yang tersembunyi dan yang terlihat, yang aku telah melampaui batas.*

*Dan Engkau lebih tahu daripadaku.
Engkaulah yang memajukan dan memundurkan.
Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau).” (HR. Muslim no. 771).*

Demikian pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa meminta ampunan setelah salam. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Jika Rasulullah selesai shalat, beliau akan meminta ampunan tiga kali dan memanjatkan doa,

اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Allaahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarakta dzal jalaalil wal ikroom
*(Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan.
Maha Besar Engkau, wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan.”*

Kata Walid, maka kukatakan kepada Auza’i, “Lalu bagaimana bila hendak meminta ampunan?”
Jawabnya, “Engkau ucapkan saja, ‘Astaghfirullah, Astaghfirullah.’”(HR. Muslim no. 591).

Demikianlah kondisi shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau memohon ampunan sejak awal shalat ketika membaca doa istiftah
[1], ketika ruku’, ketika mengangkat kepala dari ruku’
[2], ketika sujud, ketika duduk di antara dua sujud, ketika duduk tasyahhud sebelum salam, dan bahkan setelah salam.
Sebagian haditsnya telah kami sebutkan di atas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,
“Maka tidaklah beliau berada dalam suatu keadaan (posisi) ketika shalat, juga ketika berada dalam salah satu rukun shalat, kecuali beliau akan meminta ampunan kepada Allah ketika itu.” (Jaami’ul Masaa’il, 6: 274-275) [3].

@Rumah Kasongan, 10 Shafar 1442/ 27 September 2020

Penulis: M. Saifudin Hakim
___________

Catatan kaki:
[1] HR. Muslim no. 201.
[2] HR. Muslim no. 771.

[3] Disarikan dari kitab Ta’zhiim Ash-Shalaat  hal. 111-114, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullahu Ta’ala, cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.

Semoga bermanfaat

Share:

TAFSIR SURAT AL FURQON AYAT 23

 AMALAN BAGAIKAN DEBU BETERBANGAN
MyBabah.com: Bagai debu yang berterbangan...

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),
“Dan Kami tampakkan apa yang dahulu telah mereka amalkan lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23).

Tentang maksud “bagaikan debu yang beterbangan” Imam al-Baghawi rahimahullahmenjelaskan, “Artinya sia-sia, tidak mendapat pahala. Karena mereka tidak melakukannya [ikhlas] karena Allah ‘azza wa jalla.” (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 924).

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menafsirkan, “Apa yang dahulu telah mereka amalkan” yaitu berupa amal-amal kebaikan. Adapun mengenai makna “Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan” maka beliau menjelaskan, “Karena sesungguhnya amalan tidak akan diterima jika dibarengi dengan kesyirikan. (lihat Zaa’dul Masir, hal. 1014).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Setiap amalan yang tidak ikhlas dan tidak berada di atas ajaran syari’at yang diridhai [Allah] maka itu adalah batil/sia-sia.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6/103]).

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Sebab amalan yang diterima adalah amalan yang dilakukan oleh orang yang beriman lagi ikhlas, yang membenarkan para rasul dan mengikuti tuntunan mereka di dalam hal itu. (lihat al-Majmu’ah al-Kamilah [5/472]).

Semoga bermanfaat 🤲⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣

Jazakumullahu khairan.⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣

***
@ikhwan_subang_
#ikhwansubang

Share:

RENUNGAN SURAT AL LUQMAN AYAT 31

 TAQLID BUTA AKAN MENGGIRING KE JAHANAM.
Isyarat Larangan Taklid Buta: Tafsir Al-Baqarah Ayat 170

Fanatik terhadap guru atau tradisi nenek moyang, telah mendarah daging dalam tubuh umat ini. Yang menjadi masalah adalah ketika pendapat mereka tersebut jelas-jelas menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah tetapi dibela mati-matian. Yang penting kata mereka ‘ sami’na wa atho’na’ (apa yang dikatakan oleh guru kami, tetap kami dengar dan kami taat). Entah pendapat tersebut merupakan perbuatan menyelisihi dalil, yang penting kami tetap patuh kepada guru-guru kami.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَ اِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَا لُوْا بَلْ نَـتَّـبِـعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ اٰبَآءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَا نَ الشَّيْطٰنُ يَدْعُوْهُمْ اِلٰى عَذَا بِ السَّعِيْرِ
 

Dan apabila dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang diturunkan Allah! Mereka menjawab, (Tidak), tetapi kami (hanya) mengikuti kebiasaan yang kami dapati dari nenek moyang kami. Apakah mereka (akan mengikuti nenek moyang mereka) walaupun sebenarnya setan menyeru mereka ke dalam azab api yang menyala-nyala (Neraka)?".
(QS. Luqman 31: Ayat 21)

Imam Abu Hanifah mengatakan,Haram bagi seorang berfatwa dengan pendapatku sedang dia tidak mengetahui dalilnya.”
 

