SEMUA MUSIBAH TERJADI ATAS IZIN ALLAH

 BMKG: Aktivitas Gempa Bumi Meningkat 11 ...

Allah Subhanallahu wa ta'ala berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. At-Taghabun: 11)

Syeikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan:

"Orang yang menganggap bahwa gempa, tanah longsor, banjir, angin kencang dan sejenisnya hanyalah bencana alam semata dan tidak menggugah imannya, maka itu menunjukkan kerasnya hati bahkan matinya hati. Sewajibnya bagi manusia untuk mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah, jangan menganggap seperti angin berlalu saja". (Tafsir Surat Yasin hlm. 164)

Semoga setiap musibah yang terjadi, kita semua dapat menjadikan pelajaran yang bermakna serta sarana menjadi lebih baik lagi dalam ketaqwaan.

*

✍️ Habibie Quotes, 

Share:

GEMPA DAN TSUNAMI (MEGATRUSH YANG DIKHAWATIRKAN) DIPICU AKIBAT DOSA-DOSA MANUSIA BUKAN FENOMENA ALAM BIASA

 Apa Penyebab Gempa Bumi? | Bpbd Badung

Allah Ta’ala berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” 
📖 (Ar-Rum: 41).

👤Ka'ab radhiyallahu'anhu mengatakan,
"Sesungguhnya bumi itu hanya akan berguncang apabila dilakukan berbagai kemaksiatan di atasnya." 
📚 (Al Jawabul Kafi 73)

Pernah terjadi gempa di kota Madinah di zaman Umar bin Khatab, maka Umar berceramah kepada kaum muslimin,

“Wahai manusia, apa yang kalian lakukan? Betapa cepatnya maksiat yang kalian lakukan. Jika terjadi gempa bumi lagi, kalian tidak akan menemuiku lagi di Madinah.”

Diceritakan oleh Ibn Abi Dunya dari Anas bin Malik, bahwa beliau bersama seorang lelaki lainnya pernah menemui Aisyah.

Lelaki ini bertanya, “Wahai Ummul Mukminin, jelaskan kepada kami tentang fenomena gempa bumi!” Aisyah menjawab,

إذا استباحوا الزنا ، وشربوا الخمور ، وضربوا بالمعازف ، غار الله عز وجل في سمائه ، فقال للأرض : تزلزلي بهم ، فإن تابوا ونزعوا ، وإلا أهدمها عليهم

“Jika mereka sudah membiarkan zina, minum khamar, BERMAIN MUSIK, maka Allah yang ada DI ATAS akan CEMBURU.

Kemudian Allah perintahkan kepada bumi: ‘BERGUNCANGLAH, jika mereka bertaubat dan meninggalkan maksiat, BERHENTILAH.

Jika tidak, HANCURKAN mereka’.”

Orang ini bertanya lagi,

“Wahai Ummul Mukminin, apakah itu siksa untuk mereka?”

Beliau menjawab,

بل موعظة ورحمة للمؤمنين ، ونكالاً وعذاباً وسخطاً على الكافرين ..

“Itu adalah PERINGATAN dan RAHMAT bagi kaum mukminin, serta HUKUMAN, adzab, dan murka untuk orang kafir.” 
📚 (Al-Jawab Al-Kafi, Hal. 87–88)
.
.

Diriwayatkan dari Sahl bin sa'ad bahwasanya Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam bersabda yang artinya,

“Tidaklah dekat akhir zaman kecuali (akan) banyaknya tanah longsor (gempa bumi) , kerusuhan dan perubahan muka " . Ada yg bertanya , " kapankah itu terjadi ?" . Beliau bersabda ," ketika merajalelanya bunyi bunyian (musik) dan biduan wanita” 
📚 (Lihat Shahih Al Jamie'  ash shagir juz 3 no 3559. Al albany) . 
.
.

Dari pernyataan Umar, beliau memahami bahwa penyebab terjadinya gempa di Madinah adalah perbuatan maksiat yang dilakukan masyarakat yang tinggal di Madinah.

Pernyataan ini disampaikan kepada para sahabat dan mereka tidak mengingkarinya. Ini menunjukkan bahwa mereka sepakat dengan pemahaman Umar radhiallahu ‘anhu.

