Surat Al Ikhlas Terjemahan, Tafsir dan Asbabun Nuzul

Sebab Turunnya Surat Al Ikhlas - Ust. Oemar Mita, Lc. - YouTubeSurat Al Ikhlas merupakan surat ke-112 dalam Al Quran. Berikut ini terjemahan Surat Al Ikhlas, asbabun nuzul dan tafsirnya.

Artikel ini bukanlah tafsir baru. Kami berusaha mensarikan dari Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fi Zhilalil Quran, Tafsir Al Azhar, Tafsir Al Munir dan Tafsir Al Misbah. Agar ringkas dan mudah dipahami.

Terjemahan Surat Al Ikhlas

Berikut ini Surat Al Ikhlas dalam tulisan Arab, tulisan latin dan terjemahan bahasa Indonesia:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

(Qul huwalloohu ahad. Alloohush shomad. Lam yalid walam yuulad. Walam yakul lahuu kufuwan ahad)

Katakanlah: “Dialah Allah Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”
Asbabun Nuzul Surat Al Ikhlas

Surat yang terdiri dari empat ayat ini termasuk surat Makkiyah. Mengapa dinamakan Surat Al Ikhlas padahal di dalamnya tidak ada kata al ikhlas? Karena al ikhlas adalah tauhid, beribadah hanya kepadaNya. Dan surat ini berisi tentang pokok-pokok tauhid.

Surat yang diturunkan di Makkah setelah Surat Al Falaq dan Annas ini juga dinamakan Surat Qul huwallaahu ahad. Diambil dari ayat pertama dari surat ini.

Menurut Syaikh Wahbah Az Zuhaili, surat ini juga dinamakan pula dengan Surat at Tafrid, at Tajrid, at Tauhid, an Najah dan al Wilaayah. Dinamakan pula dengan Surat al Ma’rifah dan al Asas.

Ibnu Katsir mengutip riwayat Imam Ahmad dari Ubay bin Ka’ab mengenai asbabun nuzul Surat Al Ikhlas. Bahwa ada orang-orang musyrik yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Hai Muhammad, gambarkanlah kepada kami tentang Tuhanmu.” Maka Allah menurunkan surat Al Ikhlas.

Riwayat lain menyebutkan, ada orang yang Badui yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia bertanya, “Gambarkanlah kepada kami tentang Tuhanmu.” Maka turunlah surat ini.

Keutamaan Surat Al Ikhlas

Surat Al Ikhlas memiliki banyak fadhilah atau keutamaan. Di antaranya adalah tiga keutamaan berikut ini:
1. Dicintai Allah

Rasulullah pernah mengangkat seorang laki-laki menjadi pemimpin pasukan khusus untuk menyelesaikan suatu tugas. Ketika menjadi imam sholat bagi pasukannya, laki-laki itu selalu membaca Surat Al Ikhlas.

Setelah pasukan pulang, mereka menceritakan kepada Rasulullah. Mendapati laporan itu, Rasulullah menyuruh mereka untuk menanyakan kepada laki-laki tersebut, apa alasannya selalu membaca surat ini dalam sholatnya.

“Karena di dalamnya ada sifat Tuhan Yang Maha Pemurah dan aku suka membacanya dalam sholatku,” jawab laki-laki itu.

Setelah jawaban itu disampaikan kepada Rasulullah, beliau pun bersabda:

أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ

“Sampaikan kepadanya, bahwa Allah menyukainya.” (HR. Bukhari)
2. Wasilah masuk surga

Dalam hadits lain yang juga diriwayatkan Imam Bukhari, pernah ada seorang laki-laki menjadi imam Masjid Quba. Setiap kali telah membaca surat lain dari Al Quran, ia menutupnya dengan surat Al Ikhlas.

Sahabat yang lain pun mengingatkannya, “Engkau telah membaca surat ini, tetapi kelihatannya engkau merasa tidak cukup dengannya. Lalu engkau membaca surat Al Ikhlas.”

“Aku tidak akan meninggalkan surat ini. Jika engkau mau menjadikanku imam kalian, maka aku akan tetap melakukannya. Dan jika kalian tidak suka, maka aku tidak mau menjadi imam kalian.”

Hal itu kemudian diceritakan kepada Rasulullah saat beliau mengunjungi Masjid Quba. “Hai Fulan, apa yang mencegahmu hingga tidak mau melakukan apa yang diminta oleh teman-temanmu, mengapa engkau selalu membaca Surat Al Ikhlas dalam sholatmu?” tanya Rasulullah.

“Aku menyukainya,” jawab laki-laki tersebut.

Mendengar jawaban itu, Rasulullah lantas bersabda:

حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ

“Kecintaanmu kepada surat ini dapat memasukkanmu ke dalam surga.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Tirmidzi, ada seorang laki-laki yang berkata kepada Rasulullah bahwa dirinya menyukai surat ini. Maka Rasulullah pun bersabda:

إِنَّ حُبَّكَ إِيَّاهَا يُدْخِلُكَ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya kecintaanmu kepada surat ini dapat memasukkanmu ke dalam surga.” (HR. Tirmidzi)
3. Sepertiga Al Quran

Dalam Shahih Bukhari dikisahkan seorang laki-laki yang membaca Surat Al Ikhlas berulang-ulang dalam shalat sunnah. Orang yang mendengarnya lantas menceritakan kepada Rasulullah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman Tangan-Nya. Sesungguhnya ia benar-benar sebanding dengan sepertiga Al Quran.” (HR. Tirmidzi)

Baca juga: Bacaan Sholat
Surat Al Ikhlas ayat 1

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: “Dialah Allah Yang Mahaesa.”

Ketika orang-orang Yahudi mengatakan, “Kami menyembah Uzair anak Allah.” Orang Nasrani mengatakan, “Kami menyembah Isa anak Allah.” Orang-orang musyrik mengatakan, “Kami menyembah berhala.” Maka Allah menegaskan bahwa Dia Mahaesa.

Dialah Allah Tuhan Yang Satu, Yang tiada tandingan-Nya, tiada lawan-Nya, tiada sekutu bagi-Nya.

Kata ahad (أحد) terambil dari akar kata wahdah (وحدة) yang artinya kesatuan. Juga kata waahid (واحد) yang berarti satu. Kata ahad dalam ayat ini berfungsi sebagai sifat Allah yang artinya Allah memiliki sifat tersendiri yang tidak dimiliki oleh selain-Nya.