Imam Malik bin Annas mengatakan,“Setiap orang sesudah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat diambil dan ditinggalkan perkataannya, kecuali perkataan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
(Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlih 2/91)
 

Imam Asy-Syafi’ mengatakan, apabila kalian menemukan pendapat di dalam kitabku yang berseberangan dengan sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ambillah sunnah tersebut dan tinggalkan pendapatku.”
(Al-Majmu’ 1/63).
.
Imam Ahmad bin Hambal mengatakan,Janganlah kalian taklid kepadaku, jangan pula bertaklid kepada Malik, ats-Tsauri, al-Auza’i, tapi ikutilah dalil.”
(I’lam al-Muwaqqi’in 2/201;Asy-Syamilah,).

Allah Tidak Pernah Memerintahkan untuk Taqlid kepada guru, nenek moyang atau siapapun dia.
Yang Allah Perintahkan Agar kita *Ittiba kepada satu Orang. Yaitu Nabi-Nya Shalallahu 'alaihi wa sallam.

Semoga kita dapat berhati hati dalam memilih jalan yang haq seperti jalan yang ditempuh rosulullah bersama sahabatnya.

Baarakallah fikum, semoga bermanfaat.

Allahu a'lam

Share:

TAFSIR AL BAQARAH AYAT 214

 JALAN MENUJU SURGA PENUH DENGAN RINTANGAN


18. Antara Ketinggian & Kebersamaan Allah Serta Makna Ayat: “Kami Lebih  Dekat dari Urat Lehernya”(Bantahan Allah Menyatu Dengan Tubuh Manusia/Allah  Dimana-mana) – assunahsalafushshalih

Bismillah
Syaikh as-Sa'di rahimahullahu ta’ala menyebutkan dalam tafsir (surat al-Baqarah: 214):

"Sesungguhnya telah terjadi pada umat-umat terdahulu apa yang diceritakan oleh Allah tentang mereka, “mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan,” yakni, kemiskinan dan penyakit pada tubuh mereka, “serta digoncangkan (dengan bermacam macam cobaan),” dengan berbagai macam ketakutan seperti ancaman pembunuhan dan pengusiran, harta mereka diambil, pembunuhan orang-orang yang dicintai, dan macam-macam hal yang berbahaya hingga kondisi mereka memuncak dan goncangan itu membuat mereka merasa bahwa kedatangan pertolongan Allah itu lambat padahal mereka yakin akan kedatangannya. Akan tetapi karena situasi yang dahsyat dan kesulitan itu hingga berkatalah “Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’

Dan ketika datang pertolongan Allah pada kesusahan, dan setiap kali perkara telah terasa sulit kemudian menjadi lapang, Allah berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.”

Demikianlah setiap orang yang menegakkan kebenaran itu pasti akan diuji, dan ketika persoalannya semakin sulit dan susah lalu dia bersabar dan tegar menghadapinya, niscaya ujian tersebut akan berubah menjadi anugerah untuknya, dan segala kesulitan itu menjadi ketenangan.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”
(HR. Muslim no. 5178)

Al Imam an-Nawawi rahimahullahu ta’ala menjelaskan dalam syarah hadits tersebut:

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa seseorang itu tidak akan masuk surga sehingga mengamalkan perkara-perkara yang dibenci jiwa, begitupula sebaliknya seseorang itu tidak akan masuk neraka sehingga ia mengamalkan perkara-perkara yang disenangi oleh syahwat.

Diantara amalan-amalan yang dibenci jiwa, seperti halnya bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah Ta’ala serta menekuninya, bersabar disaat berat menjalankannya, menahan amarah, memaafkan orang lain, berlaku lemah lembut, bershadaqah, berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah, bersabar untuk tidak memperturutkan hawa nafsu dan yang lainnya. Sementara perkara yang menghiasi neraka adalah perkara-perkara yang disukai syahwat yang jelas keharamannya.

Waallahu a'lam

(Asy-Syamil.com)
📎Sunnah dijaga dengan kebenaran, kejujuran, dan keadilan bukan dengan kedustaan dan kedhaliman."
(Ibnu Taimiyyah rahimahullahu)

Share:

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

LISTEN QURAN

Listen to Quran

Popular Posts

Blog Archive

Recent Posts

Pages