Gempa Bumi Ini Terjadi Agar Manusia Meninggalkan Kemaksiatan Dan Kembali Kepada Allah

👤Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa gempa bumi ini terjadi agar manusia meninggalkan kemaksiatan dan kembali kepada Allah, beliau berkata,

ﺃﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﻴﺎﻥ ﺑﺎﻟﺘﻨﻔﺲ ﻓﺘﺤﺪﺙ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺰﻻﺯﻝ ﺍﻟﻌﻈﺎﻡ ﻓﻴﺤﺪﺙ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻟﻌﺒﺎﺩﻩ ﺍﻟﺨﻮﻑ ﻭﺍﻟﺨﺸﻴﺔ ﻭﺍﻹﻧﺎﺑﺔ ﻭﺍﻹﻗﻼﻉ ﻋﻦ ﻣﻌﺎﺻﻴﻪ ﻭﺍﻟﺘﻀﺮﻉ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﺍﻟﻨﺪﻡ

“Allah –Subhanah- terkadang mengizinkan bumi untuk bernafas maka terjadilah gempa bumi yang dasyat, sehingga hamba-hamba Allah ketakutan dan mau kembali kepada-Nya, meninggalkan kemaksiatan dan merendahkan diri kepada Allah dan menyesal” 
📚 (Miftah Daris Sa’adah 1/221).

👤Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

” الواجب عند الزلازل وغيرها من الآيات والكسوف والرياح الشديدة والفياضانات البدار بالتوبة إلى الله سبحانه , والضراعة إليه وسؤاله العافية , والإكثار من ذكره واستغفاره

“Kewajiban ketika terjadi gempa bumi dan lainnya semisal gerhana, angin kuat, banjir, yaitu menyegerakan taubat, merendahkan diri kepada-Nya, meminta afiyah/keselamatan, memperbanyak dzikir dan ISTIHGFAR” 
📚 (Majmu’ Fatawa)
.

Share:

KISAH BAI’AT HINDUN BINTI ‘UTBAH

Abu Dujanah, Sahabat Berani Mengambil ...

Pada zaman Jahiliyah, Hindun terkenal sebagai wanita yang sombong lagi ambisius hingga kalimat Allah berjaya dan terjadi Fathu Makkah. Takdir Allah Jalla Sya’nuhu menghendaki agar pahlawan Jahiliyah wanita berubah menjadi pahlawan Islam wanita.

Tatkala Fathu Makkah, suaminya, Abu Sufyan bin Harb kembali bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang muslim dan ia berteriak lantang, “Wahai kafir Quraisy, ketahuilah sesungguhnya aku telah masuk Islam. Maka masuk Islamlah kalian! Sungguh Muhammad telah datang kepada kalian dengan pasukan yang tidak sanggup kalian hadapi. Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia selamat.”

Lalu berdirilah Hindun dan memegang jambang suaminya seraya berkata, “Seburuk-buruk pemimpin suatu kaum adalah engkau. Wahai penduduk Makkah, berperanglah kalian! Alangkah buruknya pemimpin kaum ini.”

Abu Sufyan menimpali, “Celaka kalian! Janganlah kalian terperdaya dengan ocehan wanita ini. Sungguh Muhammad telah datang dengan membawa kekuatan yang tidak mungkin kalian hadapi. Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia aman.” Mereka berkata, “Semoga Allah membinasakanmu. Mana cukup rumahmu untuk menampung kami semua?” Kemudian Abu Sufyan menjawab, “Barangsiapa menutup pintu rumahnya maka ia aman. Dan barangsiapa masuk masjid maka ia aman.” Lalu ketika itu orang-orang berpencar. Ada yang masuk ke dalam rumah dan ada pula yang masuk ke dalam masjid.

Pada hari kedua, setelah Fathu Makkah, Hindun berkata kepada suaminya, Abu Sufyan, “Aku ingin mengikuti Muhammad. Bawalah aku untuk menghadapnya.” Abu Sufyan heran, “Sungguh aku kemarin melihat engkau sangat benci dengan perkataan tersebut?” Hindun menjawab, “Demi Allah, aku belum pernah melihat Allah disembah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid sebagaimana yang aku lihat kemarin malam. Demi Allah, kemarin malam aku melihat orang-orang tidaklah melakukan sesuatu di masjid melainkan mereka shalat dengan berdiri, rukuk, dan sujud.”

Abu Sufyan berkata kepada istrinya, “Sesungguhnya engkau telah banyak berbuat salah. Maka pergilah bersama seorang laki-laki dari kaummu.” Akhirnya, Hindun pergi menemui ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu kemudian keduanya menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu para wanita juga sedang bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah ia meminta izin dan diizinkan masuk, maka Hindun masuk dengan menggunakan cadar lantaran takut atas apa yang telah ia perbuat terhadap Hamzah. Dia khawatir kalau-kalau Rasulullah akan membalas perbuatannya. Hindun berkata, “Wahai Rasulullah, segala puji bagi Allah yang telah memenangkan agama yang telah dipilih-Nya sehingga bermanfaat bagiku. Semoga Allah merahmatimu wahai Muhammad. Sesungguhnya aku adalah wanita yang telah beriman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya.” Setelah itu, Hindun membuka cadarnya seraya berkata, “Aku adalah Hindun binti ‘Utbah.”