Menurut Sayyid Qutb, “qul huwallaahu ahad” merupakan lafal yang lebih halus dan lebih lembut daripada kata “ahad.” Sebab ia menyandarkan kepada makna “wahid” bahwa tidak ada sesuatu pun selain Dia bersama Dia dan bahwa tidak ada sesuatu pun yang sama denganNya.

“Ini adalah ahadiyyatul-wujud, keesaan wujud. Karena itu tidak ada hakikat kecuali hakikatNya dan tidak ada wujud yang hakiki kecuali wujudNya. Segala maujud yang lain hanyalah berkembang atau muncul dari wujud yang hakiki itu dan berkembang dari wujud dzatiyah itu,” tulis Sayyid Qutb dalam Tafsir fi Zilalil Qur’an.
Surat Al Ikhlas ayat 2

اللَّهُ الصَّمَدُ

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.”

Ibnu Abbas menjelaskan tafsir ayat ini. Maksudnya adalah, seluruh makhluk bergantung kepada Allah dalam kebutuhan dan sarana mereka. Dialah Tuhan yang mahasempurna dalam perilakuNya. Mahamulia yang mahasempurna dalam kemulianNya. Mahabesar yang mahasempurna dalam kebesaranNya.

Al Hasan mengatakan, arti ayat ini adalah Allah Mahahidup lagi terus menerus mengurus makhlukNya.

Menurut Tafsir Al Misbah, ash shamad (الصمد) terambil dari kata kerja shamada (صمد) yang artinya menuju. Ash shamad merupakan kata jadian yang artinya “yang dituju.”

Sedangkan menurut Sayyid Qutb, arti ash shamad (الصمد) secara bahasa adalah tuan yang dituju, yang suatu perkara tidak akan terlaksana kecuali dengan izinnya. Allah adalah Tuan yang tidak ada tuan sebenarnya selain Dia. Dialah satu-satunya yang dituju untuk memenuhi segala hajat makhluk.
Surat Al Ikhlas ayat 3

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

“Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah Allah tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak mempunyai istri.

Sayyid Qutb menjelaskan, hakikat Allah itu tetap, abadi, azali. Sifatnya adalah sempurna dan mutlak dalam semua keadaan. Kelahiran adalah suatu kemunculan dan pengembangan, wujud tambahan setelah kekurangan atau ketiadaan. Hal demikian mustahil bagi Allah. Kelahiran juga memerlukan perkawinan. Lagi-lagi, ini mustahil bagi Allah.
Surat Al Ikhlas ayat 4

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

Kata kufuwan (كفوا) terambil dari kata kufu’ (كفؤ) yang artinya sama. Tidak ada seorang pun yang setara apalagi sama dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dialah yang memiliki segala sesuatu dan yang menciptakannya, maka mana mungkin Dia memiliki tandingan dari kalangan makhlukNya yang bisa mendekati atau menyamaiNya.

Menurut Sayyid Qutb, makna ayat ini adalah, tidak ada yang sebanding dan setara dengan Allah. Baik dalam hakikat wujudnya maupun dalam sifat dzatiyahnya.

Baca juga: Isi Kandungan Surat Al Ikhlas
Penutup Tafsir Surat Al Ikhlas

Surat ini berisi rukun-rukun aqidah dan dan syariat Islam paling penting. Yakni mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menyifati Allah dengan sifat sempurna dan menafikan segala sekutu bagiNya.

Surat ini merupakan bantahan telak kepada orang-orang kafir baik dari kalangan kaum pagan (musyrik) maupun Yahudi dan Nasrani. Mereka semua telah menyekutukan Allah. Maka Allah menjelaskan tauhid yang benar, yang harus diimani oleh umat Islam. Dalam empat ayat yang padat dan sarat kandungan makna yang dalam.

Demikian Surat Al Ikhlas mulai dari terjemahan, asbabun nuzul, keutamaan hingga tafsirnya. Semoga bermanfaat bagi kita semua, menambah kedekatan dengan Allah dan Dia berkenan menganugerahkan cintaNya kepada kita. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah] 

Sumber :https://bersamadakwah.net/surat-al-ikhlas/
Share:

Tafsir Surat Al ‘Ashr: Membebaskan Diri Dari Kerugian

Renungan Surat Al-AshrAllah ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).

Surat Al ‘Ashr merupakan sebuah surat dalam Al Qur’an yang banyak dihafal oleh kaum muslimin karena pendek dan mudah dihafal. Namun sayangnya, sangat sedikit di antara kaum muslimin yang dapat memahaminya. Padahal, meskipun surat ini pendek, akan tetapi memiliki kandungan makna yang sangat dalam. Sampai-sampai Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,

لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسَعَتْهُمْ

”Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir 8/499].
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar” [Syarh Tsalatsatul Ushul].

Iman yang Dilandasi dengan Ilmu

Dalam surat ini Allah ta’ala  menjelaskan bahwa seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kerugian yang dimaksud dalam ayat ini bisa bersifat mutlak, artinya seorang merugi di dunia dan di akhirat, tidak mendapatkan kenikmatan dan berhak untuk dimasukkan ke dalam neraka. Bisa jadi ia hanya mengalami kerugian dari satu sisi saja. Oleh karena itu, dalam surat ini Allah mengeneralisir bahwa kerugian pasti akan dialami oleh manusia kecuali mereka yang memiliki empat kriteria dalam surat tersebut [Taisiir Karimir Rohmaan hal. 934].

Kriteria pertama, yaitu beriman kepada Allah. Dan keimanan ini tidak akan terwujud tanpa ilmu, karena keimanan merupakan cabang dari ilmu dan keimanan tersebut tidak akan sempurna jika tanpa ilmu.  Ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i (ilmu agama). Seorang muslim wajib (fardhu ‘ain) untuk mempelajari setiap ilmu yang dibutuhkan oleh seorang mukallaf dalam berbagai permasalahan agamanya, seperti prinsip keimanan dan syari’at-syari’at Islam, ilmu tentang hal-hal yang wajib dia jauhi berupa hal-hal yang diharamkan, apa yang dia butuhkan dalam mu’amalah, dan lain sebagainya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلىَ كُلِّ مَسْلَمٍ

”Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah nomor 224 dengan sanad shahih).

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

يَجِبُ أَنْ يَطْلَبَ مِنَ الْعِلْمِ مَا يَقُوْمُ بِهِ دِيْنَهُ

”Seorang wajib menuntut ilmu yang bisa  membuat dirinya mampu menegakkan agama.”  [Al Furu’ 1/525].

Maka merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim untuk mempelajari berbagai hal keagamaan yang wajib dia lakukan, misalnya yang berkaitan dengan akidah, ibadah, dan muamalah. Semua itu tidak lain dikarenakan seorang pada dasarnya tidak mengetahui hakikat keimanan sehingga ia perlu meniti tangga ilmu untuk mengetahuinya. Allah ta’ala  berfirman,
مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلا الإيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ  نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا

”Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Quran itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (Asy Syuura: 52).

Mengamalkan Ilmu

Seorang tidaklah dikatakan menuntut ilmu kecuali jika dia berniat bersungguh-sungguh untuk mengamalkan ilmu tersebut. Maksudnya,  seseorang dapat mengubah ilmu yang telah dipelajarinya tersebut menjadi suatu perilaku yang nyata dan tercermin dalam pemikiran dan amalnya.
Oleh karena itu, betapa indahnya perkataan Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah

لاَ يَزَالُ الْعَالِمُ جَاهِلاً حَتىَّ يَعْمَلَ بِعِلْمِهِ فَإِذَا عَمِلَ بِهِ صَارَ عَالِمًا

”Seorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat mengamalkan ilmunya. Apabila dia mengamalkannya, barulah dia menjadi seorang alim” (Dikutip dari Hushul al-Ma’mul).

Perkataan ini mengandung makna yang dalam, karena apabila seorang memiliki ilmu akan tetapi tidak mau mengamalkannya, maka (pada hakikatnya) dia adalah orang yang bodoh, karena tidak ada perbedaan antara dia dan orang yang bodoh, sebab ia tidak mengamalkan ilmunya.

Oleh karena itu, seorang yang berilmu tapi tidak beramal tergolong dalam kategori yang berada dalam kerugian, karena bisa jadi ilmu itu malah akan berbalik menggugatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتىَّ يَسْأَلَ عَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ بِهِ
,”Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga dia ditanya tentang ilmunya, apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu tersebut.” (HR. Ad Darimi nomor 537 dengan sanad shahih).

Berdakwah kepada Allah

Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah ta’ala, adalah tugas para Rasul dan merupakan jalan orang- orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik. Allah ta’ala berfirman,
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (١٠٨)

“Katakanlah, “inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108).
Jangan anda tanya mengenai keutamaan berdakwah ke jalan Allah. Simak firman Allah ta’ala berikut,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushshilat : 33).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
فَوَاللَّهِ لَأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan perantara dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah” (HR. Bukhari nomor 2783).

Oleh karena itu, dengan merenungi firman Allah dan sabda nabi di atas, seyogyanya seorang ketika telah mengetahui kebenaran, hendaklah dia berusaha menyelamatkan para saudaranya dengan mengajak mereka untuk memahami dan melaksanakan agama Allah dengan benar.

Sangat aneh, jika disana terdapat sekelompok orang yang telah mengetahui Islam yang benar, namun mereka hanya sibuk dengan urusan pribadi masing-masing dan “duduk manis” tanpa sedikit pun memikirkan kewajiban dakwah yang besar ini.
Pada hakekatnya orang yang lalai akan kewajiban berdakwah masih berada dalam kerugian meskipun ia termasuk orang yang berilmu dan mengamalkannya. Ia masih berada dalam kerugian dikarenakan ia hanya mementingkan kebaikan diri sendiri (egois) dan tidak mau memikirkan bagaimana cara untuk mengentaskan umat dari jurang kebodohan terhadap agamanya. Ia tidak mau memikirkan bagaimana cara agar orang lain bisa memahami dan melaksanakan ajaran Islam yang benar seperti dirinya. Sehingga orang yang tidak peduli akan dakwah adalah orang yang tidak mampu mengambil pelajaran dari sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

”Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian, hingga ia senang apabila saudaranya memperoleh sesuatu yang juga ia senangi.” (HR. Bukhari nomor 13).
Jika anda merasa senang dengan hidayah yang Allah berikan berupa kenikmatan mengenal Islam yang benar, maka salah satu ciri kesempurnaan Islam yang anda miliki adalah anda berpartisipasi aktif dalam kegiatan dakwah seberapapun kecilnya sumbangsih yang anda berikan.

Bersabar dalam Dakwah

Kriteria keempat adalah bersabar atas gangguan yang dihadapi ketika menyeru ke jalan Allah ta’ala. Seorang da’i (penyeru) ke jalan Allah mesti menemui rintangan dalam perjalanan dakwah yang ia lakoni. Hal ini dikarenakan para dai’ menyeru manusia untuk mengekang diri dari hawa nafsu (syahwat), kesenangan dan adat istiadat masyarakat yang menyelisihi syari’at [Hushulul ma’mul hal. 20].

Hendaklah seorang da’i mengingat firman Allah ta’ala berikut sebagai pelipur lara ketika berjumpa dengan rintangan. Allah ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ (٣٤)

”Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) para rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka” (QS. Al-An’am : 34).
Seorang da’i wajib bersabar dalam berdakwah dan tidak menghentikan dakwahnya. Dia harus bersabar atas segala penghalang dakwahnya dan bersabar terhadap gangguan yang ia temui. Allah ta’ala menyebutkan wasiat Luqman Al-Hakim kepada anaknya (yang artinya),

”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Luqman :17).

Pada akhir tafsir surat Al ‘Ashr ini, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,
فَبِالِأَمْرَيْنِ اْلأَوَّلِيْنَ، يُكَمِّلُ اْلإِنْسَانُ نَفْسَهُ، وَبِالْأَمْرَيْنِ اْلأَخِيْرِيْنَ يُكَمِّلُ غَيْرَهُ، وَبِتَكْمِيْلِ اْلأُمُوْرِ اْلأَرْبَعَةِ، يَكُوْنُ اْلإِنْسَانُ قَدْ سَلِمَ تعل مِنَ الْخُسَارِ، وَفَازَ بِالْرِبْحِ [الْعَظِيْمِ]

”Maka dengan dua hal yang pertama (ilmu dan amal), manusia dapat menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua hal yang terakhir (berdakwah dan bersabar), manusia dapat menyempurnakan orang lain. Dan dengan menyempurnakan keempat kriteria tersebut, manusia dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar” [Taisiir Karimir Rohmaan hal. 934].

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menyempurnakan keempat hal ini, sehingga kita dapat memperoleh keuntungan yang besar di dunia ini, dan lebih-lebih di akhirat kelak. Amiin.