Rasulullah menyambutnya, “Selamat datang untukmu.”

Hindun berkata, “Demi Allah, dahulu tiada seorang pun di muka bumi ini yang paling aku sukai untuk mendapatkan kehinaan melainkan engkau. Akan tetapi sekarang, tiada kaum pun di muka bumi ini yang paling aku sukai untuk mendapatkan kemuliaan melainkan kaummu.”

Nabi pun bersabda, “Dan lebih dari itu.” Kemudian beliau membacakan Al-Qur’an kepada para wanita yang hadir dan membai’at mereka. Hindun berkata di tengah-tengah mereka, “Wahai Rasulullah, haruskah kami menjabat tanganmu?” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

 إني لا أصافحُ النساءَ! إنما قولي لمائةِ امرأةٍ ، كقولي لامرأةٍ واحدةٍ

“Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita. Dan bahwasanya perkataanku kepada seratus wanita sama sebagaimana perkataanku kepada seorang wanita.”

Selanjutnya, Rasulullah bertanya, “Apakah kalian bersedia membai’atku untuk tidak menyekutukan Allah dengan suatu apa pun?”

Hindun menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya engkau telah meminta kepada kami apa yang tidak engkau minta dari kaum laki-laki. Kami akan menerima dan melaksanakannya.”

Kemudian Nabi melanjutkan, “Dan janganlah kalian mencuri.”

Hindun menimpali, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah suami yang bakhil. Apakah boleh bagiku untuk mengambil makanannya tanpa seizinnya?” Maka Rasulullah memberikan rukhshah baginya untuk mengambil kurma basah dan tidak memberikan rukhshah untuk mengambil kurma kering.

Rasulullah melanjutkan, “Dan janganlah kalian berzina.”

Hindun menjawab, “Mungkinkah seorang wanita merdeka berzina?”

Nabi melanjutkan, “Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian.”

Hindun berkata, “Sungguh kami telah memelihara mereka sejak kecil. Kemudian kalian telah membunuhnya di perang Badar tatkala mereka telah dewasa. Maka engkau lebih tau akan hal itu begitu pula mereka (para sahabat).” Maka ketika itu, ‘Umar bin Khattab tertawa mendengar pernyataan Hindun tersebut, hingga lama sekali.

Kemudian Rasulullah melanjutkan, “Dan janganlah berbuat dusta yang diada-adakan antara tangan dan kaki kalian.”

Hindun menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya kedustaan itu amatlah buruk.”

Nabi melanjutkan, “Dan janganlah kalian mendurhakaiku dalam urusan yang baik.”

Hindun menyahut, “Tidaklah kami akan duduk di majelis ini jika hendak mendurhakaimu dalam perkara yang ma’ruf.”

Begitulah sikap Hindun di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan kepribadiannya yang kuat dan keimanannya yang tulus, ia berdialog dan bertanya serta mengulang-ulangnya.

Tatkala Hindun pulang ke rumahnya, ia langsung menghampiri patung-patung dan menghancurkannya dengan sebuah kapak yang besar hingga berkeping-keping seraya berkata, “Dahulu kami tertipu olehmu… Dahulu kami tertipu olehmu…”

Hari-hari berlalu dan semakin bertambahlah pengetahuan Hindun dalam masalah keimanan sehingga membawa dirinya untuk berjihad menyertai kaum muslimin. Beliau bersama suaminya, Abu Sufyan, ikut serta dalam perang Yarmuk yng terkenal itu hingga beliau mendapatkan luka yang serius. Beliau juga memompa semangat kaum muslimin untuk memerangi Romawi dengan mengatakan, “Percepatlah kematian mereka dengan pedang kalian, wahai kaum muslimin!”

Hindun juga turut meriwayatkan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula putra beliau Mu’awiyah meriwayatkan hadits dari beliau dan ‘Aisyah Ummul mukminin radhiyallahu ‘anha.

Pada tahun ke-14 Hijriyah, beliau wafat. Mu’awiyah menggambarkan ibunya, “Sesungguhnya di zaman Jahiliyah beliau memiliki kewibawaan. Begitu pula di zaman Islam beliau memiliki kemuliaan yang tinggi.”

Artikel muslimah.or.id
Repost Ngaji Sunnah 

Sumber:
Diketik ulang dari Mereka Adalah Para Shahabiyat (terjemah), karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, dan Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, penerbit At-Tibyan, Solo, 2005, hal. 213-220.

Share:

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

LISTEN QURAN

Listen to Quran

Popular Posts

Blog Archive

Recent Posts

Pages