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Artikel www.muslim.or.id


Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/2535-tafsir-surat-al-ashr-membebaskan-diri-dari-kerugian.html
Share:

TAFSIR AS-SA’DIY SURAT AL-BAYYINAH

Tafsir Surat Al Bayyinah (Tafsir As Sa'di)Pengantar Penerjemah: Surat al-Bayyinah ini dinyatakan oleh para Ulama tafsir sebagai surat Madaniyyah, artinya: surat yang diturunkan saat Nabi berada di Madinah, atau saat periode Madinah (setelah Nabi berhijrah ke Madinah). Salah satu karakteristik surat Madaniyyah adalah di dalamnya ada penyebutan tentang Ahlul Kitab, Yahudi dan Nashara, sebagai bimbingan bagi kaum muslimin untuk meyakini bagaimana status mereka, atau bagaimana bermuamalah dengan mereka. Berikut ini akan disampaikan nukilan dan terjemahan tafsir as-Sa’diy (Taisiir Kariimir Rahman fii Tafsiri Kalaamil Mannaan karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy rahimahullah) terhadap surat tersebut, semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan taufiq dan pertolongan-Nya kepada segenap kaum muslimin.

. ✅Ayat ke-1 sampai 6 Surat al-Bayyinah لَمۡ يَكُنِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ١ رَسُولٞ مِّنَ ٱللَّهِ يَتۡلُواْ صُحُفٗا مُّطَهَّرَةٗ ٢ فِيهَا كُتُبٞ قَيِّمَةٞ ٣ وَمَا تَفَرَّقَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ ٤ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ٦ 

Orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab dan kaum musyrikin tidak akan meninggalkan (agama mereka) hingga sampai kepada mereka bukti yang nyata (tanda yang telah dijanjikan pada kitab mereka terdahulu). (Yaitu) seorang Rasul dari Allah (Nabi Muhammad) yang membacakan kepada mereka lembaran-lembaran yang disucikan (alQuran). Di dalamnya terdapat (isi) kitab yang lurus. Dan tidaklah terpecah belah orang-orang Ahlul Kitab kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka hanyalah diperintah untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama, dan menegakkan sholat, serta menunaikan zakat. Itu adalah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab dan kaum musyrikin berada di Neraka Jahannam kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk (Terjemahan Q.S al-Bayyinah ayat 1-6).

Penjelasan dalam Tafsir as-Sa’diy:

 Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) Tidaklah orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab, yaitu Yahudi dan Nashara, dan kaum musyrikin pada seluruh umat, melepaskan diri dari kekufuran dan kesesatan mereka. Artinya, mereka akan terus menerus berada dalam penyimpangan dan kesesatan mereka, tidaklah waktu berlalu bertahun-tahun selain menambah kekufuran mereka.

 “Hingga datangnya bukti yang jelas”, (yaitu) bukti yang terang benderang. Kemudian Allah menjelaskan apakah bukti tersebut. (Yaitu) Rasul yang Allah utus yang mengajak manusia kepada kebenaran, dan diturunkan kepada beliau kitab yang beliau baca, untuk mengajari manusia hikmah dan menyucikan mereka, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Karena itu Allah menyatakan (yang artinya) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan. Artinya, terjaga untuk tidak didekati Syaithan.Tidak ada yang menyentuhnya kecuali yang disucikan. Karena itulah Kalam (ucapan) yang tertinggi. 

Allah menyatakan tentangnya: di dalamnya, pada lembaran-lembaran itu, terdapat kitab-kitab yang lurus, yaitu berita-berita yang jujur, perintah-perintah yang adil, yang menunjukkan pada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. 

Jika telah datang kepada mereka bukti ini, saat itulah akan jelas siapa yang benar-benar mencari kebenaran dan siapa yang tidak demikian. Sehingga orang yang celaka, mengalami kecelakaan setelah disampaikan bukti, dan menjadi hidup (mulia) orang yang hidup (mulia) dengan adanya bukti. 

Kalau Ahlul Kitab tidak beriman dan tunduk kepada Rasul ini, itu bukanlah hal pertama dari kesesatan dan pembangkangan mereka. Mereka terpecah belah berselisih hingga menjadi kelompok-kelompok. 

“Kecuali setelah datang kepada mereka bukti”, yang mengharuskan orang-orang yang menerimanya untuk bersatu di dalamnya. Namun, karena kebusukan dan kerendahan mereka, tidaklah petunjuk yang datang kecuali semakin membuat mereka sesat (karena menentang, pent). Tidak ada lagi kecuali kebutaan.

 Padahal seluruh kitab berasal dari sumber yang sama, agama yang sama. Pada seluruh syariat (Nabi yang diutus, pent) tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beribadah hanya kepada Allah mengikhlaskan agama. Artinya, mereka harus mempersembahkan seluruh ibadah yang lahiriah maupun batin hanya mengharap Wajah Allah (ikhlas) dan mencari kedekatan dengan Allah.Agama itu adalah yang hanif, artinya berpaling dari seluruh agama yang menyelisihi agama Tauhid. 

Pada ayat ini (ayat ke-5) terdapat pengkhususan penyebutan sholat dan zakat, padahal sudah masuk dalam pernyataan: beribadah kepada Allah dengan ikhlas, karena keduanya (sholat dan zakat) memiliki keutamaan dan kemuliaan tersendiri. Barangsiapa yang menegakkan dua ibadah tersebut (sholat dan zakat) ia bisa (dengan taufiq Allah, pent) menegakkan seluruh syariat agama. 

Yang demikian itu, tauhid dan keikhlasan dalam agama adalah agama yang lurus yang bisa menyampaikan seseorang kepada Surga yang penuh kenikmatan. Sedangkan agama selainnya akan menghantarkan pada Neraka. 

Kemudian Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang kafir setelah datangnya bukti yang jelas. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab dan kaum musyrik berada di Neraka Jahannam”. Adzabnya telah mengepung mereka, dan sungguh keras (pedih) siksaannya. “Mereka kekal di dalamnya”, tidak akan dikurangi adzab untuk mereka, dan mereka pun dalam keadaan putus asa di dalamnya. 

“Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk” karena mereka mengenal kebenaran kemudian meninggalkannya. Kerugianlah bagi mereka di dunia dan di akhirat. Lafadz Asli dalam Tafsir as-Sa’diy (ayat 1-6 Surat al-Bayyinah):

 يقول تعالى: { لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ } أي: [من] اليهود والنصارى { وَالْمُشْرِكِينَ } من سائر أصناف الأمم. { مُنْفَكِّينَ } عن كفرهم وضلالهم الذي هم عليه، أي: لا يزالون في غيهم وضلالهم، لا يزيدهم مرور السنين إلا كفرًا. { حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ } الواضحة، والبرهان الساطع، ثم فسر تلك البينة فقال: { رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ } أي: أرسله الله، يدعو الناس إلى الحق، وأنزل عليه كتابًا يتلوه، ليعلم الناس الحكمة ويزكيهم، ويخرجهم من الظلمات إلى النور، ولهذا قال: { يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً } أي: محفوظة عن قربان الشياطين، لا يمسها إلا المطهرون، لأنها في أعلى ما يكون من الكلام. ولهذا قال عنها: { فِيهَا } أي: في تلك الصحف { كُتُبٌ قَيِّمَةٌ } أي: أخبار صادقة، وأوامر عادلة تهدي إلى الحق وإلى صراط مستقيم، فإذا جاءتهم هذه البينة، فحينئذ يتبين طالب الحق ممن ليس له مقصد في طلبه، فيهلك من هلك عن بينة، ويحيا من حي عن بينة. وإذا لم يؤمن أهل الكتاب لهذا الرسول وينقادوا له، فليس ذلك ببدع من ضلالهم وعنادهم، فإنهم ما تفرقوا واختلفوا وصاروا أحزابًا { إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ } التي توجب لأهلها الاجتماع والاتفاق، ولكنهم لرداءتهم ونذالتهم، لم يزدهم الهدى إلا ضلالا ولا البصيرة إلا عمى، مع أن الكتب كلها جاءت بأصل واحد، ودين واحد فما أمروا في سائر الشرائع إلا أن يعبدوا { اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ } أي: قاصدين بجميع عباداتهم الظاهرة والباطنة وجه الله، وطلب الزلفى لديه، { حُنَفَاءَ } أي: معرضين [مائلين] عن سائر الأديان المخالفة لدين التوحيد. وخص الصلاة والزكاة [بالذكر] مع أنهما داخلان في قوله { لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ } لفضلهما وشرفهما، وكونهما العبادتين اللتين من قام بهما قام بجميع شرائع الدين. { وَذَلِكَ } أي التوحيد والإخلاص في الدين، هو { دِينُ الْقَيِّمَةِ } أي: الدين المستقيم، الموصل إلى جنات النعيم، وما سواه فطرق موصلة إلى الجحيم. ثم ذكر جزاء الكافرين بعدما جاءتهم البينة، فقال: { إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ } قد أحاط بهم عذابها، واشتد عليهم عقابها، { خَالِدِينَ فِيهَا } لا يفتر عنهم العذاب، وهم فيها مبلسون، { أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ } لأنهم عرفوا الحق وتركوه، وخسروا الدنيا والآخرة.

 ✅Ayat ke-7 Surat al-Bayyinah 

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ ٧ 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk (Terjemah Q.S al-Bayyinah ayat 7) Penjelasan dalam Tafsir as-Sa’diy:

 لأنهم عبدوا الله وعرفوه، وفازوا بنعيم الدنيا والآخرة 

Karena mereka (orang beriman dan beramal sholih) beribadah kepada Allah dan mengenal-Nya, mereka beruntung dengan kenikmatan di dunia dan di akhirat ✅Ayat ke-8 Surat al-Bayyinah

 جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ ٨ 

Balasan untuk mereka (orang beriman dan beramal sholih) di sisi Rabb mereka adalah Surga-Surga Adn yang sungai-sungai mengalir di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selamanya. Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada Allah. Itu adalah (balasan) bagi yang takut kepada Rabbnya (Terjemah Q.S al-Bayyinah ayat 8) Penjelasan dalam Tafsir as-Sa’diy:

 جنات إقامة، لا ظعن فيها ولا رحيل، ولا طلب لغاية فوقها، { تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ } فرضي عنهم بما قاموا به من مراضيه، ورضوا عنه، بما أعد لهم من أنواع الكرامات وجزيل المثوبات { ذَلِكَ } الجزاء الحسن { لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ } أي: لمن خاف الله، فأحجم عن معاصيه، وقام بواجباته 

Surga-Surga sebagai tempat menetap. Tidak akan beranjak dan pergi lagi darinya. Tidak pula mencari yang di atasnya. “Mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selamanya, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah”. Allah ridha kepada mereka karena mereka melakukan hal-hal yang diridhainya. Mereka pun ridha kepada Allah karena berbagai kemuliaan dan balasan kebaikan yang berlimpah yang disediakan untuk mereka. Balasan yang baik itu adalah bagi yang takut kepada Allah, menahan diri meninggalkan hal-hal yang dilarangNya, dan menegakkan kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikannya.

Sumber Artikel: https://salafy.or.id/tafsir-as-sadiy-surat-al-bayyinah/ | Salafy.or.id
Share:

SIFAT KAUM MUNAFIK DALAM URUSAN AQIDAH


 MENENTANG ALLAH AZZA WA JALLA DAN RASUL-NYA

Di antara karakter kaum munafik yang paling menonjol adalah penentangan terhadap Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ مَنْ يُحَادِدِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَأَنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ الْخِزْيُ الْعَظِيمُ

Tidaklah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allâh dan Rasûl-Nya, maka sesungguhnya nerakan jahannamlah baginya, kekal mereka di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar. [At-Taubah/9:63]

Pangkal makna penentangan (muhâddah) adalah menyelisihi, memerangi, membangkang, memusuhi dan melawan.[1] Dan semua makna ini terhimpun dalam diri orang munafik.

fenomena penentangan terhadap Allâh Azza wa Jalla yang paling signifikan, tampak pada berbagai hal berikut:

    Keluar dari iman setelah memasukinya. Dosa ini lebih parah dari kekufuran yang asli. Manusia yang lurus bila telah merasakan manisnya iman, tak mungkin keluar darinya. Sedangkan munafik berbalik lagi ke dalam kekufuran. Mengenai hal ini Allâh berfirman dalam rangkaian ayat 1-3 dari Surat Al-Munâfiqûn. Di antaranya Allâh berfirman:

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ

Yang demikian itu (yaitu perbuatan buruk kaum  munafik tersebut) adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. [Al-Munâfiqûn / 63:3]

1. Melakukan penipuan, dengan menampakkan iman dan menyembunyikan kekufuran. Bagaimana mungkin manusia yang merupakan makhluk lemah mengira dirinya bisa menipu Allâh Penguasa langit dan bumi?

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Mereka hendak menipu Allâh dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. [Al-Baqarah /2: 9]

2. Tidak mengenal Allâh sehingga berprasangka buruk terhadap-Nya, dengan meyakini bahwa Allâh Azza wa Jalla tidak menolong kaum Mukminin. Ini seperti ucapan salah seorang munafik tentang kaum Muslimin kala mereka hendak keluar menuju Tabuk, “Apakah kalian menyangka bahwa memerangi orang-orang Romawi sama dengan memerangi kaum lainnya? Demi Allâh! Sungguh, seakan-akan aku melihat kalian esok sedang digiring dalam keadaan terikat!”[2] Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ

dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allâh. [Al-Fath /48:6]

3. Mereka sangat getol meminta keridhaan dari sosok yang tidak berkuasa memberikan bahaya atau manfaat dan alai dari keridhaan Allâh Azza wa Jalla .

4. Mereka menentang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mendustakan dan mengharapkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengikutnya hancur. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Sifat nifak seringkali terjadi terkait dengan hak Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan inilah yang sering disebut Allâh dalam al-Quran mengenai kemunafikan mereka selama kehidupan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[3]

5. Mereka memberi walâ’ (loyalitas) kepada musuh Allâh, kaum musyrikin dan ahlul kitab. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ ۚ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allâh akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasûl-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. [Al-Mâ’idah /5:52]

Mereka khawatir kalau umat Islam kalah, sehingga mereka memberi walâ’ kepada kaum kuffar.[4]

6. Mereka menyelisihi Syariat Allâh Azza wa Jalla dan membangkang perintah-Nya. Bila diseru berinfak di jalan Allâh, mereka enggan; Bila diseru jihad, tidak mau berangkat. Mereka tidak mengerjakan shalat kecuali dalam kemalasan; dan berbagai bentuk penentangan lainnya.

    RIYA DAN MENCARI RIDHA MANUSIA

Amalan kaum munafik hanyalah tumpukan riya’. Iman sama sekali tidak mengisi relung hati mereka. Mereka tidak takut akan kebesaran Allâh Azza wa Jalla . Penyakit hatilah yang memicu mereka menampakkan amalan baik di depan manusia, demi kepentingan dunia mereka.

Riya masuk dalam kategori nifak kecil, bila dasar amalnya untuk Allâh Azza wa Jalla , namun dipertengahan amal, riya’ merasukinya. Namun bisa juga masuk kategori nifak besar; yaitu bila dasar amalnya memang bukan untuk mencari wajah Allâh. Jenis nifak ini hampir tidak terjadi kecuali pada kaum munafik yang merahasiakan kekufuran. Mungkin mereka menunaikan sebagian syiar Islam, namun hakikatnya mereka mencemoohnya.

Mereka infakkan harta atas dasar riya’ dan nifak, untuk mencapai ridha manusia, sehingga Allâh Azza wa Jalla tidak akan menerimanya.

يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ ۖ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَىٰ عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allâh tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu. [At-Taubah /9: 96]

Selama Allâh Azza wa Jalla tidak ridha kepada kaum fasik, maka seorang Mukmin juga tidak boleh ridha kepada orang yang tidak diridhai Allâh Azza wa Jalla . Namun bila mereka meninggalkan kefasikan, maka Allâh l akan meridhai mereka, dan kaum Mukmin pun akan ridha kepada mereka.

Dalam hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

Barangsiapa mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allâh, Allâh pun murka kepadanya, dan Allâh membuat manusia marah kepadanya.[5]

Karena itulah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam takut kalau umat beliau terjangkiti penyakit riya’ ini.

    LUPA KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan; sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (bakhil, tidak mau menginfakkan harta di jalan-Nya). Mereka telah lupa kepada Allâh, maka Allâh melupakan mereka. [At-Taubah /9 : 67]

Asal makna kata nisyân (lupa) adalah meninggalkan; yaitu tidak mengingat apa yang diminta untuk diingat.[6]

Lupanya kaum munafik terhadap Allâh Azza wa Jalla bisa mengandung beberapa maksud:

    Syirik kepada Allâh Azza wa Jalla
    Meninggalkan perintah-Nya secara total. Ini lebih umum dari bentuk di atas. Seperti dikatakan al-Fakhrurrâzî: “Mereka meninggalkan perintah-Nya hingga posisinya seperti halnya perkara yang dilupakan.”[7]
    Mereka lupa mengingat Allâh.[8]
    Mereka lupa akan kekuasaan Allâh Azza wa Jalla dan sunnah Kauniyyah-Nya, yaitu adzab yang ditimpakan kepada orang-orang batil dan munafik yang menentang Allâh Azza wa Jalla dan Rasûl-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Ketika mereka lupa kepada Allâh Azza wa Jalla , Allâhpun memberikan hukuman setimpal, yaitu Allâh Azza wa Jalla melupakan dan membiarkan mereka dalam adzab, dan kesesatan, karena hati mereka tidak pantas menggenggam hidayah-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allâh, lalu Allâh menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. [Al-Hasyr /59: 19]

Orang  yang lupa kepada Allâh sejatinya berada di jahannam dunia sebelum ia dibenamkan di neraka akhirat.[9]

    TIDAK RIDHA DENGAN PUTUSAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Allâh berfirman:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah. [At-Taubah /9: 58]

Ini seperti yang dikatakan Dzul Khuwaishirah kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallammembagi harta ghanimah, “Berlaku adillah! Wahai Rasûlullâh!” Rasûl menjawab, “Celaka engkau! Lalu siapa yang berbuat adil bila aku tidak adil?!”[10]

Kaum munafik tidak ridha dengan putusan Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka menganggap pembagian harta tersebut atas dasar hawa nafsu. Sejatinya itu bentuk kerakusan mereka terhadap dunia.

Keridhaan terhadap putusan Rasûl Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah konsekuensi syahadat Muhammad Rasûlullâh, dan juga konsekuensi syahadat Lâ ilâha illallâh. Seseorang tidak dikatakan mengakui syahadat ini kecuali bila ia taat kepada Rasûlullâh, membenarkan dan ridha terhadap keputusannya. Barangsiapa dalam masalah yang diperselisihkan berhukum pada selain Rasûl, maka sungguh ia telah berdusta.[11]

Dan pada masa sekarang ini, kita benar-benar menghadapi kalangan munafik yang tidak ridha dan menolak syariat Allâh Azza wa Jalla . Lebel usang dan tidak sesuai dengan laju zaman mereka capkan pada syariat ini. Ada kelompok lain memang tidak menolak syariat Allâh Azza wa Jalla , tetapi memahaminya semau mereka. Mereka ubah dan balik hukum Allâh Azza wa Jalla sesuai kepentingan mereka. Justru syariat syaitan lah yang mereka tegakkan, di mana pokok asasi Islam telah diubah, atas nama pembaharuan agama.[12]

Mereka ini seperti hal yang digambarkan Allâh Azza wa Jalla dalam rangkaian ayat ke-60 sampai ke-65 dari Surat an-Nisâ’.

Ketika seorang dari Anshar tidak menerima putusan Rasûl dalam sengketa masalah aliran air antara dirinya dengan Zubair Radhiyallahu anhu , maka imanpun tercabut dari orang Anshar ini. Lalu bagaimana pula dengan orang yang tidak ridha terhadap putusan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam masalah agama?![13]

    MENGEJEK RASUL SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DAN KAUM MUKMININ

Kaum Mukminin, terutama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , telah merasakan berbagai bentuk cemoohan dari kaum munafik. Allâh Azza wa Jalla berfirman.

وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ ۚ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ ۚ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Di antara mereka (orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan, “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.” Katakanlah, “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allâh, mempercayai orang-orang Mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu.” Dan orang-orang yang menyakiti Rasûlullâh itu, bagi mereka azab yang pedih. [At-Taubah /9:61]

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari as-Suddi ia berkata bahwa sekelompok munafik hendak mencerca Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian dari mereka melarang hal tersebut, dan berkata, “Kami takut kalau celaan itu sampai kepada Muhammad, ia pun akan membalas kalian.” Sebagian lagi berkata, “Muhammad itu tidak lain adalah orang yang percaya semua yang ia dengar. Kita bersumpah kepadanya, iapun akan mempercayai kita.” Maka turunlah firman Allâh di atas.[14] Ini adalah bentuk kelancangan terhadap risalah dan pengembannya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni tuduhan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempercayai semua ucapan tanpa diperiksa dulu.

Adab luhur dari Nabi yang mendengar ucapan dengan penuh perhatian, dan memperlakukan manusia  sesuai dengan lahiriyah yang selaras dengan prinsip ajaran syariat, mereka namakan dan gambarkan tidak sebagaimana semestinya.

Demikianlah kaum munafik di setiap zaman dan tempat. Mereka tidak canggung untuk mengejek apapun, walaupun ditujukan kepada Ulama rabbani, walaupun juga dalam hal yang sakral dalam agama. Yang mereka sakralkan hanyalah dunia yang mereka jalani.

Allâh Azza wa Jalla membantah mereka dengan berfirman, “[Katakanlah, “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu], mempercayai yang bermanfaat berupa wahyu yang membuat manusia menjadi shalih.[15]

Begitu pula dengan para pewaris Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallamyaitu para Ulama dan da’i di setiap zaman. Mereka adalah sumber kebaikan dan petunjuk, akan tetapi kaum munafik tidak mengetauinya.

Pada perang Tabuk, seseorang berkata, “Belum pernah kami melihat seperti para ahli Quran kita. Mereka orang paling rakus perutnya. Tidak pernah pula kita melihat yang paling dusta lisannya; tidak pula yang paling pengecut di medan perang (seperti halnya mereka).” Hingga sampailah berita itu kepada Rasûlullâh dan turunlah al-Quran. Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma berkata, “Seolah aku melihatnya bergelantung pada tali pengikat pelana unta Rasûl; sedangkan bebatuan mengantuk (kaki)nya. Sambil ia berkata, “Kami hanya ngobrol dan bersenda gurau belaka.” Namun Rasûlullâh hanya mengucapkan, “Apakah terhadap Allâh, ayat-ayat-Nya dan Rasûl-Nya kalian mengolok-olok?” [At-Taubah /9: 65].[16]

Tabiat kaum munafik adalah mereka khawatir kalau-kalau kedok dan penyelewengan mereka tersingkap. Mereka tidak tahu, betapapun mereka sembunyikan, namun itu akan terbaca dari mimik wajah dan keceplosan  juga dari lidahnya. Benar apa yang Allâh Azza wa Jalla firmankan:

وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ

Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka. [Muhammad /47: 30]

Dan barangsiapa yang mencemooh sesuatupun dari Kitabulah atau sunnah Rasûl-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih, atau mengejek dan mencelanya, maka ia telah kafir kepada Allâh.[17]

    FASIK

Secara bahasa, fasik berarti keluar. Sedangkan dalam istilah syar’i fasik bermakna keluar dari ketaatan kepada Allâh; baik secara total yang berarti ia kafir dan musyrik; atau secara parsial, artinya ia ahli maksiat, meski termasuk kaum Muslimin.[18]

Munafik telah keluar dari ketaatan Allâh Azza wa Jalla . Orang munafik yang menyembunyikan kekufuran namun menampakkan Islam, padahal ia membencinya, ia adalah fasik besar. Adapun seorang Muslim yang terkontaminasi oleh sesuatu dari cabang-cabang nifak, tapi pondasi iman masih ada di hatinya, maka ia fasik kecil.

Allâh Azza wa Jalla berfirman mengenai mereka.

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allâh, maka Allâh melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik, mereka  itulah orang-orang yang fasik. [At-Taubah /9: 67]

Di sini,  dengan tegas divonis bahwa kaum munafik itu adalah orang-orang fasik. Di penghujung ayat tersebut, diungkapkan dengan shîghat qashr (mengkhususkan sesuatu dengan sesuatu lain. Dalam hal ini mengkhususkan kaum munafik dengan sifat fasik), untuk menerangkan bahwa tidak ada kefasikan yang lebih besar daripada kefasikan kaum munafik.

Allâh Azza wa Jalla telah melabeli kaum munafik sebagai fasik di berbagai tempat dalam al-Quran, termasuk dalam Surat at-Taubah. Allâh Azza wa Jalla memberitakan bahwa amal mereka tidak diterima, dan tidak diringankan bagi mereka adzab di Jahannam. Sebab vonis ini adalah karena mereka kaum fasik.

قُلْ أَنْفِقُوا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا لَنْ يُتَقَبَّلَ مِنْكُمْ ۖ إِنَّكُمْ كُنْتُمْ قَوْمًا فَاسِقِينَ

Katakanlah: “Nafkahkanlah hartamu, baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik. [At-Taubah /9: 53]

Allâh juga tidak akan memberi petunjuk kepada mereka. Seperti dalam firman Allâh yang artinya: Dan Allâh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. [At-Taubah /9:80]

Allâh Azza wa Jalla juga melarang untuk menyhalatkan dan mendoakan mereka yang mati dalam kondisi tersebut. Sebab mereka mati dalam keadaan menentang Allâh Azza wa Jalla dan Rasûl-Nya. Allâh berfirman.

وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

“Dan janganlah kamu sekali-kali shalati (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allâh dan Rasûl-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. [At-Taubah /9: 84]

Hal-hal tersebut di atas ‘illah (sebab)nya adalah karena kekufuran dan kefasikan mereka. Dan kita bisa memahami bentuk kebalikan dari itu semua; yakni bahwa terdapat kabar gembira bagi kaum Mukminin yang tulus yang tidak bercampur nifak dan syirik.

    TIDAK MENGAMBIL MANFAAT DARI AYAT-AYAT ALLAH AZZA WA JALLA

Allâh berfirman.

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ ﴿١٢٤﴾ وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ ﴿١٢٥﴾ أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ ﴿١٢٦﴾ وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ نَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ هَلْ يَرَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ ثُمَّ انْصَرَفُوا ۚ صَرَفَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Adapun yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada yang lain (sambil berkata): “Adakah seorang dari (orang-orang Muslimin) yang melihat kamu?” Sesudah itu merekapun pergi. Allâh telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti. [At-Taubah /9:124-127]

Kaum munafik ketika turun ayat-ayat Allâh, mereka bertanya-tanya kepada sesamanya penuh keraguan, siapakah yang dapat mengambil manfaat dari ayat tersebut?!

Kaum Mukmin mendapatkan dua hal yaitu menambah iman dan mendapat kabar gembira. Sedangkan kaum munafik mendapatkan dua musibah: semakin bertambah kekufuran mereka di samping kekufuran dasarnya. Dan bahwa mereka mati dalam keadaan kafir.

Dari penggalan ayat di atas [maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?”] bisa disimpulkan bahwa kaum munafik selalu memeriksa sesama mereka, agar siraman cahaya iman tidak menyelinap ke hati mereka. Terutama para dedengkot munafik dan kekafiran, mereka tidak hanya membiarkan bawahannya sekedar jatuh dalam kesesatan belaka, akan tetapi terus mencuci otak dan memantau mereka agar terus berkutat dalam kesesatannya. Meski berbagai musibah menimpa kaum munafik, namun itu semua tidak juga membuat mereka jera dan kembali kepada Allâh Azza wa Jalla. Mereka sama sekali tidak bisa mengambil pelajaran dan tidak bisa membuka celah hati mereka untuk menerima cahaya iman. Mereka tidak bisa mengambil pelajaran dari ayat-ayat syar’iyyah yaitu al-Quran, tidak juga ayat-ayat kauniyyah yang mereka saksikan dan alami.

Penyebab bertenggernya tabiat ini tidak lain karena ada penyakit di hati mereka dan ada ketimpangan dalam keyakinan mereka. Mereka kaitkan semua kejadian dan peristiwa pada sebab-sebab alamiah semata. Telah hilang dari jiwa mereka kesadaran imani. Tak tergerak sama sekali untuk bertaubat, bahkan pendahuan taubat pun tidak tampak dari gerak-gerik mereka.

Faktor yang membuat mereka tidak bisa mendulang manfaat dari ayat-ayat-Nya adalah:

    Ada penyakit hati, baik kekufuran, keraguan, atau maksiat, baik karena dorongan syahwat ataupun adanya syubhat. Ini bisa dirujuk pada Surat Al-Mâ’idah ayat ke-52.
    Cinta dan mengedepankan kesenangan dunia yang akan sirna. Yang membuat para dedengkot kafir Quraisy, termasuk juga Kaisar Raja Romawi, enggan menerima kebenaran tidak lain adalah takut kalau kedudukan dan pangkat mereka sirna. Bisa dilihat pada ayat ke-11 dan ke-12 dari Surat al-Fath.

Semoga Allah memelihara kita dari sifat-sifat busuk ini.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] At-Tafsîr Al-Kabîr 8/122, Mufradât Alfâzhil Qur’ân Al-Karîm, 222, Irsyâd Al-`Aql As-Salîm 4/78.

[2] Ad-Durrul Mantsûr 4/231.

[3] Majmû` Al-Fatâwâ 7/639.

[4] Majmû` Al-Fatâwâ 7/194.

[5] HR. At-Tirmidzi bab Kesudahan orang yang mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, no. 2414 dari Aisyah Radhiyallahu anhuma.

[6] Al-Mufradât pada kata nasiya, hlm. 803.

[7] Mafâtîhul Ghaib, 16/129.

[8] Lihat Tafsîrul Qur`ânil `Azhîm 2/368.

[9] Lihat Al-Jawâb Al-Kâfî, 118.

[10] Lihat Tafsîr ath-Thabari 11/507. Asal hadits ini diriwayatkan al-Bukhârî dalam kitab manâqib no 3610, juga Muslim kitab az-zakât no 2456.

[11] Lihat Fathul Majîd Syarh Kitabut-Tauhid, hlm. 350-360.

[12] Lihat: Mafhûm Tajdîd Ad-Dîn 281.

[13] Lihat Taisîrul Azîzil Hamîd, hlm. 500.

[14] Ad-Durrul Mantsûr 4/227.

[15] Lihat: Tafsîr Ath-Thabari 11/537, Al-Muharrar al-Wajîz 3/53, Tafsir Ibnu Katsir 4/110.

[16] Tafsîr Ath-Thabari, 11/543.

[17] Lihat Taisîr al-Karîmir Rahmân 3/260; yaitu dalam rangkaian ayat ke-64 sampai 66 dari Surat at-Taubah.

[18] Inilah madzhab ahlussunnah wal jama’ah dan yang dipegangi salaf umat ini. Ini yang shahih yang ditunjukkan berbagai nash. Lain dengan yang dipegang muktazilah dan khawarij.

Read more https://almanhaj.or.id/6840-sifat-kaum-munafik-dalam-urusan-aqidah.html

Share:

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

LISTEN QURAN

Listen to Quran

Popular Posts

Blog Archive

Recent Posts

Pages